Meski diriku tahu, “Jika disuruh memilih antara orang yang engkau cintai atau orang yang mencintai dirimu. Maka pilihlah orang yang mencintai dirimu. Karena dirimu tinggal belajar mencintai orang tersebut.” Tapi menurutku tidak! Aku menolaknya! Itu adalah paradoks bodoh yang tidak berujung. Jika seseorang tidak ada yang mencintai orang lain, maka tidak ada orang yang merasa dicintai.
~ ReeShiragami
Arsip Penulis: ReeShiragami
Diproteksi: 君を泣かすから、そう君を泣かすから。
???? ???? : It Will be Continue?
Di suatu tempat yang tampak familiar. Angin berhembus mengibaskan poniku. Meski rambutku terbilang pendek, ini cukup menggangguku biasanya. Tapi disisi lain aku tidak memiliki pilihan lain. Membiarkan mereka bergoyang sesuai arah angin berhembus.
Katakanlah saat ini adalah sore hari. Langit ditutup mendung, tapi kamu bisa merasakan senja sedang menyingsing di atas sana. Seperti seseorang yang berusaha menutupi segala kesalahannya. Tetap saja apa yang sebenarnya ‘ada’ pasti ‘kan terasa. I know there’s something but i can’t prove it.
Sebuah taman. Sebuah pemandangan masa lalu. Sebuah bangku dan lampu taman.
Aku pernah melihat seseorang duduk di sini. Seorang remaja lelaki. Tidak seperti pengunjung taman yang lainnya. Dia sama sekali tidak peduli hal-hal yang disekitarnya. Saat itu, langit berwarna biru sejauh mata memandang. Pengunjung lainnya tampak menikmati hari yang cerah itu bersama orang-orang yang disayanginya.
Tapi, remaja itu tidak. Dia duduk di bangku taman seorang diri. Tanpa siapapun yang menemaninya. Layaknya seseorang yang tidak ingin didekati siapapun, dia benar-benar tak menghiraukan hal yang ada di sekelilingnya. Kedua mata dan tangannya fokus pada buku yang sedang ia tulis. Itu terlihat mengesankan untuk seumurannya. Menjadi seorang penulis.
Apakah aku mengenalnya? Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya lagi.
Dia adalah remaja yang langka untuk saat ini.
Itu adalah gambaran nostalgiaku. Sudah berapa tahun, ya? Seharusnya baru dua tahun semenjak kejadian itu.
Sekarang remaja lelaki itu duduk di tempat yang sama. Di bawah semilir angin mendung senja ini. Seperti dulu, dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Perhatiannya fokus pada buku yang berada di tangannya. Ia tampaknya sedang membaca sebuah buku.
Aku tersenyum tipis. Dua tahun berlalu dan dia masih saja sama seperti sebelumnya.
“Efta!” sapaku pelan. Dia menoleh. Terkejut memperhatikanku.
“Ah! Kamu ngapain di sini?” jawabnya terbata-bata. Menutup bukunya.
Aku menyeringai tipis. “Memangnya tidak boleh kah aku berada di sini?”
Remaja lelaki itu terdiam. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apakah kamu masih menulis sebuah buku. Efta?” tanyaku dengan nada penasaran.
Remaja yang kupanggil Efta itu kemudian mengatakan. “Aku masih menulis. Hanya saja waktu kuliah ini aku semakin jarang. Yah. Karena aktivitasku yang begitu padatnya juga.”
Sesuatu yang ada di dalam dirinya sampai saat ini pun masih sama seperti dulu. Dia tidak bisa berbicara dengan seorang perempuan tanpa berbelit-belit ataupun kaku. Entah kekurangan atau kelebihan. Tapi itu adalah hal yang unik darinya.
Lelaki di depanku itu tiba-tiba berdiri dari duduknya. “Kamu kelihatannya lelah. Silakan duduk.”
Aku tertawa kecil. berjalan ke bangku taman tersebut. “Sebenarnya kamu nggak usah repot-repot seperti itu.”
“Bagaimana bilangnya, ya.” Efta terdiam sebentar. “Semenjak pembicaraan kita waktu perpisahan dulu. Aku merasa jika kamu bagaikan sebuah ‘hantu’.”
Aku menatapnya tidak mengerti. Lagi-lagi Efta mengatakan hal yang berbau kiasan atau semacamnya. “Aku tidak paham. Maksudmu?”
“Yah. Bukan ingin menyinggung perasaanmu. Tapi keberadaanmu sungguh berada di posisiku yang tidak terduga. Terkadang muncul dan itu membuatku sedikit takut. jujur saja.” jelasnya sambil menatap ke bawah. Seperti menyesali ucapannya barusan.
Aku tertawa kecil. “Maaf-maaf. Jadi menurutmu aku ini bagai seorang ‘hantu’? Ah. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Tenang saja.”
Kami terdiam sejenak satu sama lain. Dia menatapku lamat-lamat dengan tatapan yang terasa hampa. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya, tapi itu sangatlah berbeda daripada Efta dulu. Seakan ada kesedihan yang menumpuk dibalik kedua mata itu. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh remaja ini. Aku bisa merasakannya.
“Asniefta, apakah kamu baik-baik saja?” ucapku dengan sedikit khawatir padanya.
Dia menggeleng pelan. “Aku tidak tahu…. Sebenarnya aku tidak pernah membicarakan ini kepada teman-temanku yang satu kampus denganku.”
“Masalah itu Eira lagi?”
Dia mengangguk kali ini. Anggukannya begitu pelan sehingga aku saja tidak sadar jika dia mengangguk.
Aku tertawa kecil. “Sudah tiga tahun semenjak itu terjadi. Kamu memutuskan untuk menyimpannya rapat-rapat di hatimu. Memangnya apakah kamu tidak berkenalan dengan teman kuliahmu sekarang?”
Laki-laki itu mengalihkan pandangannya. “Tentu saja aku berkenalan dengan mereka.” Menghela napas. “Tapi jujur saja, aku merasa tidak begitu nyaman berada di sekeliling mereka.”
Yah. Banyak dari temanku merasa seperti itu juga. Menurutku itu fenomena umum mereka yang tidak bisa move on dengan kehidupan SMA-nya. Bahkan aku sebenarnya di waktu tertentu merindukan masa-masa itu. Kehidupan yang kita bisa tertawa di antaranya. Kehidupan di mana kesibukan bukanlah hal yang begitu mengikat seperti sekarang. Meski sekarang aku telah beradaptasi dengan perkuliahan ini, tapi tetap saja. Di waktu-waktu tertentu aku ingin kembali menjadi seorang siswa SMA.
Angin berhembus. Menggoyangkan rambutku. Membuatku tersadar jika kami telah berdiam diri satu sama lain. Suasana ini terasa canggung. Aku harus segera mencairkannya-
“Sudah musim gugur saja, ya?” Asniefta melanjutkan perbincangan. Dia mendongak ke atas. Langit terlihat mendung tapi di beberapa titik aku melihat semburat warna jingga senja yang keluar dari awan gelap. Itu terlihat fantastis.
Aku menjawab. “Sekarang baru masuk bulan Oktober, sih. seharusnya masih akhir musim panas.”
Lelaki itu menggeleng. “Faktanya, karena iklim sekarang tidak menentu. Patokan musim sekarang juga sudah tidak berarti lagi.” Terdiam sejenak. Mengatur napas. “Bahkan beberapa tahun lalu., di saat kita karya wisata bersama. Hari ini masih termasuk pertengahan- akhir musim panas.”
Terkejut. Aku langsung mengecek tanggal hari ini di ponselku. Hanya menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Asneifta memanglah benar.
“Aku tidak berpikir kamu akan mengingatnya sebegitu detailnya, Efta.” timpalku terhadap pernyataan barusan. “Atau kamu mengingatnya karena hal lain?”
“Kupikir kamu bisa menebaknya.” Dia menyeringai tipis. “Aku tidak akan bisa melupakan hari itu. Suara ombak yang datang silih berganti. Desir angin yang selalu berbisik. Ledakan dari kembang api yang selalu bersahut-sahutan.”
Aku terdiam. Entah kenapa tiba-tiba aku membayangkan saat itu juga.
[Special October Post!!]
Sebenarnya aku sudah tidak ingin membahas ini dan melanjutkan proyek baru. Tapi karena masih saja banyak orang yang menanyakan plot hole yang ada di dalam novel ini, jadi aku ingin membagikannya secara terpisah dari novel fisiknya. Nantinya dicetakan 2.0 bagian ini akan ikut serta meramaikan After Story dari It’s All About You. Meski aku belum terencana kapan, tapi akan kuusahakan secepatnya!
Diproteksi: [Secret 04] Shiragami as Asniefta or Asniefta as Shiragami ?
Diary 16 : 「雪の花」Bunga Salju
Di suatu tempat. Entah itu akan membuat kalian terbanyang ataupun tidak. Tersebutlah sebuah sebuah padang rumput yang tenang nan hangat. Sepanjang mata memandang, mereka akan menemukan hamparan hijau dan di beberapa sisinya akan terlihat pohon pinus yang menjulang tinggi. Selebihnya itu hanyalah awan dan langit biru yang terhampar luas.
Para pengelana yang melakukan perjalanan datang silih berganti di tempat ini. Mereka menetap sementara, bermalam, lalu pergi. Beberapa orang yang suka dengan tempat ini akan menanam sebuah tanaman ataupun bunga di hamparan rumput ini. Berharap suatu saat nanti hamparan rumput ini menjadi hamparan bunga. Atau setidaknya memperindah tempat ini.
Seiring berjalannya waktu, bunga-bunga terus-terusan bertambah. Menghiasi sebagian tempat ini. Pemandangan menjadi lebih indah di tiap waktunya.
Hanya saja, suatu keajaiban salju turun di sini. Padahal tidak pernah ada sejarah salju turun di tempat ini. Perlahan salju menumpuk di padang rumput ini. Sedikit demi sedikit bunga-bunga yang telah ditanami, tertutup oleh salju. Sebagian mati membeku. Mengubah padang rumput ini menjadi sebuah gurun salju sejauh mata memandang.
Terlihat cantik. Hanya saja-
Salju tidak pernah berhenti turun sejak itu. Membuat daerah tersebut layaknya telah berubah menjadi sebuah daerah yang berada di kutub.
Jarum jam terus berputar. Hari terus berganti. Bulan datang silih berganti. hingga beberapa tahun telah terlewati. Tiada keajaiban di tanah itu. Selain hanya salju yang terus menumpuk. Dingin. Dingin sekali.
Itu bukanlah padang rumput yang hangat dan menenangkan. itu hanyalah gurun salju yang dinginnya saja bisa mencekik seseorang dengan begitu buruknya.
Para pengelana yang mengunjungi daerah tersebut, perlahan mulai berkurang. Hingga tersisa beebrapa orang saja yang mampu melewati daerah tersebut. Tidak ada yang mengambil resiko untuk memahami mengapa padang rumput ini berubah menjadi hamparan salju. Buruk? Sangatlah buruk.
Bertahun-tahun kemudian, seorang pengelana yang telah terbiasa dengan gurun salju ini kembali mendatanginya. Dia hanyalah pengelana biasa. Sebelum pergi, dia mendengar tentang sejarah gurun salju ini. Di mana beberapa pengunjung ‘mempercantik’ kawasan ini dengan menanam bunga ataupun tanaman hias lain. Karena dulu dengan pemandangan padang rumputnya, daerah ini benar-benar indah.
Sang Pengelana tersebut mencoba mengikuti apa yang ada di pikirannya. Mencoba mengulan lagi ‘tradisi’ yang dulu pernah dilakukan di tempat ini. Dia menanamkan sebuah bunga di hamparan salju itu. Dia tidak berharap untuk tumbuh di cuaca ekstrem seperti ini. Karena mustahil juga, ‘kan. Menanam sesuatu di tumpukan salju.
Hanya saja, ketika bunga itu sudah tertanam. Cuaca lebih hangat dari biasanya. Tumpukan salju perlahan menipis. Meski tidak sepenuhnya, tapi itu sudah cukup lebih baik daripada melihat salju yang menumpuk dengan tebal. Bunga itu pun bisa hidup di tenngah gurun salju. Mereka perlahan menjadi lebih banyak setiap harinya. Selalu merambat di sekitarnya.
Beberapa pengelana yang kembali melewati daerah ini, memberi nama bunga ini adalah “Yuki no Hana” atau “Bunga Salju”. Karena dia hidup di tengah-tengah hamparan salju yang dingin. Itu adalah hal yang hampir mustahil. Langit saja tidak memberikan begitu banyak sinar matahari selain hanya mendung, mendung, dan mendung.
Menakjubkan, ya? Mungkin kalian tidak akan percaya.
Pengelana kini mulai melewati lagi daerah ini. Mereka mulai menanam kembali beberapa bunga dan tanaman hias di daerah ini. Meneruskan tradisi yang sempat terhenti beberapa saat. Hanya saja, itu tidak berhasil. Semua tanaman tersebut mati karena salju yang menumpuk. Bahkan ketika mereka menanam ‘Bunga Salju’ itu pun akan segera membeku. Selain ‘bunga salju’ yang ditanam di awal tadi, semua tanaman tidak bisa tumbuh kembali.
Hanyalah bunga salju dan runtutan pohon pinus yang tertumpuk salju yang berada di sana.
Itu adalah sebuah keajaiban. Benar-benar sebuah keajaiban yang pernah terjadi. Membuktikan manusia terkadang tidak dapat berkuasa atas apa yang terjadi. Hanya saja-
Apakah kalian mengetahuinya? Apakah kalian akan percaya tempat seperti itu ada? Tafsirkann sendiri pernyataan-pernyataan sebelumnya untuk menjawabnya.
Karena itu adalah ‘tempat’ yang mungkin tidak akan kamu temukan di peta manapun.
Surai lembut berkibar dengan takut di dalam angin
Apakah kau yang membuatku menjadi lemah?
Diary 15 : Such a Broken Machine
Aku menceritakan seseorang yang etnah kenapa dia menyampaikan padaku. Ini membuatku terdiam sepanjang ceritanya dimulai. Aku tidak paham lagi mengapa bisa begitu. Tapi entah kenapa aku merasa sedikit terinspirasi darinya.
Aku tidak bisa menyebut ini adalah fenomena apa. ungkin kalian bisa membantuku. Ini adalah tentang pertemuan dan perpisahan yang benar-benar tidak tertebak arahnya ke mana.
Dia adalah orang yang pendiam. Seorang anak laki-laki yang pendiam. Dia tidak ingin berinteraksi terlalu dalam dengan orang lain. Kenapa? Karena dia selalu saja mengatakan hatinya bagai sebuah mesin. Bergerak tanpa perasaan. Emosinya hanyalah sebuah akting yang profesional. Hanya saja kutahu dia sebenarnya memiliki perasaan yang nyata ketika sedang jatuh cinta seperti ini.
Dia mengatakan padaku bahwasannya dirinya sebenarnya tidak terlaluu bisa mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan. Terus-terusan mengalah. Menahan egonya untuk orang lain terlebih dahulu. Entah itu nilai tambah atau kurang darinya. Tapi kuharap dia tidak benar-benar melakukan hal seperti itu terus. Seseorang yang tidak peduli dengan dirinya sendiri itu menyakitkan, karena belum tentu orang lain akan peduli dengan dirinya juga.
Jenis orang seperti itu tidak memiliki rasa peduli terhadap pada dirinya sendiri. Tenggang rasa yang tinggi membuat dirinya tidak pernah dirawat dengan baik dalam beberapa kasus.
Tapi serba salah juga sejujurnya.
“Apakah diriku telah mati?” Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak ingin menjawabnya.
Dia adalah sosok yang benar-benar hebat ketika dengan orang lain. Dia tangguh. Bertanggung jawab. Sabar. Nilai tambah seperti itulah yang selalu ada padanya. Hanya saja ketika dia sendirian, dia menjadi sosok yang dingin kembali. Meskipun dia dalam forum, dia bukanlah sependiam itu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sifatnya yang selalu berubah-ubah itu
Seperti yang kujelaskan di awal, dia pendiamm ketika datang. Ketika dia bertemu dengan roang lain dia akan perlahan mencair. Berbaur dengan orang sekitar. Meramaikan suasana. Menambah relasi. Banyak tertawa. Tapi ketika dia berpisah dengan mereka, dia akan menjadi sosok yang dingin kembali. Dia merenungkan banyak hal. Hatinya yang awalnya bergerak dengan sempurna langsung kembali tidak bergerak. Seperti mesin yang rusak.
Dia mengatakan padaku. Senyum yang dia kembangkan adalah palsu. Kebanyakan adalah palsu. Dia tidak akan tersenyum dan memperlihatkan sisi lemahnya kepada semua orang. Hanya beberapa orang tertentu. Itu pun jika dia bisa membedakannya.
Ketika momen perpisahan waktu pulang, dia benar-benar menjadi sosok yang dewasa. Hatinya dipenuhi oleh berbagai perasaan yang perlahan mengeras. Tapi perasaan itu akan terurai oleh es yang menutupinya. Lama-kelamaan dia akan tidak bisa lagi merasakan yang sebelumnya telah ia rasakan. Itu sungguh terjadi.
Ini bukan mental illness biasa menurutku. Ini adalah tanda “SOS” untuk orang yang masih ingin hidup.
Dia memiliki relasi? Banyak.
Dia bisa bersosialisasi? Bisa.
Dia bisa berbicara dengan orang? Bisa.
Dia bisa menjadi penanggung jawab? Bisa
Tapi apakah dia merasakan perasaannya sendiri? Mungkin tidak.
Dia menangis saat itu juga. Dia ingin kembali normal. Hanya saja kusadari dia masih bsia menitikkan air mata kepada orang lain. Dia bisa jujur jika dirinya tidak mampu lagi menahannya. Setidaknya ada sedikit sisa perasaannya yang bisa dia curahkan kedalam air mata.
Menyadarkan diriku, apakah aku dapat menangis kembali?
Dialogue 00 : Even If You No Longer Remember
Dikatakannya, “Di kota yang tiada aku. Jatuh cintalah.”
Aku menggeleng, “Di kota yang tiada dirimu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.”
Jadi ini sebenernya kategori baru dariku lagi. Aku kyknnya udah cukup tua buat berkeluh kesah di tulisan yang panjang. Tulisan kayak gini semoga dapat berguna di suatu saat nantinya.
???? ?? : Character Development (?)
Kapan terakhir kali aku menulis disini untuk kalian. Itu sudah lama sekali nampaknya.
Maaf. Mungkin itu saja yang bisa kukatakan kepada kalian. Untuk kali ini aku hanya ingin mengatakan beberapa hal yang entah akan kalian lakukan ataupun kalian hanya baca dengan sekilas.
Pernahkah kalian merasa berkembang dari waktu ke waktu? Semisal kalian merasa diri kalian yang dulu adalah naif sekali. Bahkan 10 hari yang lalu dari kalian mungkin akankah kalian merasa sudah naif? Lalu, kalian merasakan yang entah bagaimana sekarang sifat anda sangat dewasa sekali. Seolah dalam hitungan waktu kalian telah berubah dari segi pemahaman anda.
Mungkin itu adalah gambaran dari ‘Character Development’. Aku tidak bisa terlalu menjelaskannya lebih lanjut, hanya saja itu terus-terusan menggangguku beberapa hari terakhir.
Karena ini aku akan berbicara sebagai Adam Abdi Gusti, mungkin aku akan sedikit menyinggung beberapa hal yang terjadi.
Karena saat ini aku telah beranjak kuliah mungkin aku lebih bisa bebas untuk melakukan apa pada waktuku yang luang. Lebih bebas daripada di rumah. Meski sebenarnya tidak menyenangkan juga. Intinya ketika hidup sendiri di kamar kost adalah pertaruhan. Ketika anda memiliki kebiasaan yang baik, anda akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.
Seperti mungkin ketika anda pada akhirnya bisa konsistensi atas perilaku yang baik. Sama layaknya yang pernah anda lakukan di rumah dulu. Meski kamar kost anda telah terasa seperti rumah karena di dalamnya kamu impor kegiatan-kegiatan positif di rumah. Nyatanya, di luar tidak seperti itu.
Yah, aku tahu. Aku adalah orang yang selalu memiliki idealis jika berhubungan dengan lingkungan yang baik. Seperti, aku cepat tidak setuju atas segala sesuatu yang memungkinkan pada kedua gender yang berbeda berinteraksi melebihi batas sewajarnya. Itu adalah permisalan yang cocok.
Di lingkungan baru seperti ini. Aku benar-benar berusaha melindungi diriku dari sesuatu yang ‘bukan diriku’. Alasanku sederhana saja, “Karena Aku tidak akan melakukan hal seperti ini.”
Ketika aku melakukannya, itu bukanlah aku.
Tapi tetap saja. Ketika kalian menatap jauh ke dalam kegelapan. Kegelapan akan menatap kita kembali. Mengartikan, sesuatu yang buruk bisa memengaruhi kita jika kita masih saja berada di dekatnya. Meski secara tidak langsung. Perlahan tapi pasti. Kita bisa saja menjadi bagian dari mereka.
Aku masih ingin seperti ini. Sungguh.
Aku tidak ingin beranjak sedikitpun dari character development ini. Selain menjadikannya lebih hebat. Aku benar-benar tidak mau beranjak pada sifatku ini. Tidaklah sebuah pilihan ketika kamu telah menemukan sesuatu yang baik lalu mebuangnya karena merasa sesuatu yang buruk itu lebih baik. Hanya orang yang dipenuhi dengan nafsu duniawinya.
Meski beberapa hari terakhir aku selalu terusik untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Aku benar-benar ingin menjaga diriku sendiri. Sungguh.
Aku tidak mungkin mengikuti yang lain ketika tidak menutupi aurat yang ‘diremehkan itu’.
Aku tidak mungkin juga mengikuti mereka yang tidak menjaga hubungan mereka dengan sang pencipta mereka sendiri.
Hanya saja, menjaga api kecil lilin di tengah hempasan angin itu sulit sekali.
Teruntuk siapapun yang membaca ini. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Tapi aku yakin, suatu saat nanti ada kalanya jika sifatku ini akan menjadi sebuah karang yang tidak dapat terhancurkan. Bahkan jika sekalipun itu menyakitkan atau harus ada harga yang kubayar. Aku akan memegang prinsip ini.
Prinsip yang sedari dulu telah kupercayai dan selalu kulakukan ketika SMA. Prinsip dimana aku bisa tertawa lega karenanya. Prinsip dimana aku bisa menyakiti jika ‘mereka’ benar-benar ingin disakiti. Prinsip dimana aku akan bersikap loyal kepada mereka yang telah memercayaiku.
Ah, mungkin seperti ini saja pernyataanku.
Aku adalah aku. Seperti yang kalian kenal dulu. Aku akan megorbankan apapun agar sisiku yang dulu akan tetap ada dan tidak akan pernah berubah. Jika perlu aku mengorbankan suaraku untuk menjadi lebih ‘sempurna’ daripada yang dulu. Meski itu terasa sedikit menyakitkan, tapi harga yang pantas untuk melindungi sebuah idealisme yang telah kupercaya.
