Hai, Para Pembaca sekalian.
Untuk sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya dikarenakan jarang sekali menambahkan konten untuk blog ini. Beberapa bulan terakhir adalah hal yang diabolic untuk dibahas dan dijalani. Karena pada akhirnya selesai, jadi aku memutuskan untuk menulis hal random lagi — selain menulis novel.
Untuk saat ini, saya akan menafsirkan puisi atau syair klasik yang terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Mengapa tiba-tiba aku ingin menafsirkan puisi? Yah, karena ini menyenangkan saja bisa mengerti apa yang dituliskan pujangga ke dalam kata-kata. Seperti seorang pujangga tidak selalu mengatakan “Aku mencintaimu”, tapi dia akan mengatakan “Andaikan dirimu adalah sebuah mawar. Maka aku adalah satu-satunya orang yang akan menerima semua duri-durimu”. Bahasan yang penuh kiasan dan metafora adalah hal yang menarik untuk dibahas, bukan begitu?
Jadi pada hari hujan bulan Juni ini aku akan mempersembahkan analisisku mengenai puisi seorang sastrawan yang bernama Sapardi Djoko Damono dengan Judul ‘Hujan Bulan Juni.’
Berikut adalah puisinya.
Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Pada beberapa tahun lalu, aku sempat membaca puisi ini. Aku tidak terlalu paham sebenarnya kenapa puisi ini benar-benar berkesan bagi banyak orang. Kupikir hanyalah orang yang memiliki jiwa sastra yang tinggi bisa menafsirkannya. Seperti orang-orang dewasa yang memang berkiprah dalam dunia tersebut.
Hingga pada bulan Juni ini, aku masih tiba-tiba penasaran pada satu puisi ini. Mungkin aku bisa menafsirkan apa yang dimaksudkan Sapardi Djoko Damono pada puisi ini. Dan ternyata, ketika aku memulai paham dengan isinya aku tertegun dengan apa yang coba beliau sampaikan.
Pada bait pertama :
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Di sini, Bapak Sapardi menuliskan bahwa Hujan pada bulan Juni itu hal paling tabah. Sebelumnya, kenapa ini menyorot fenomena hujan pada bulan Juni? Karena pada negara Indonesia, bulan Juni di sana telah memasuki musim kemarau. Sehingga hujan akan jarang atau sama sekali tidak turun pada bulan tersebut. Nah. Di sini beliau menuliskan bahwasannya hujan bulan Juni itu paling tabah. Tabah seperti apa?
Menurutku, yang disebut dengan hujan bulan Juni di sini bukanlah sebuah fenomena alam tersebut. Ini lebih dekat kepada seseorang. Seseorang dengan sifat seperti ‘Hujan Bulan Juni’. Di mana seseorang ini, dia adalah seseorang yang paling tabah. Kembali lagi. Tabah seperti apa? Tabah di sini bermakna sabar. Sabar dalam menunggu gilirannya atau menunggu waktu yang tepat untuknya. Ini tercermin dari fenomena hujan bulan Juni di Indonesia yang di mana terjadi pada saat saat tertentu saja. Atau istilahnya ‘Momen yang tepat’.
Lalu, pada baris selanjutnya dikatakan “dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu“. Ini bermakna bahwa sesuatu yang dilakukan oleh sebuah hujan adalah ‘merahasiakan rindu yang ia simpan kepada pohon berbunga’ itu. Pohon berbunga di sini adalah penggambaran dari seseorang yang dikasihi. Oleh siapa? Oleh seseorang yang digambarkan sebagai ‘Hujan Bulan Juni’.
Bait satu adalah penggambaran dari seseorang yang tabah. Di mana dalam tingkah lakunya, dia hanya merahasiakan ‘rindunya’ kepada orang yang dia sayangi. Alih-alih terus-terusan memperlihatkan rindunya, ia menyimpannya dan itu akan menetap di hatinya.
Bait kedua berbunyi :
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Di sini, saya mulai tertegun dengan apa yang dibuat oleh beliau. Pada bait ini dikatakan bahwa ‘tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni‘. Ini bermakna bahwa seseorang yang digambarkan dengan ‘Hujan Bulan Juni’ adalah seseorang selain tabah, dia juga bijak. Pada baris selanjutnya dijelaskan bahwasanya dia menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu. Apa maksudnya?
Jadi ini menggambarkan ‘seseorang’ yang menghapus jejaknya yang ragu-ragu. Ini lebih kepada menggambarkan ‘seseorang’ tersebut telah mulai menghapus apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Seperti kehadirannya, jejak perasaannya, dan sebagainya. Dia menghapus semua hal yang terasa ragu baginya. Sebagai cara agar tidak membebani seseorang yang telah dirinya rindukan tersebut. Kenapa cara ini dianggap bijak? Karena ‘seseorang’ ini tidak ingin orang yang dia kasihi terbebani oleh perasaan rindu dan cintanya. Meski aku tidak bisa berkata hal tersebut adalah ‘hal yang bijak’. Itu sama dengan frasa modern saat ini, ‘Aku bahagia asal dirimu juga bahagia’.
Bait terakhirnya berbunyi :
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Pada bait ketiga, ini adalah resolusi yang memperlengkap keseluruhan puisi ini. Bagaimana tidak? Di sini dijelaskan bahwasanya segala rindu yang dirahasiakan dan tak terucapkan oleh ‘Hujan Bulan Juni’ itu pada akhirnya tersampaikan pada ‘pohon berbunga’. Seperti seluruh perasaan itu pada akhirnya tidak pernah menjadi perkataan. Tapi makna dari perasaan tersebut pada akhirnya akan tertuju pada dirinya. Sang Pohon Berbunga.
Dari awal sampai akhir, puisi ini menceritakan hubungan seseorang dengan orang yang dikasihinya. Hubungan keduanya seperti penuh dengan ‘melankolis’ di mana seseorang yang digambarkan dengan ‘hujan’ itu seperti benar-benar mencintai seseorang yang digambarkan dengan ‘pohon berbunga’. Si ‘hujan’ tampak tulus dalam mencintai.
Dia tidak ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Dia tidak ingin orang yang dikasihinya memiliki beban dari perasaannya.
Dia tidak ingin memaksa orang yang dikasihinya untuk memilihnya.
Dia juga tidak ingin jawaban lebih dari orang yang dikasihinya.
Dia hanya ingin mencintai.
‘Mencintai dengan sederhana’
