Saat itu…
Langit malam tidak seperti biasanya. Bulan dan bintang tidak terlihat bersinar dari bawah sini. Langit diatas sana hanyalah seperti hamparan karpet yang berwarna hitam. Hanya beberapa kali saja kilatan petir terlihat menyambar dari atas sana. Selain itu, tiada hal lain lagi yang menarik dibahas.
Aku masih ingat. Saat itu….
Angin berhembus kencang. Seakan-akan mereka berlomba lari untuk sebuah kebebasan. Air mata sang langit mulai menetes. Sedikit demi sedikit. Setetes demi setetes. Tiada yang mampu menghentikkan gerakannya jatuh ke tanah.
Pada waktu itu….
Aku baru menyadari jarum jam di pojok sana telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak terasa dua jam lebih aku menghabiskan waktuku di depan monitor laptop yang penuh dengan kosakata-kosakata yang rumit. Kini monitor tersebut telah mati. Tiada lagi cahaya yang keluar dari peranti itu. Laptop berwarna biru itu telah tergeletak membisu di atas meja pojok kelas. Membelakangi jendela kaca yang sedikit terbuka.
Setelah membereskan beberapa hal sebelum tidur, aku berjalan pelan menuju kamarku. Sebagian lampu di bawah sana telah dipadamkan, akan tetapi beberapa orang masih terlihat berhilir mudik dari ujung ke ujung yang lain. Namun, mereka terlihat membisu antara satu sama lain.
Aku menuruni tangga dengan melihat semua hal itu dengan mataku sendiri. Menghembuskan nafas pelan. Lalu mendongak ke langit malam yang penuh dengan awan mendung.
Sebutir air menetes di pipiku. Terasa dingin walau hanya sesaat. Disitulah aku mulai menyenandungkan sesuatu….
“Sayonara, no omoide wo…. Hitomi ni tataete mitsumeru yume…. Tooku kowareteshimau utakata no memory….. Samishisa no namida soutto fukou….”
(Selamat tingal, semua ingatanku…. Kulihat semua itu dalam jauh dalam mimpi…. Ingatan yang lama sangat rapuh dan mulai memudar…. Disaat ku hapuskan air mata kesendirian ini….)
Air yang turun dari atas sana mulai menderas. Namun masih kutatapi langit malam tanpa bulan itu. Melanjutkan senandunganku itu….
“Nobashita te wa kanransha yasashiku torarete…. Mezame souna…. Kioku no kakera…. Utsumuite kiete hoshii to inoru kedo?”
(Engkau ulurkan tanganmu dan memelukku lembut seperti kincir ria…. Kutadahkan kepalaku…. Sekaligus berpikir…. Apakah ingatan ini menghilang begitu saja?”
Sepersekian detik berikutnya langit mulai menangis dengan deras. Suara air yang jatuh di atap besi sana menjadi semakin lebih tak beraturan. Perlahan mulai membasahi pakaianku. Namun aku masih mendongak. Menatap hamparan karpet yang gelap itu….
“Kimi ga mitsukete kureta kono koe wo…. Ugokidashita tokei no hari…. Sekai wa yagate irozuite…. Plastic na kokoro ga kagayakidasu yo…. Wasurenaide…. Oboeteite…. Itsuka mata meguriaueru hi made….”
(Suara yang kamu temukan ini…. Berasal dari detikan sebuah jarum jam…. Yang mewarnai dunia dengan pucatnya…. Kareka itulah aku kilaukan hati plastik ini…. Jangan lupakan…. Ingatlah selalu…. Hingga kita bisa berjumpa kembali….)
Aku lagi-lagi menghembuskan nafas. Bedanya sekarang hujan telah turun. Bersamaan dengan air mataku yang mengawali perpisahan ini.
Dua Puluh Empat Mei itu…. akan selalu kuingat… semoga.
Song? Eri Sasaki – RIng of Fortune (Opening Plastic Memories)
Adam Abdi Gusti, 24 Mei 2022. Ar Rahmat Bojonegoro.
