Saya akan menceritakan sebuah kisah yang dimana itu cukup membuat saya memikirkannya beberapa hari. Ini bukanlah kisah yang penuh dengan petualangan ataupun drama romansa. Ini hanyalah cerita singkat yang sangat-sangat penuh makna. Maka dari itu, saya ingin anda mengetahuinya juga. Baik langsung saja saya mulai.
Di sebuah dunia sihir, hiduplah sepasang suami-istri. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan cocok satu sama lain. Seakan-akan mereka tidak dapat dipisahkan, sebelum ajal menjemput mereka berdua. Benar-benar sepasang suai-istri yang sangat harmonis.
Suatu ketika, sang istri jatuh sakit. Dia tak bisa beranjak terlalu jauh dari tempat tidurnya. Kondisinya sangat parah. Sedikit demi sedikit tubuhnya digerogoti oleh penyakit tersebut. Cerita pun dimulai.
Sang suami tidak tega melihat istrinya hanya berbaring lemah di kasur. Ia merasa iba dikarenakan sang istri sudah tidak bisa melihat keindahan dunia luar lagi.
Maka dari itu, sang suami pun pergi keluar. Berpetualang. Membuat sebuah replika dunia luar menggunakan sihirnya. Dia melakukan semua itu untuk ditunjukkan kepada sang istri yang terbaring lemah di kasurnya.
Mulai dari pegunungan hingga lautan. Mulai dari fajar hingga senja. Sang suami berjuang sangat keras demi membahagiakan istrinya.
Anda tahu? Ini seharusnya menjadi cerita yang normal saja. Akan tetapi….
Setelah berhari-hari sang suami mereplika seluruh pemandangan yang ia lihat. Akhirnya sang suami tersebut pulang untuk menunjukkan replika pemandangan dunia luar kepada sang istrinya.
Saat menunjukkan seluruh pemandangan yang berhasil ia jadikan replika. Sang suami juga menceritakan tentang keseruan-keseruan saat dia berpetualang di luar sana. Sang istri hanya tersenyum mendengarkannya.
Namun, tiada yang dapat menebak bahwasannya senyum tersebut adalah senyum terakhir dari sang istri. Setelah menerima semua kebahagiaan itu, sang istri membunuh dirinya sendiri. Alasannya yang tak lain adalah karena ia tahu, ia tak mampu merasakan kebahagiaan yang suaminya tunjukkan kepadanya.
Sang suami pun hanya memeluk tubuh istrinya yang dingin beserta darahnya yang menetes. Ceritapun berakhir disini.
“Sebuah kebaikan bisa menjadi suatu hal yang amat menyakitkan.” Hanya itulah yang bisa saya simpulkan dari cerita lama ini. Saran saya, jangan terlalu terpaku dengan pemikiran anda sendiri. Pahamilah perasaan orang lain yang akan anda bahagiakan. Itu adalah cerita yang penuh hikayat jika anda memahaminya dengan baik.
Sekian terima kasih.

1 Komentar