Sudah berakhir, ya?
Aku membuka mataku perlahan Di hadapanku sana terdapat beberapa kursi yang berjejer sedemikian rupa. Tapi yang menempati kursi plastik itu baru setengahnya. Tiada lagi yang kuketahui tentang bagaimana nasib ‘kursi yang disediakan tapi tidak digunakan’ tersebut. Yah, walaupun aku lebih suka untuk tidak menghiraukan rasa penasaranku itu, sih.
Riuh, hiruk, pikuk mulai terdengar bersahut-sahutan. Entah mengapa, panggung di depan sana menuai banyak tepuk tangan. Bahkan seolah-olah suara gemuruh itu semua tidak akan bisa surut dalam jangka waktu yang panjang. Intinya, aku tidak tertarik dengan hal itu juga.
Aku menghela nafas. Baru pertama kali ini, aku merasakan nafasku sangat berat sekali. Aku tidak mengeluh ataupun ingin berkeluh kesah. Tapi bagaiana, ya? Terkadang rasanya perasaan dan hatiku itu, selalu dipenuhi sesuatu hal yang berat. Berbohong dan berandai-andai bukanlah sifatku, jadi yang kukatakan semua ini adalah keseriusanku selama ini.
Aku kembali menutup mataku. Layaknya seorang karakter pada film-film yang kutonton, mereka akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang akan menguatkan hati mereka. Jika itu sungguhan terjadi, mungkin aku akan selalu menutup mataku saat perasaanku sedang risau.
Tapi aku adalah aku. Aku terkadang tidak bisa membuat kalimat yang meyakinan diriku sendiri. Maka dari itu aku mulai menggerakkan bibirku.
“Hagureta kimi wo sagashiteta yo… Yobikaketa koe kakikesarete… Boku ga nigirishimeta sono te wa… Furueteita ne….”
(Kucari dirimu yang terpisah dariku… Namun suaraku tertelan oleh gemuruhnya suara keramaian…. Tangan yang selalu kugenggam erat… Kini mulai bergetar….)
Aku membuka mataku. Menarik nafas yang panjang untuk melanjutkan kalimatku sebelumnya.
“Futari no omoi ga… Modosenai jikan… Dakishime… takaku tondekuyo….”
(Perasaan yang kita miliki…. Tak akan terkekang oleh waktu… Jadi peluklah… Dan terbang ke langit….”
Aku menatap panggung itu lagi. Tiada lagi gemuruh tepuk tangan yang mengiringi penampilannya. Disana hanya ada seorang pria paruh baya yang sedang berbicara melalui microphone yang telah disediakan. Menatap sekilas, lalu menutup mataku kembali.
“Mangekyou sora ni kirameite…. Kimi ga gikochinaku hohoendete… Itoshisa afureteyuku…”
(Sebuah kaleidoskop bersinar di langit… Seperti senyumanmu yang kaku itu… Dipenuhi oleh rasa sayang…)
Kali ini aku tidak akan melakukan suatu hal lagi. Karena inilah bagian terakhir dari kalimat yang kuingat untuk penguat hatiku.
“Hikari ga toketeku sono mae ni… Kokoro kara negaunda… Kono shunkan wo… Towa ni wasurenai you ni to…”
(Sebelum cahaya tersebut memudar… Aku memohon dari hatiku… Agar momen indah ini…. Tidak akan terlupakan dalam hidupku…)
Selesai.
Tetesan air mata yang keluar, kuusap dengan jas berwarna hitamku.
Song? Asami Imai – Asayake no Starmine (Ending Plastic Memories)
Adam Abdi Gusti, 1 Juni 2022. Ar Rahmat Bojonegoro.
