Aku tahu ini sangat membosankan.
Jika kehidupanku dirunut dari awal kisah ini bermula, aku hayalah seorang anak yang berusia 14 tahun yang mengalami apendisitis di semester ke 5 sekolah menengah pertama. Yah, teman-temanku tidak peduli tentang ku saat ini. Bahkan mereka menganggapnya hanyalah sebuah kejadian biasa. Tidak ada keseriusan dalam pembahasan ini. Alih-alih kasian, mereka malah menganggapku sebagai lelucon.
Setidaknya itulah yang terjadi setahun yang lalu. Pada waktu itu aku hanya berharap untuk mati saja. Tiada lagi tempat untukku di dunia ini. Percayalah, kamarku selalu terdengar isak tangis setiap malamnya.
Tapi waktu itu sebuah notifikasi terdengar dari ponselku. Walau aku acuh tak acuh dengan notif itu, tapi aku tetap membukanya dengan berharap kehidupanku berubah.
Kalian bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Itulah kalimat pertama yang mengkhawatirkanku.
Aku sebenarnya menganggap bodoh semua kalimat itu. Tapi, dia adalah seorang yang tulus yang mengatakan itu kepadaku. Aku… aku tak mengerti…. Mengapa dia berbicara kepadaku? Mengapa dia mengasihaniku? Bukankah semua orang membenciku? Menganggapku sebuah Lelucon?
Hubungan diantara kami seiring berjalannya waktu semakin mendekat. Tidak terpikirkan olehku untuk dapat bertemu dengannya selama ini.
Pukul 14.30, Tepatnya Sepulang Sekolah
Aku mengamati lapangan itu. Banyak orang yang berlalu-lalang disana. Aku bertanya-tanya, mengapa dia masih belum menampakkan tubuhnya yang mungil itu? Akan tetapi ternyata aku sudah menemukan jawabannya sebelum aku mencoba bertanya padanya.
Dia bergandengan tangan dengan seorang lelaki yang sangat asing bagiku.
Itulah akhir dari kisah singkat ini.
