Diary 03 : Sometimes…

“Ketika anda perlahan melewati saya dengan angkuhnya, saya hanya terkekeh pelan sambil menepuk kedua telapak tangan saya. Saya lalu hanya mengatakan, “Saya selalu berada di depan kalian, bodoh!”.”

~ReeShiragami a.k.a A. Gusti

Yah, akhir-akhir ini saya dipenuhi oleh beberapa tugas yang datang bagai air bah. Tidak tahu kapan akan berakhir. Ya, saya berharap hal seperti ini tidak berakhir sih-

Akan tetapi selalu sibuk setiap hari bukanlah keinginanku, apalagi keinginan siswa-siswi yang tengah berjuang diluar sana. Pokoknya semangat untuk kalian yang berjuang dengan suasana yang baru sepertiku ini. Walaupun saya mati-matian agar bisa produktif seperti ini, akan tetapi masih sulit bagi saya untuk menyelaraskan waktu seperti yang saya inginkan. Maksud saya seperti waktunya belajar malah tertidur kelelahan. Ya, pokok intinya seperti itu.

Akan tetapi disaat produktif seperti ini saya mulai berpikir tentang sesuatu. Apakah saya selama ini adalah alat?

Jika saya melihat dari segi subjektif teman saya, saya memanglah alat bagi teman sekelas saya. Namun, saya hanya menolak kebenaran itu. Saya menolaknya karena… saya tidak merasa seperti itu. Walau secara objektifnya benar-benar seperti itu. Intinya saya bukanlah alat, saya juga manusia.

Akan tetapi setelah beberapa kejadian saya mulai menyadari beberapa keanehan dalam diri saya tentang makna ‘alat’ disini.

Saya memutuskan untuk membalaskan hal ini. Apakah kalian tahu? Alat adalah sesuatu yang dimanfaatkan. Akan tetapi bagaimana teori itu kita balik. Alat lah yang akan memanfaatkan penggunanya? Jika itu yang terjadi, saya dapat merekayasanya.dan memegang penuh atas seluruh permaian yang terjadi di atas.

Seseorang pernah berkata kepada saya, “Hidup itu seperti catur. Anda dapat menjadi pemainnya ataupun hanya akan menjadi bidaknya.”

Jika hal itu benar-benar saya terapkan, seorang pemain hanya akan fokus kepada ratu dan raja miliknya sendiri. Yang bsa kita artikan adalah keinginan kita atau keberadaan kita. Akan tetapi menariknya disini, kita akan mengorbankan seluruh bidak yang kita miliki hanya untuk melindungi raja atau ratu kita.

Jadi… akankah itu terjadi?

Jika itu benar-benar terjadi seharunya kalian yang membaca tulisan ini berwaspadalah. Hidup adalah tentang pemain ataupun bidak. Jika anda lengah, anda akan mendapat peran bidak dengan mudahnya. Akan tetapi, ada 1001 jalan untuk kita mendapatkan peran pemain. Jadi selamat mencoba~

Dua langkah kedepan adalah jawaban, jadi anda harus mempersiapkannya dari sekarang. Banyak kemungkinan dan pertanyaan untuk menemukan jawaban itu. Jadi, semangatlah, untuk menjadi seorang bidak.

Tinggalkan Komentar