Diary 04 : A Little Mail from Another Myself

“Manusia dikutuk untuk bebas.”

~Jean Paul Startre

Kepada yang ditujukan untuk otousan atau okaasan yang berada di belahan bumi yang jauh sana. Ah, mungkin teruntuk juga oneesan yang selalu mengawasiku disaat aku masih kecil.

Pertama-tama saya ingin berterima kasih atas perhatian anda dengan membuka link ini. Saya bukanlah orang yang terlalu mengatakan semua apa adanya. Maksud saya, saya bukanlah orang yang terlalu berterus terang kepada siapapun. Termasuk kepada anda-anda semua. Saya hanyalah orang yang menahan segalanya seorang diri. Jadi terimakasih sekali untuk kalian yang membuka link ini. Sungguh.

Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin berterus terang bahwasannya saya pernah megatakan bahwasannya, “Perasaan ketika diucapkan atau dituliskan kedalam kata-kata akan kehilangan subjektivismenya.” Yah, mungkin saya terlalu bodoh waktu itu sehingga membuat kata-kata yang sok keren itu. Saya hanya bermaksud,untuk “Perasaan adalah hal yang sebaiknya disimpan saja, dikarenakan perasaan sesungguhnya tidak akan bisa diubah menjadi kata-kata”

Tapi kali ini, saya membuang hal itu dari benak saya untuk sementara.

Intinya, saya selama ini hidup dengan topeng yang bernama kepribadian. Saya bukanlah seorang yang periang. Saya bukanlah seorang yang aktif. Saya bukanlah orang yang sangat teramat optimis dengan saya sendiri. Intinya saya bukanlah orang yang seperti ini. Tapi… jika aku tidak begini aku tidak bisa hidup. Maka dari itu, saya suka memakai topeng ini. Tapi, tolong pahami… saya diri saya bukanlah seperti ini. Saya bahkan tidak mengenal diri saya sendiri… Bukankah itu cukup menyedihkan?

Saya sudah lelah… Tidak ada kata-kata yang mungkin bisa menggantikan kalimat itu. Saya lelah. Saya lelah. Dan saya lelah. Apakah kalian mengerti? Saya lelah. Akan tetapi ketika saya beristirahat, tiba-tiba semua memalingkan muka dari saya. Itu… cukup menyakitkan.

Saya lelah tapi saya tidak memiliki pilihan. Maka dari itu saya menjadi sosok sempurna yang berpura-pura kuat. Apakah kalin tahu? Itu melelahkan…. Alhasil saya selalu mengatakan, “Ah, tidak apa-apa.”

Orang-orang disekitar saya menyukai pertunjukan topeng saya. Keluarga saya juga demikian. Saya… tidak tahu apalagi yang harus saya lakukan…

Saya ingin mendapat ucapan, “Kamu telah menjalani hidupmu dengan hebat. Lanjutkanlah! Kamu adalah sosok yang hebat. Pilihanmu selama ini tidak akan mengecewakanmu. Berjalanlah dan nikmatilah perjuanganmu itu!”

Bahkan jika itu keluar dari salah satu teman saya, rasa-rasanya tidak mungkin.

Saya hanya ingin mendapat pujian seperti itu… Sangat ingin… Pahamilah saya bukan orang kuat yang selalu menahan semua seorang diri… Saya hanyalah sebuah remaja biasa yang jatuh di lubang keputusasaan. Bahkan saya tidak mengetahui lubang itu sendiri.

Mungkin cukup sekian dari saya. Terima kasih untuk waktunya. Saya sisi lain ReeShiragami mengucapkan selamat tinggal. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi… Semoga.

~Another Side of ReeShiragami.

Tinggalkan Komentar