Cerita dimulai pada kehidupan baru aku. Setelah lepas dari jeratan tali yang mengikat leher aku sedari lama, akhirnya aku merasakan sebuah kebebasan. Akan tetapi alih-alih menjadi seekor burung yang bebas terbang di atas sana, aku malah terjatuh kedalam sebuah lubang yang tidak tahu kapan akan berakhir.
Disaat aku memikirkan hal itu, aku mulai menyadari bahwa tangan saya berhenti menari diatas keyboard.
“Apakah masa depan masih ada?”
Aku tidak dapat menggambarkan ekspresiku saat itu. Sungguh, aku sama sekali tidak bisa membayangkan ekspresiku sendiri. Mengapa, mengapa hal ini terjadi padaku ‘lagi’?
Lupakanlah, cerita di atas. Mari kita memulai awal yang baru. Yah, ini bukanlah imajinasiku belaka. Tapi aku sangat berharap jika suatu saat nanti tujuan ini berhasil
Liburan semester membuatku hanya mengurung diri di kamarku. Alih-alih menikmati liburan dengan ‘sepantasnya’, aku malah menghabiskan liburan dengan menatap layar monitar terus-terusan. Tanpa mengagendakan apapun dalam kalender yang tergantung di pojok kamar sana.
Sembari melanjutkan ketikanku sebelumnya, aku mulai menata fantasiku untuk menulis hal itu lagi. Tanganku meraih seonggok ponsel yang berada di samping laptopku, membukanya lalu tersenyum melihatnya. Lalu kembali lagi melihat layar monitar yang terpampang banyak sekali kalimat yang abstrak.
Sungguh. Aku tidak menyadari apa yang terjadi padaku waktu itu. Aku merasa ada hal yang aneh padaku. Tidak bisa kupungkiri, hal itu lama-kelamaan mengganggu diriku secara pribadi. Tapi aku tahu, kutukan itu selalu mengikutiku dimana pun aku berkelana dalam kehidupan ini.
Sedikit demi sedikit aku mulai menyelasaikan bagianku, dan dia juga melaksanakan tugasnya dengan baik. Itu sangat jauh dari perkiraanku. Bukan bermaksud meremehkannya, aku bersyukur dia ada untuk membantuku. Jujur aku merasa agak senang karena salah satu impian kecilku yang tak mungkin tergapai kini telah terwujudkan dengan sangat bagus sekali.
Sampai suatu ketika aku berani menatap matanya, aku tidak tahu warna apa iris matanya itu. Tapi pola matanya jujur, itu terlihat menawan untuk sosoknya. Apalagi teruntuk kepribadian menulisnya. Itu jauh dari sosok yang kubayangkan sebelumnya. Aku pun tersenyum kecil untuk menghargainya.
Tapi mungkn benar, beberapa kejadian tidak bisa seperti yang aku harapkan. Jadi aku malah tidak bisa mengerti apa yang dia mau ataupun sebaliknya. Sungguh minta maaf untuk hal itu. Tapi tolong baca kata-kataku ini, anda mungkin terlalu berharga untuk orang seperti saya. Mohon untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dengan saya.
Akan tetapi, aku bukanlah tipikal orang yang terus-terang. Oleh karena itu aku tidak ingin menyakiti perasaannya dan mengikat komitmen yang telah kuberikan selanjutnya. Untuk saat ini dan seterusnya…
Akan tetapi apakah aku berharap lebih? Ah, tapi aku tidak berharap apa pun selain menyelesaikan proyek ini. Bukan begitu, Partner?
今、会えた空で、君が笑っていた。
Sekarang, di langit dimana kita bertemu, kau terlihat tersenyum
胸が叫び出したんだ。瞼からあふれた。
Hatiku mulai berteriak. Air mata meluap dari kelopak mata.
今、会えた空は、息が届く距離で。
Sekarang, di langit dimana kita bertemu, dalam jangkauan nafasku
言葉叫ばなかった。目と目見つめ返した。
Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya memandangmu dari mata ke mata.
LilaS – SawanoHiroyuki[nZk]:Honoka Takahashi
