Diary 05 : “Saya Ingin Mati”

“Saya ingin mati”

“Apakah kau yakin menginginkannya?”

“Saya pikir, menghilang dari dunia dengan arti benar-benar menghilang adalah mati. Oleh karena itu saya menginginkannya.”

“Mungkin kau hanya ingin lebih diperhatikan?”

“Saya sudah muak dengan dunia ini. Perhatian dunia adalah hal terbodoh yang pernah saya rasakan.”

“Tapi kau terlihat senang saat itu…”

“Saya berharap saya dapat mati sekarang.”

“Baik. Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Jika pada akhirnya seseorang akan mati dalam kesendiriannya. Saya harap saya dapat melakukannya. Walaupun saya sebenarnya tidak siap melakukannya.”

“Jika tidak siap, mengapa kau ingin mati?”

“Kau tidak paham.. Kau tidak akan memahaminya…”

“Walau aku hanyalah seorang yang kau ajak bicara. Tapi aku tahu kau sedang menangis saat ini.”

“Kau….”

“Karena yang kau ajak bicara saat ini adalah dirimu yang lain.”

“Jika kau diriku yang lain, kau seharusnya memahamiku!”

“Maaf. Kita adalah pemikiran objektif dan subjektif dari tubuh kita. Oleh karena itulah aku tidak bisa menyetujuimu begitu saja.”

“Saya ingin mati. Mungkin kau tahu mengapa?”

“Aku tahu kau sedang merasa terpuruk untuk saat ini. Dimana kau selalu melawan hal yang tidak bisa kau kuasai dan kau lihat. Oleh karena itu kau menginginkan kematian. Bukan begitu?”

“Jika kau tahu. lantas mengaoa tidak menyetujui saya?Kau tidak tahu seberapa ketakutan yang kurasakan. Jika kau mengetahuinya seharusnya kau bisa memahaminya. Di waktu yang akan datang. Kita entah akan menjadi apa dan akan bagaimana!”

(Diam)

“Lalu kau masih berharap pada masa depan? Saya sendiri tidak akan berharap akan melihat masa depan yang dipenuhi oleh hal-hal seperti itu.”

(Diam)

“Dan masa lalu. Walau kau telah banyak membuatku tabah hingga saat ini. kau telah mengajariku juga hingga titik ini. Kau tidak hanya sebatas sebuah pengalaman yang merepotkanku di setiap waktunya!”

“Sekarang pertanyaannya.”

“Apa kita akan mati?”

“Menurutmu?”

“Tentu saja, saya akan membunuh diri saya kembali.”

Tinggalkan Komentar