???? ?? : Avidity

Minggu, 26 Maret 2023

           Laptop di depanku berpendar dengan lembutnya. Menampilkan sebuah halaman yang penuh dengan tulisan. Suara jariku yang mengetik mulai menghiasi pikiranku saat itu juga. Tapi masa bodoh, aku tidak memerdulikan hal itu semua. Asalkan pekerjaanku ini selesai, aku sudah bisa menghembuskan nafas dengan lega.

            Kalimat demi kalimat kuselesaikan dengan cepat. Aku tidak mau menghabiskan banyak waktuku di depan laptop seperti ini. Dengan kondisi ruangan kamar yang gelap, aku mungkin bias dibilang sedikit lebih fokus daripada sebelumnya.

Karena aku adalah orang yang berusaha untuk teliti, setelah selesai bagianku ini aku langsung meneruskan kegiatanku dengan membaca bagian yang sebelumnya. Cara seperti ini menurutku efektif untuk menghilangkan kesalahan yang serupa di bagian yang akan datang.

            Akan tetapi, aku berhenti membaca ketika membaca kata itu. Sepersekian detik kemudian aku tidak bisa berkata-kata  untuk membahas apa yang baru saja aku baca. Hatiku terlalu perih untuk dapat menceritakannya. Walau sebenarnya aku adalah termasuk orang tidak terlalu peduli, tapi menurutku hati seseorang memang tidak bisa ditebak.

            Disaat aku masih membeku menatap kata itu, aku merasa sudah sepantasnya aku menyadari kesalahan dan kebodohanku itu. Seharusnya aku menyerah dan sadar, bukan berharap dan mengejar. Untuk saat ini kuakui akulah yang bermasalah disini. Aku terlalu memaksa sehingga tidak ada yang tersisa. Semoga aku diampuni atas hal ini.


Rabu, 10 Agustus 2022

Aku terbangun disaat bel berbunyi nyaring. Tapi, aku sama sekali tidak memahami mengapa ada bunyi bel di kamarku? Apa aku masih bermimpi?

            Ketika aku mulai membuka mata, aku mengetahui ini adalah kelasku. Tidak mungkin salah lagi. Dari semua raut wajah yang kulihat, aku mengenali semua mereka. Cara mereka berbicara, suara mereka, serta perilaku mereka. Tapi tunggu dulu. Mengapa aku bisa sampai kesini?

            “Perhatian, semua!” teriak seorang gadis yang tak asing bagiku. Kalau tidak salah dia adalah seorang kakak kelasku. “Ekstrakurikuler sudah dibuka mulai hari ini, jadi sebisa mungkin ikuti kegiatan yang telah kalian pilih, ya!”

            Wah, bersemangat sekali.

            Tunggu dulu. Itu bermakna satu hal.

            Aku langsung reflek membuka ponselku yang ada di kantong celanaku. Memastikan suatu hal yang dimana aku berharap bisa mengulanginya lagi. Ya, aku ingin mengubah alur ceritaku sebelumnya.

            Aku mencoba menyakiti diriku sendiri setelah keluar dari kelas. Aku merasa semua ini hanyalah mimpi, tapi ternyata ini sungguh nyata. Satu hal yang bisa kusimpulkan saat ini adalah : aku terlempar pada tujuh bulan sebelum alur cerita utama terjadi tadi. Sekarang adalah MOS SMA ku, dimana hari ini adalah hari pengefektifan klub-klub ekstrakurikuler yang ada. Aku memang mendaftar di salah satu klub tersebut, sih. Yaitu Klub Cerita dan Sastra.

            Dengan praktis, aku menuju ruangan Klub Cerita dan Sastra itu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka pintu ruangan klub. Dihadapanku ada seorang gadis berkacamata yang tengah membaca buku. Hanya saja karena mungkin terkejut atas tingkahku, dia menatapku dengan penasaran.

            “Maaf membuatmu terkejut…”


            Namanya adalah Viattara. Dia adalah gadis yang baik, ramah dan memiliki kesukaan yang sama denganku. Gadis itu jugalah yang menemani proyekku beberapa bulan terakhir (sebelum aku terjebak di masa kini). Viattara juga banyak menghabiskan waktu denganku, walau hanya sekedar berbicara mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

            Aku sebenarnya juga tidak menyadarinya. Aku menganggapnya sebagai seorang teman yang memiliki kesamaan denganku. Jadi aku bisa berbicara nyaman dengannya mengenai hobi menulis kami. Akan tetapi bagaimana ya, aku menjelaskannya? Aku tidak tahu bahwa faktanya, “Banyak perasaan dimulai dari pertemanan. Akan tetapi, banyak juga pertemanan harus berakhir karena perasaan.”

            Jadi selama tujuh bulan terakhir, aku meminta tolong untuk membantuku dalam proyekku. Tapi karena aku tidak ingin terasa egois, aku membiarkan proyek ini menjadi proyek kami berdua. Oleh karena itu aku terkadang meminta kritik dan saran darinya. Setidaknya agar dia juga ikut berpengaruh dalam pengembangan alur dan pembuatan cerita.

            Dalam rentang waktu itu juga, ku akui aku mulai menyukainya. Aku suka saat dia berpikir untuk mendapatkan kata-kata selanjutnya. Aku suka susunan kalimatnya yang unik itu. Aku suka sikapnya yang ramah dan teliti itu. Aku suka matanya yang begitu meneduhkan menurutku.

            Tapi aku pada akhirnya tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan hal tersebut. Bahkan aku sama sekali tidak mau mengatakan hal itu. Lebih baik mengaguminya dari jauh, daripada dia tahu lalu pergi menjauh.

            Begitulah hubungan kami selama tujuh bulan terakhir. Aku tak tahu apakah itu sudah benar atau salah, tapi menurutku lebih baik seperti itu dan menjalaankan alur yang sudah ada. Aku adalah seorang penulis, jadi aku tahu karakter di dalam cerita akan ada alur ceritanya tersendiri. Dia bisa melawan alur itu dan merubahnya atau dia bisa merusak alur tersebut. Maka dari itu keyakinanku, jika garis cerita kami memang terhubung di masa yang akan mendatang. Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Tapi, apakah itu akan berjalan dengan semestinya?


Rabu, 22 Maret 2023

           Itulah pemikiranku sepagian ini. Aku tahu itu pikiran yang sangat mendalami. Bahkan aku sendiri tidak yakin aku akan berpikir sebegitu jauhnya. Atau aku memang sekhawatir itu? Ah, masa bodohlah.

            Hari ini adalah hari dimana aku dan Viattara membahas tentang kemajuan proyek kami. Ini jugalah hari dimana gadis itu akan melebarkan jaraknya kepadaku. Tapi karena aku telah ‘mengulangi’ waktu dari kita bertemu, semoga saja kali ini hubungan kami baik-baik saja. Aku takut kehilangannya, maka dari itu aku harus menjaganya. Bukan, begitu?

            Aku pun satu persatu menyelesaikan kegiatan hari ini. Satu per satu mengusir rasa gugupku. Tapi semakin dekat dengan waktu itu, aku malah semakin cemas bahwasannya semua akan sama saja. Dia akan pergi menjauh dan aku hanya bisa menatap sisi yang membelakangiku saja.

            Sampailah disaat dimana kita mulai membahas kemajuan proyek kami di perpustakaan. Aku menerangkan bahwasannya beberapa orang mulai tertarik atas proyek kami, sebagai gantinya mereka juga mula menginteraksi akun media sosial kami. Walau tidak terlalu banyak, tapi menurutku ini adalah awal yang bagus. Karena hampir beberapa bulan kemarin, hampir tidak ada yang tertarik membaca proyek cerita kami.

            “Wah, jadi aku harus berusaha lagi, ya.” Komentarnya di akhir penjelasanku. Sembari tertawa kecil tentunya.

            “Tentu saja.” Balasku dengan cepat. “Mungkin mereka terpukau atas mahakarya dari mu, Via.”

            “Kau bisa aja.” Jawabnya sambil tertawa. Tawa kami pada sore itupun terus berlanjut sampai ketika.

            “Via. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan.” Ucapku. Aku benar-benar memberankan diriku untuk hal ini. Menurutku, kalian paham aku akan melakukan apa. Jadi tak perlu kujabarkan lebih lagi.

            “Jika boleh jujur. Aku menyukaimu.” Diam sejenak. Menatap gadis tersebut. “Aku tidak berharap kita berpacaran atau seperti hal-hal itu. Aku ingin kau masih ada di sampingku. Setidaknya kita masih membutuhkan satu sama lain.”

            Aku menutup mataku setelah mengucapkan kalimat terakhir itu. Menundukkan kepalaku. Aku tahu dia mungkin saat ini bingung mau menjawabnya seperti apa.Tapi aku mohon untuk setidaknya jawabanmu tidak menjauh dariku.

            “Maaf.” Jawabnya. “Maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu itu. Aku senang kau bisa bahagia dan nyaman bersamaku, tapi maaf aku tidak bisa menerima itu semua. Aku sungguh minta maaf. Bukan berarti aku tidak menyukaimu, tapi aku benar-benar tidak bisa.”

            Ternyata benar. Kami berdua bagai sebuah senja dan dataran. Saling melihat tapi tak saling terikat. Saling menatap tapi tak saling menetap. Saling memberi harapan tapi tidak dengan kepastian.

            “Maaf, ya. Aku mau pamit dulu.”

Minggu, 26 Maret 2023 (2)

            Aku tidak mau membahasnya lagi. Mungkin kami masih bisa disebut dekat, tapi aku hampir membuang seluruh rasa sukaku kepadanya. Kami memang masih bertukar pesan, tapi tidak lebih jauh daripada hal sepele itu.

            Aku akan berharap bahwasannya kami telah ditakdirkan dengan sedemikian rupanya. Mungkin belum saat ini kami seharusnya bersama, adakalanya nanti kami berdua akan bersama dan mulai bertukar kata-kata sepele seperti “Selaamt pagi”,”Sampai jumpa”,”Selamat datang”, dan sebagainya. Disitulah kami akan mulai mengukir kenangan-kenangan yang indah.

            Semoga saja, takdir seperti itu akan muncul di alur ceritaku. Aku sangat menantikannya. Dan semoga saja untuk kali aku tidak akan merasa kecewa lagi.


“Selamat pagi” “Sampai jumpa” “Selamat datang di rumah”

Saya ingin terus bertukar kata-kata yang tidak bersalah dan sepele ini dengan Anda.

Semua saat berada tepat di sisi Anda.

“Karena aku mencintai kamu.”

Hatiku platonis

Dan ingatanku perasaan meluap

Ya, ini hanya perasaan cintaku padamu.

Jika aku bisa mengakui ini padamu,

Apakah saya bisa berubah besok?

Aku berdoa semoga aku bisa terus menambah kenangan bersamamu.

(Sukinanode – Amamiya Sora ~ Plastic Memories Ost)

Tinggalkan Komentar