“Jika anda menghormati saya, saya akan menghormati anda. Jika anda tidak bisa menghormati saya, saya lebih bisa lagi tidak menghormati anda.”
~Jasmerah
Hah. Untuk pertama-tama, saya mengucapkan minal aidzin wal faidzin bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Semoga kalian bisa memaafkan saya dari segala kesalahan yang saya perbuat.
Oke, jadi saya akan mengambil contoh dari paragraf diatas. Anda pasti merasakannya, dari kata-kata tersebut. Sang penulis menyesal dan meminta maaf. Mungkin kalian benar menebaknya, tapi menurut saya nilai tersebut ttidak sepenuhnya benar.
Penyesalan seperti itu akan hilang dalam sekejap, atau bahasa kerennya dia tidak akan memikirkannya lagi. Alih-alih dia memiliki penyesalan khusus. Dalam hal ini, saya tidak bisa memastikan bahwa dia adalah wujud dari penyesalan itu sendiri.
Saya akan membahas hal itu. Mungkin sebagian dari kalian masih mengingat bahwasannya saya telah membahas hal ini beberapa bulan lalu. Yakni mengenai perasaan. Disitu saya menulis : “Perasaan adalah kata hati anda terhadap apa yang anda pikirkan, rasakan, dan dengarkan. Seperti anda merasakan bahagia terhadap sesuatu yang menyenangkan ataupun anda merasa kecewa terhadap sesutu yang anda harapkan. Pemikiran inilah yang membuat hal yang sebenarnya irrasional menjadi sebuah hal yang rasional.”
Tapi apakah kalian mengetahuinya? Perasaan itu adalah hal yang semu. Anda mungkin bisa mengatakannya, tapi anda akan menghilangkannya. Anda mungkin bisa mencerminkannya, tapi anda tidak mengetahui alasan dibaliknya. Anda mungkin bisa menuliskannya, tapi tidak bisa anda pertanggung jawabkan.
Ini berlaku untuk hampir seluruh perasaan yang ada di dalam dunia ini. Antara kalian percaya atau tidak. Ibarat jika saya mati saat ini juga, saya lebih baik tidak menerima tangisan dari siapapun daripada ada yang berpura-pura menangis di pemakaman saya. Toh, lagian tidak ada siapapun yang ingin peduli dengan saya.
Mungkin jika saya ingin melebih-lebihkan hal ini, saya akan menjelaskan mengapa seseorang lebih baik sendirian daripada dia tidak sendirian tapi jiwanya merasakan kesepian. Tentu saja, mental perasaan kedua orang itu akan berbeda. Karena tentu saja, orang yang berada di keramaian akan lebih mengetahui tentang seluk beluk kebusukan seseorang sehingga ia tidak ingin campur aduk dengan sekelompok orang tersebut. Saya juga merasa kasihan kepada orang-orang yang selalu mengikatkan dirinya pada sebuah identitas yang ada. Karena pada dasarnya ia adalah orang terbusuk daripada orang yang mengangkat harga dari identitas itu.
Mungkin paragraf tersebut akan berat untuk kalian, tapi saya mengatakan ini khusus kalian yang terlalu mengikatkan diri pada sebuah identitas. Tapi anda mungkin akan menyadarinya, bahwa ini semua adalah hal semu lainnya.
Intinya apa yang kalian rasakan dengan hati kalian itu semua sebagian besar addalah hal semu. Walau anda bersikeras menentang hal ini, tapi saya memiliki hal yang lebih objektif untuk menjawab hal ini.
Dan satu lagi yang ingin kusampaikan pada kalian. Tidak butuh orang pintar untuk memahami hal diatas, selagi anda bukanlah sosok yang benar-benar orang yang terburuk dari yang terburuk yang pernah membaca tulisan saya ini. Berlebihan? Sepertinya anda harus menelusuri hidup anda sendiri untuk mencari jawabannya.
Perasaan akan menjadi hal yang semu. Setiap hal yang semu tidak akan berarti apapun. Lebih baik 0 dibandingkan 6 dikurangi 7.
