Untuk menutupi kemampuan dan bakat Diperlukan kemampuan dan bakat juga.
Untuk saat ini saya masih sibuk mengurusi berbagai hal yang merepotkan. Sangat-sangat merepotkan sekali. Walau berulang kali saya mengeluh, itu tidak mengubah apapun. Jadi saya akan meneruskan kesibukan yang merepotkan ini.
Disaat saya memikirkan hal ini, saya baru menyadari ada yang aneh dengan saya. Entah kenapa, saya merasakan diri saya sendiri adalah orang yang berbeda dibanding setahun yang lalu. Setahun yang lalu saya adalah orang yang tidak memiliki tujuan apapun selain mengembangkan kemampuan saya. Selain itu hanyalah opsional belaka.
Tapi semenjak saya disibukkan oleh hal ini, saya merasakan bahwasannya saya bukanlah saya. Saya tidak biasa terlalu banyak menyendiri. Saya bukanlah tipikal orang yang pekerja keras dan pendiam. Saya bukanlah seseorang dengan tatapan merendahkan orang lain. Saya bukanlah orang yang seperti itu. Namun saat ini sebaliknya.
Saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi dengan saya. Semua hal yang saya kerjakan akan saya anggap menjadi hal yang serius dan perlu saya tanggung jawabkan dengan segenap jiwa dan raga saya. Itu adalah hal yang sangat berkebalikan dengan saat ini. Saya rasa saya lebih banyak berbicara dalam pikiran saya dan menganalisis sebuah hal daripada mencari tahu apa yang terjadi. Saya lebih banyak mengandalkan saya sendiri daripada harus berinteraksi dengan orang lain.
Ketika saya memikirkan hal itu, saya teringat dengan ‘kehidupan’ saya sebelumnya. Disaat itu, saya hampir mirip dengan sekarang. Bahkan tatapan mata yang saya keluarkan tiada bedanya dengan yang dulu. Cara saya menyampaikan hal mengenai kepedulian saya juga sama seperti waktu itu. Bahkan saya lebih terkesan “Selesaikan masalahmu. Karena sampai engkau membawaku didalamnya, kau akan tidak bisa berdiri kembali.”
Sekarang, saya adalah saya. Semoga anda tidak memahaminya. Saya membuat ini untuk arsip saya sendiri. Permasalahan anda memahaminya atau tidak bukanlah urusan saya.
Yang perlu anda garis bawahi, anda telah membaca tulisan dari seorang yang sebenarnya telah mati. Sampai kapanpun orang yang telah merasakan kematian ini akan terus menguasai saya. Ada satu cara untuk menghilangkan hal ini. Tapi hal itu sama sekali tidak bisa anda usahakan ataupun anda lakukan.
Biarkan saya membunuh diri saya sendiri lagi. Itu harga yang pantas.
Sebelumnya, saya menyembuhkan diri saya sendiri dengan membunuh diri saya sendiri dalam artian kepirbadian yang sangat tidak ingin saya gunakan. Saya tidak menyangka jika hal tersebut bisa kembali lagi. Orang mati tidak sepantasnya hidup kembali, apalagi menggantikan hidup orang lain. Oleh karena itu saya pribadi membenci hal yang berbau dengan ambisius. Itu hanya akan membuang hal yang telah saya sembuhkan menjadi datang kembali.
Tapi apakah hal ini berhasil untuk kedua kali? Saya takut jika saya membuangnya kesibukan saya bahkan beserta isinya akan hilang seketika. Tapi tentu saja saya lebih takut jika hal itu beanr-benar tidak bisa hilang dari saya.
Akibat dari fenomena ini membuat saya diliputi berbagai perasaan yang annoying. Bahkan saya memikirkan lebih dalam hal yang biasanya tidak saya pikirkan dengan matang. Saya membenci hal itu, tapi saya memang perlu membahasnya disini.
Sudah lama saya tidak menyatakan pernyataan kepada seseorang. Bukan karena saya memendamnya atau seperti apa, saya cenderung untuk tidak merasakan apa-apa. Ketika anda menyatakan sesuatu, anda harus bersiap dengan resiko dibaliknya. Oleh karena itu saya sangat berhati-hati dalam menyatakan sesuatu.
Selain itu, saya sama sekali tidak menemukan hal yang hilang dari hati saya. Benar-benar tidak ada hal yang hilang dari hati saya. Kurang lebih saya ingin mendapat kasih sayang dan pengertian atas kelelahan daya menjalani hidup, tapi sampai saat ini saya tidak mau berharap pada hidup yang akan memberi saya sebuah pasangan untuk hidup. Saya tidak mau hal itu menjadi beban pikiran saya dalam menjalani hidup saya yang berat ini.
Tapi terkadang saya merasa banyak bunga yang indah yag seharusnya saya simpan dan bawa kemana pun. Sesekali saya hanya ingin menghirup aromanya dan menadikannya sebagai koleksi yang indah. Tapi saya sadar, ketika saya melakukan hal tersebut itu akan merusaknya. Akan merusak seluruh hamparan bunga itu.
Jadi saya berharap kepada bunga-bunga tersebut untuk berkembanglah semampu yang dirimu bisa. Saya akan mengamati keindahan kalian dari kejauhan. Hanya sebatas itu saja sudah membuatku senang. Setidaknya setelah melayukan setangkai bunga yang sama sekali tidak bisa saya lupakan.
