Maaf untuk sebelumnya. Dikarenakan saya benar-benar tidak sempat menulis apapun dalam blog ini, maka dari itu saya sangat meminta maaf untuk sebelumnya.
Beberapa hari terakhir saya merasakan sendiri rasanya ‘lelah’ dalam artian sebenarnya. Tidak. Saya tidak ingin berbagi kelelahan saya dengan anda sekalian. Jadi lewati saja perihal ini.
Kali ini saya membahas sebuah kejadian yang klise dalam kehidupan. Bahkan sangking klisenya, anda bisa menebak akhir dari awal. Atau setidaknya anda sendiri berulang kali malah telah merasakan hal ini? Ah, semoga anda tidak tersindir.
Saya akan menceritakan seberapa klise hal ini berulang terus-menerus. Apakah anda pernah menyukai seseorang? Saya harap anda sekalian masih normal dan pernah merasakan yang namanya menyukai seseorang. Saya mengutip kata ini dari sebuah novel yang cukup terkenal.
Kamu tahu, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
Novel ‘Hujan’, Tere Liye
Kalimat ini sebenarnya sudah berapa kali saya telaah dan sebenarnya tidak terlalu menarik untuk dibahas. Tapi, coba kita telaah kembali. Sebenarnya esensi cinta dan menyukai itu ada di dalam perasaan. Ketika anda merasa canggung dengan seseorang. Merasa gelisah sekaligus senang. Merasa gembira sekaligus sakit. Merasa berharap dan kecewa dalam waktu bersamaan. Mungkin itu adalah esensi dari lonjakan perasaan itu.
Untuk saat ini saya tidak akan menjelaskan seperti apa definisi cinta itu. Karena hal tersebut cukup subjektif jika hal itu benar-benar diartikan. Perasaan adalah hal yang subjektif, secara tidak langsung tiada unsur objektif di dalamnya. Membuat saya merasa bersalah ketika saya menerangkan sesuatu yang salah.
Kejadian klise yang berulang kali dialami oleh seseorang itu adalah ketika ia mulai mengungkapkan perasaannya kepada seseorang itu. Anda tahu bagaimana?
Ketika seseorang itu berakhir dengan berpacaran maka saya rasa itu sangat klise. Bahkan mungkin ada puluhan atau ratusan ribu novel, film, dan sebagainya menerangkan hal itu. Saya rasa hal itu bukanlah hal yang menarik dibahas. Jika saya bahas disini, tidak ada perbedaan antara tulisan ini dengan ratusan ribu karya diluar sana.
Akan tetapi ada suatu kondisi, dimana esensi dari cinta itu benar-benar terasa. Ketika ada sepasang insan sedang merasa canggung atas apa yang mereka perbuat. Pada dasarnya mereka tidak memahami apa yang mereka rasakan. Seperti halnya mereka membaca sebuah buku yang sama sekali tidak dapat mereka pahami dikarenakan bahasa yang berbeda. Mereka tidak paham apapun apa yang hati mereka mau. Hal inilah yang saya sebut kondisi unik di antara klise.
Saya pernah mendengar suatu kisah singkat yang mungkin tidak terlalu menarik, tapi mengandung banyak sekali prinsip.
Alkisah, ada seorang remaja laki-laki yang mencoba menyampaikan perasaannya kepada lawan jenisnya dengan berbagai cara. Hingga suatu saat, gadis itu mulai memahami apa yang dimaksud oleh si lelaki. Akhirnya gadis tersebut berterima kasih telah menyukainya. Setelah mengetahui usahanya berhasil, sang lelaki pun cukup senang karena usahanya telah berhasil. Akan tetapi ini bukanlah akhir.
Setelah mengatakan hal itu, sang gadis pada awalnya tidak pernah sekalipun menyukainya. Hanya saja dia berterima kasih untuk terlihat lebih sopan. Perlahan demi perlahan dia mulai menjauh. Dan akhirnya sama sekali tidak berhubungan lagi dengan lelaki tersebut.
Memang benar, menyatakan perasaan menurut saya tidak memerlukan jawaban. Asalkan lawan bicara memahami apa yang kita maksud itu sudah lebih dari cukup. Yang menjadi masalah adalah setelah ini. Ketika seseorang telah menyatakan perasaannya lalu diterima dengan ‘baik’. Maka sejatinya ia akan ‘berharap’.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata berharap disini. Hanya saja, berharap itu seperti anda menggantung harapan diantara rasa sakit atas kecewa dan rasa gembira atas ‘berhasil’. Kejadian klise disini adalah ketika anda berharap lalu kecewa. Berharap kembali, lalu kecewa lagi. Dan seterusnya, berharap lagi, dan kecewa kemudian.
Untuk beberapa poin ini saya tidak mau mengembangkan lebih jauh karena pada akhirnya poin tersebut menerangkan fakta yang sama sekali tidak bisa saya bantah. Jadi saya akhiri saja dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuat anda berpikir. Apakah perasaan memang layak diungkapkan?
