???? ?? : Selalu

“Sekarang sudah akhir musim dingin, ya?” basa-basiku untuk membuka pembicaraan dengan orang yang duduk di depanku. Dia terlihat seperti mencemaskan suatu hal dengan melihat ke arah luar jendela kaca besar yang berada di samping kami. Tapi dari perbuatannya, dia seakan-akan tidak ingin atau tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kecemasannya itu.

Dia menghembuskan nafas dan mencoba lebih rileks. “Kau benar. Musim dingin yang cukup merepotkan bukan?”

Aku tertawa pelan. Walaupun mungkin dia tidak berniat untuk memberikan lelucon, tapi kalimat itu perlu kusetujui bahwa musim dingin ini memang merepotkan. Banyak hal yang kami lewati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, kami masih tetap untuk mencoba menjalani tanpa ada rasa untuk saling menyakiti.

Salju di luar sana turun lagi. Walau tidak terlalu banyak, tapi cukup mengganggu ketika menempel di kaca-kaca seperti ini. Pejalan kaki terasa mempercepat kakinya untuk berjalan ke tujuannya. Seakan-akan mereka menghindari kejadian yang mungkin akan ‘terakhir kali terjadi’ untuk beberapa bulan selanjutnya.

“Maaf untuk beberapa bulan terakhir. Kurasa aku cukup sering memanggil namamu tanpa kamu ketahui..” ucapku untuk membuka pembicaraan lagi. Menunggu reaksinya.

Dia tersenyum simpul. “Jika hal itu dilakukan oleh orang sepertimu, aku tidak akan kaget. Bagaimana, ya? Aku seperti bisa melihat kepribadianmu itu.”

“Jujur saja, aku dulu tidak akan bisa berubah jika mungkin tidak bertemu dengan dirimu untuk beberapa bulan terakhir.” balasku dengan sedikit tertawa pada akhirnya. “Aku adalah orang yang berbeda dari bulan-bulan lalu. Aku lebih suka memendam masalah sendirian. Lebih suka menyamakan diriku dengan sebuah robot yang tidak memerlukan perasaan. Bahkan aku dulu tidak suka jika ada seseorang mencoba dekat dengan diriku.”

Orang itu sedikit tertarik atas pembicaraanku barusan. “Benarkah? Bukankah engkau selalu dikelilingi orang banyak setiap waktu?”

“Aku setuju soal hal itu.” menganggukkan kepala “Tapi jujur saja, aku membencinya. Aku menganggap semua hal itu harus diperhitungkan agar aku bisa terlihat seperti manusia. Jadi aku memeragakan sebuah robot yang ingin menjadi manusia. Terdengar keren, kan?”

Dia tertawa dengan lepas untuk pertama kalinya. “Berarti kamu sama sekali tidak menganggap bahwa hubungan dengan seseorang manusia itu penting? Jahat sekali, ya kedengarannya.”

“Tak bisa kupungkiri lagi itu memang benar.” Terdiam sebentar. “Bahkan sepertinya pertemuan pertama kita tidak kuanggap sebagai hal yang penting pada awalnya. Seperti sebuah episode dalam kartun yang tidak ada adegan komedinya.”

“Uih, jahat sekali!”

Aku tersenyum. “Tapi sekarang berbeda ‘kan? Sekarang aku menganggap diriku sebagai seorang manusia lagi. Sebuah makhluk yang memiliki logika dan perasaan. Semenjak hari itu aku merasakan bahwa hidupku mulai terasa berwarna. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa warna kehidupan itu ada. Kukira hanyalah karangan sang pujangga kepada para pembaca supaya mempercayai apa yang dibuatnya, tapi ternyata itu sungguhlah nyata. Hari-hariku yang kini telah dipenuhi warna terlah menyadarkanku dari kesalahanku di masa lalu.”

“Bahkan ‘robot’ pun memiliki kesalahan?” tanyanya tidak mengerti.

“Kehidupan ‘robot’ seperti itu tidak akan pernah salah. Kesalahan yang kumaksud adalah menjalani kehidupan ‘robot’ tersebut. Sejatinya kita adalah manusia bukan robot, ‘kan? Maka dari itu, jika kita menjalani kehidupan sebagai ‘robot’. Sama sekali tidak bersyukur atas peranan kita sebagai manusia.”

Anggukkannya mengakhiri penjelasanku. “Jadi kesimpulannya, hidupmu sekarang berwarna, ya? Dan berwarnanya karena aku? Eh? Bagaimana, sih?”

“Kamu sudah memahaminya, tuh.” seruku karena aku merasa terjahili olehnya. Membuatku sedikit tersipu malu telah mengatakan hal semacam itu.

“Haha. Aku tidak tahu mau bereaksi seperti apa untuk kali ini. Tapi sebelumnya, terima kasih…”

“Tidak masalah. Jangan terlalu formal kepadaku.”

“Itu tidak formal, lho…”

“Apakah kamu tahu kalimat tidak formal lainnya?”

“Seperti apa?”

“Seperti-” aku melihat keluar jendela. “Bulannya indah, ya?”

Tinggalkan Komentar