Kamu tahu firasat? Firasat adalah psikologis manusia di mana hasil dari beberapa kejadian yang lalu dan dirangkum dalam sebuah perasaan. Intinya, sebuah perasaan yang tidak akan bisa kalian tebak terhadap sebuah kejadian yang akan terjadi. Seperti contoh ketika kamu berangkat sekolah dan melihat gedung sekolah tersebut dalam keadaan sepi. Dari sana mungkin kamu akan merasakan firasat bahwa ada yang salah. Antara mungkin kamu yang terlalu pagi atau memang hari itu adalah hari libur.
Itulah yang sedang kupikirkan senja ini. Di saat aku lagi-lagi menatap matahari bersiap terbenam di ufuk barat yang berbatasan dengan horizon laut jauh sana. Aku merasakan firasat yang aneh. Seakan-akan aku baru pertama kali merasakan firasat yang seperti ini.
Senja masih indah seperti biasanya. Perpaduan warna jingga, biru, dan ungu yang sungguh mengesankan mata. Bahkan di sana mungkin masih banyak lagi warna yang tidak kuketahui namanya. Ditambah dengan suasana langit yang cerah. Tidak ada satupun awan yang menghalangi sang mentari untuk pergi.
Klise sekali, ya? Aku selalu menikmati senja seperti ini. Akan tetapi seperti anak kecil, aku tidak pernah sekalipun bosan untuk menikmatinya lagi lagi dan lagi. Bahkan aku melihat di tempat yang sama. Seperti dulu aku diajak untuk menikmatinya pertama kali dengan bundaku. Dengan senyuman yang penuh arti, aku tidak bisa melupakannya.
Itu adalah aku di usiaku yang berumur delapan tahun. Sudah sembilan tahun berlalu sejak itu. Aku masih kembali di tempat yang sama dan waktu yang sama. Rumahku memang dekat sini, jadi kedua orang tuaku tidak terlalu khawatir mengenai anaknya yang selalu melihat senja ini. Lagipula alasan terbaikku untuk ini adalah “Tidak setiap hari langit akan cerah seperti ini, kan?”
Firasat itu kembali lagi. Rasanya akan terjadi suatu hal yang buruk tapi juga beruntung kepada diriku. Aku tidak tahu ini bermakna apa. tapi ini adalah pertama kali aku merasakannya.
Desir rumput yang bergesek satu sama lain kembali terdengar. Suara ombak yang terpecah di kejauhan sana ikut meramaikan suasana. Seakan-akan ini adalah orkestra alam. Di mana semua pemainnya ‘bernyanyi’ dengan suara yang khas sekali.
Di saat aku mengalihkan pandanganku di bibir pantai, aku mendapati sosok gadis yang berjalan di depanku. Aku tidak pernah melihatnya. Lagipula ia tidak menuju ke arahku, dia hanya melewatiku. Jika aku boleh deskripsikan, gadis itu berjalan sepanjang garis tepi pantai. Di mana kakinya terkadang terendam air, terkadang tidak. Sepertinya ia tidak memiliki tujuan khusus selain menikmati hal itu.
Aku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas, karena dia menunduk terus-terusan. Akan tetapi, tak berselang lama dia mengangkat kepalanya. Mendongak dan memperhatikan ke arah matahari terbenam. Sejenak aku terpaku menyaksikannya. Di mana aku merasakan perasaan yang belum pernah sekali kurasakan dalam hidup ini. Seperti terkejut dan takjub dalam waktu yang bersamaan.
Aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi gadis berambut cokelat serta bermata biru tua itu telah benar-benar menghancurkan fokusku.
Serta mengembangkan tipis senyum milikku.
