Short Story : Suara Ombak Waktu Itu, Kamu Mengingatnya? (Bagian 2)

Hari itu masih selalu teringat jelas di benakku. Sejenak aku mengakui bahwa aku telah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk bisa jatuh cinta sedemikian indahnya. Sama seperti sebuah lagu yang sering kali kudengar. Di sana tertuliskan,

茜色の空 仰ぐ君にあの日. 恋に落ちた

(Di hari engkau menatap langit yang berwarna kemerahan. Pada saat itu aku jatuh cinta.)

Semenjak hari itu aku masih melakukan kegiatan yang sama. Menikmati senja sendirian di tepi pantai. Aku tahu pemandangan seperti ini tidak akan berlangsung selamanya, terutama dikarenakan sekarang adalah musim panas. Maka dari itu aku hampir meluangkan waktuku di musim panas hanya untuk menatap senja. Melihatnya pergi tapi juga menantikannya kembali.

Beberapa kesempatan aku melihat gadis itu kembali berdiri di tepian pasir pantai yang putih. Parasnya terlalu kontras dengan suasana senja. Sehingga aku tidak berani menatapnya dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, mungkin dia tidak nyaman apabila mengetahui diriku sedang menatapi dirinya. Maka dari aku membiarkannya untuk saat ini.

Seperti halnya jawabanku terhadap pertanyaan mengapa aku bisa menyukai senja. Rasa suka itu tidak bisa diungkapkan dengan logika. Sebenci apapun aku terhadap senja, rasa suka itu akan selalu ada. Dan tidak akan pernah sekalipun menghilang.

Jawaban ini juga yang menjawab pertanyaan mengapa aku bisa menyukai gadis itu. Aku menyukainya karena tanpa alasan. Jika aku beralasan karena aku terpukau dengan cantiknya, teman sekelasku dan orang-orang yang kutemui sepertinya masih lebih cantik (secara rasional). Jika aku beralasan dari sifatnya, aku bahkan belum pernah berbicara dengannya. Jadi bukankah ini benar-benar tanpa alasan?

Perlahan liburan musim panas telah berakhir. Kegiatan sekolah akan kembali seperti sedia kala. Meski begitu suasana musim panas belum berakhir. Masih ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan sepanjang akhir musim panas ini. Seperti menyalakan kembang api dan lain sebagainya. Omong-omong, dia saat ini melakukan apa, ya?

Yah, lagipula untuk apa berpikir itu. Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Seharusnya gadis itu akan bersiap untuk tidur, bukan begitu? Meski bilang begitu aku tidak bisa bilang bahwa diriku bisa tidur semudah itu. Entah atas alasan apa.

Hari esok adalah hari pertama setelah libur musim panas berakhir. Dengan segala suasana di musim panas ini, membuat besok terasa sangat sulit penuh dengan tantangan sekali. Maksudku dalam artian untuk menikmati suasana musim panas. Yah, mungkin beberapa siswa akan membolos dan menikmati musim panas seperti biasanya. Sisanya akan seperti aku. Terpaksa untuk mengikuti pembelajaran di sekolah. Meski begitu sebenarnya tidak terlalu terpaksa. Lagipula siapa yang ingin mengajakku menikmati musim panas?

Yah, harapanku hanya satu untuk saat ini. Semoga besok ada kejadian yang menarik di sekolah sana. Kau tahu ‘kan?

Keajaiban selalu ada di saat orang tidak menyadarinya.

Malam itu pun berakhir dengan diriku yang tertidur diatas meja belajarku.

Tinggalkan Komentar