Diary 12 : I Fell in Love with Myself for the First Time

Untuk sebelum-sebelumnya saya meminta maaf karena sama sekali tidak bisa membuat blog hingga beberapa bulan lamanya. Hal itu sebenarnya saya isi dengan berbagai kegiatan sehingga saya sendiri jarang menulis sesuatu dengan baik. Jadi saya mohon atas kesabarannya selama satu tahun penuh ini. Mungkin ini akan menjadi setahun yang melelahkan. Saya akan berjanji untuk kembali jikalah waktunya telah tiba bagi saya menulis lagi.

Saya tidak tahu bagaimana menuliskannya, tapi saya rasa saya telah mencintai diri saya sendiri untuk pertama kalinya. Sebuah kondisi yang sangat sangat tidak rasional yang pernah saya tuliskan. Sebagaimana seseorang yang telah jatuh ke dalam perasaannya, pemikiran orang tersebut akan abstrak sekali. Tidak akan bisa sama sekali menjadi rasional.

Meski begitu saya mencoba untuk menjadi rasional walau-walau saya tidak ingin menjadi rasional. Irrasional itu menyenangkan, tapi tidak kurang dan tidak lebih hanyalah sebuah hiburan. Tiada orang yang tidak suka dengan hiburan. Orang-orang memiliki hiburannya sendiri dan saya yakin atas hal itu.

Walau begitu, rasanya tetap sulit saja jika saya menyampaikan irrasional itu sama sekali tidak menyenangkan. Seperti apa, ya? Seperti halnya anda tersenyum dan tertawa sehingga membiarkan sisi lemah anda terekspos dengan sendirinya. Mengembalikan hari-hari yang buruk ke dalam pikiran anda lagi. Tapi aku tidak membencinya.

Saya pernah membahas antara logika dan perasaan beberapa tahun silam. Di mana saya pernah menyimpulkan. Logika tanpa perasaan hanyalah sebuah mesin belaka. Perasaan tanpa logika hanyalah kebodohan yang terasa. Maka dari itu jika anda ingin memenangkan hidup ini, hiduplah dengan kedua hal tersebut secara berimbang. Logika anda memengaruhi perasaan dan perasaan anda memengaruhi logika. Meski wajarnya seseorang itu akan condong ke suatu hal yang lain, tapi menyeimbangkan adalah jawabannya. Itulah kesimpulan saya pada waktu itu.

Mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kebenaran itu relatif dari sisi mana kita melihatnya. Ini telah saya jelaskan di sini. Mengenai kebaikan yang terkadang bisa dinilai salah tapi kita menganggapnya benar. Hal itulah yang mengganggu saya selama ini.

Tapi seiring berkembangnya waktu, saya bangga menjadi orang rasional hingga selama seumur saya hidup. Tidak pernah sekalipun saya irrasional kepada diri saya sendiri. Tapi semenjak hari tersebut, saya rasa saya telah menjadi sosok yang irrasional. Saya tidak membencinya. Saya justru menyukainya. Saya justru menyukai hari-hari di mana saya bisa berpikir irrasional tanpa harus melakukan serangkaian tes terlebih dahulu.

Itu menyenangkan. Bukankah seperti itu? Saya rasa saya akan menjadi mesin yang berpura-pura menjadi manusia dalam seumur hidup saya. Degan bangganya pun, saya mengatakan hal ini dan tidak berpikir jika takdir bisa mengubah segalanya. Dengan menurunnya pemikiran rasional saya, saya sekarang mungkin bisa dibilang telah menjadi manusia yang berpura-pura menjadi mesin. Sama sekali tidak terbayangkan oleh saya.

Mungkin seperti itulah yang dikatakan pada lirik lagu yang pernah saya dengarkan. “Untuk pertama kalinya, saya jatuh cinta kepada diri saya sendiri.”

Pemikiran rasional saya mulai mempertanyakan, Apa saya pantas mendapatkan hal ini? Apa saya boleh untuk menjadi irrasional seperti ini? Apakah saya bisa melewati hari-hari dengan seperti ini? Bagaimana caranya? Apa konsekuensinya? dan lain sebagainya.

Perjalanan ketidak-rasional-an ini akan saya buat buku yang akan saya cetak pada akhir tahun nanti. Mungkin jika saya menghendaki buku tersebut akan saya jual dengan harga yang cukup terjangkau dari saya. Karena mungkin itulah langkah awal dari saya menjadi sebuah manusia.

いつかあの日の,僕愛してね.

Tinggalkan Komentar