Maaf lama tidak membuat konten di sini. Sibuk dengan membuat novel pertamaku kurang lebihnya. Selain itu aku masih seperti biasa. Menjalani hidup yang sebagaimana semestinya telah diatur. Apalagi ini adalah penghujung masa sekolahku. Aku ingin sedikit menikmati keseruan di dalamnya.
Beberapa hari terakhir adalah hari yang penuh dengan asam-manis kehidupan. Seperti ada saja yang membuat diriku bahagia dan juga sebaliknya. Itu sungguh benar-benar dasar dari prinsip kehidupan bukan? Di dalam, kehidupan kurang lebihnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa ada kurang lebihnya beberapa main event yang harus terpenuhi.
Semua itu terkumpul di kata “Pilihan”
Pilihan kita untuk berjuang. Pilihan kita untuk tersakiti. Pilihan kita untuk tersenyum. Pilihan kita untuk tertawa. Pilihan kita untuk menang. Pilihan kita untuk sedih. Itu semua adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan akan memiliki resiko atau konsekuensinya tersendiri. Hal itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Kita memilih, kita akan mendapatkan apa yang kita pilih tersebut.
Seluruh pilihan itu adalah dirimu. Jadi jangan menjawab pilihan-pilihan tersebut dengan mencontoh orang lain. Gunakanlah dirimu sendiri untuk menyelesaikannya. Tidak semua bisa disamakan solusinya. Itu adalah sedikit prinsip menjadi diri sendiri dalam hidup ini.
Sekarang adalah waktunya perpisahan kepada masa-masa ini.
Jika boleh jujur, tentu saja aku menangis. Tapi diriku dirancang tidak untuk itu. Di antara seluruh masa kelamku dulu, sepertinya aku telah menghabiskan seluruh air mataku. Sehingga saat ini ketika aku merasa sedih aku tidak akan lagi menangis. Meski cukup menyedihkan jika dipikir akan berpisah dengan masa-masa indah ini. Tapi kita adalah manusia. Kita belajar untuk menyiapkan perpisahan.
Diriku yang sebelumnya memproklamirkan bahwa aku adalah sebuah mesin yang tak memiliki perasaan. Sekarang aku bersyukur menjadi seseorang yang memiliki perasaan. Hatiku ini naif jika soal ini. Tapi aku yakin perasaanku adalah cara untuk mencapai batas maksimal diriku dalam bersikap rasional. Rasional terkadang membutuhkan perasaan bukan?
Di saat yang lain menangis karena perpisahan. Sepertinya aku hanya bisa ‘berpura’ menangis. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa menghargai perasaan mereka. Tapi aku menghormati semua orang yang memiliki hati secara utuh dengan sehat. Maaf, aku berpura-pura seperti itu. Aku yakin, aku masih memiliki hati dan perasaan. Hanya saja untuk air mata sepertinya aku lebih banyak menangis dari siapapun untuk saat ini.
Perpisahan itu adalah sesuatu yang klise. Kita sebenarnya adalah insan yang selalu berpisah di tiap harinya. Semisal ketika kita bertemu, kita akan berpisah ke rumah masing-masing. Bukankah mereka akan ada kemungkinan untuk tidak bertemu lagi setelah itu? Berpisah di waktu yang tidak di duga dan di alam yang jauh sana. Itu sangatlah mungkin terjadi.
Tapi mengapa perpisahan ini terasa menyakitkan?
Aku tidak tahu. Aku pernah menuliskan dalam suatu karyaku. Apakah ada suatu perpisahan yang tidak menyakitkan? Seketika itu juga ada yang membantahnya. Perpisahan akan terasa indah jika dirayakan dengan penuh bahagia. Tapi kurasa itu semakin sakit di hati.
Aku tidak percaya bahwa perpisahan itu ada yang menyenangkan.
Maka dari itu aku muak karenanya.
Di saat-saat seperti ini, aku berhasil menciptakan hal yang bisa kusebut sesuatu yang gila. Di mana aku menciptakan sebuah benda yang dapat menampung perasaanku. Meski tidak seutuhnya, tapi itu lebih cukup untuk menggambarkan diriku.
Ya. “It’s All About You”
