Kapan terakhir kali aku menulis disini untuk kalian. Itu sudah lama sekali nampaknya.
Maaf. Mungkin itu saja yang bisa kukatakan kepada kalian. Untuk kali ini aku hanya ingin mengatakan beberapa hal yang entah akan kalian lakukan ataupun kalian hanya baca dengan sekilas.
Pernahkah kalian merasa berkembang dari waktu ke waktu? Semisal kalian merasa diri kalian yang dulu adalah naif sekali. Bahkan 10 hari yang lalu dari kalian mungkin akankah kalian merasa sudah naif? Lalu, kalian merasakan yang entah bagaimana sekarang sifat anda sangat dewasa sekali. Seolah dalam hitungan waktu kalian telah berubah dari segi pemahaman anda.
Mungkin itu adalah gambaran dari ‘Character Development’. Aku tidak bisa terlalu menjelaskannya lebih lanjut, hanya saja itu terus-terusan menggangguku beberapa hari terakhir.
Karena ini aku akan berbicara sebagai Adam Abdi Gusti, mungkin aku akan sedikit menyinggung beberapa hal yang terjadi.
Karena saat ini aku telah beranjak kuliah mungkin aku lebih bisa bebas untuk melakukan apa pada waktuku yang luang. Lebih bebas daripada di rumah. Meski sebenarnya tidak menyenangkan juga. Intinya ketika hidup sendiri di kamar kost adalah pertaruhan. Ketika anda memiliki kebiasaan yang baik, anda akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.
Seperti mungkin ketika anda pada akhirnya bisa konsistensi atas perilaku yang baik. Sama layaknya yang pernah anda lakukan di rumah dulu. Meski kamar kost anda telah terasa seperti rumah karena di dalamnya kamu impor kegiatan-kegiatan positif di rumah. Nyatanya, di luar tidak seperti itu.
Yah, aku tahu. Aku adalah orang yang selalu memiliki idealis jika berhubungan dengan lingkungan yang baik. Seperti, aku cepat tidak setuju atas segala sesuatu yang memungkinkan pada kedua gender yang berbeda berinteraksi melebihi batas sewajarnya. Itu adalah permisalan yang cocok.
Di lingkungan baru seperti ini. Aku benar-benar berusaha melindungi diriku dari sesuatu yang ‘bukan diriku’. Alasanku sederhana saja, “Karena Aku tidak akan melakukan hal seperti ini.”
Ketika aku melakukannya, itu bukanlah aku.
Tapi tetap saja. Ketika kalian menatap jauh ke dalam kegelapan. Kegelapan akan menatap kita kembali. Mengartikan, sesuatu yang buruk bisa memengaruhi kita jika kita masih saja berada di dekatnya. Meski secara tidak langsung. Perlahan tapi pasti. Kita bisa saja menjadi bagian dari mereka.
Aku masih ingin seperti ini. Sungguh.
Aku tidak ingin beranjak sedikitpun dari character development ini. Selain menjadikannya lebih hebat. Aku benar-benar tidak mau beranjak pada sifatku ini. Tidaklah sebuah pilihan ketika kamu telah menemukan sesuatu yang baik lalu mebuangnya karena merasa sesuatu yang buruk itu lebih baik. Hanya orang yang dipenuhi dengan nafsu duniawinya.
Meski beberapa hari terakhir aku selalu terusik untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Aku benar-benar ingin menjaga diriku sendiri. Sungguh.
Aku tidak mungkin mengikuti yang lain ketika tidak menutupi aurat yang ‘diremehkan itu’.
Aku tidak mungkin juga mengikuti mereka yang tidak menjaga hubungan mereka dengan sang pencipta mereka sendiri.
Hanya saja, menjaga api kecil lilin di tengah hempasan angin itu sulit sekali.
Teruntuk siapapun yang membaca ini. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Tapi aku yakin, suatu saat nanti ada kalanya jika sifatku ini akan menjadi sebuah karang yang tidak dapat terhancurkan. Bahkan jika sekalipun itu menyakitkan atau harus ada harga yang kubayar. Aku akan memegang prinsip ini.
Prinsip yang sedari dulu telah kupercayai dan selalu kulakukan ketika SMA. Prinsip dimana aku bisa tertawa lega karenanya. Prinsip dimana aku bisa menyakiti jika ‘mereka’ benar-benar ingin disakiti. Prinsip dimana aku akan bersikap loyal kepada mereka yang telah memercayaiku.
Ah, mungkin seperti ini saja pernyataanku.
Aku adalah aku. Seperti yang kalian kenal dulu. Aku akan megorbankan apapun agar sisiku yang dulu akan tetap ada dan tidak akan pernah berubah. Jika perlu aku mengorbankan suaraku untuk menjadi lebih ‘sempurna’ daripada yang dulu. Meski itu terasa sedikit menyakitkan, tapi harga yang pantas untuk melindungi sebuah idealisme yang telah kupercaya.
