???? ???? : It Will be Continue?

Di suatu tempat yang tampak familiar. Angin berhembus mengibaskan poniku. Meski rambutku terbilang pendek, ini cukup menggangguku biasanya. Tapi disisi lain aku tidak memiliki pilihan lain. Membiarkan mereka bergoyang sesuai arah angin berhembus. 

Katakanlah saat ini adalah sore hari. Langit ditutup mendung, tapi kamu bisa merasakan senja sedang menyingsing di atas sana. Seperti seseorang yang berusaha menutupi segala kesalahannya. Tetap saja apa yang sebenarnya ‘ada’ pasti ‘kan terasa. I know there’s something but i can’t prove it.  

Sebuah taman. Sebuah pemandangan masa lalu. Sebuah bangku dan lampu taman. 

Aku pernah melihat seseorang duduk di sini. Seorang remaja lelaki. Tidak seperti pengunjung taman yang lainnya. Dia sama sekali tidak peduli hal-hal yang disekitarnya. Saat itu, langit berwarna biru sejauh mata memandang. Pengunjung lainnya tampak menikmati hari yang cerah itu bersama orang-orang yang disayanginya. 

Tapi, remaja itu tidak. Dia duduk di bangku taman seorang diri. Tanpa siapapun yang menemaninya. Layaknya seseorang yang tidak ingin didekati siapapun, dia benar-benar tak menghiraukan hal yang ada di sekelilingnya. Kedua mata dan tangannya fokus pada buku yang sedang ia tulis. Itu terlihat mengesankan untuk seumurannya. Menjadi seorang penulis. 

Apakah aku mengenalnya? Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya lagi. 

Dia adalah remaja yang langka untuk saat ini. 

Itu adalah gambaran nostalgiaku. Sudah berapa tahun, ya? Seharusnya baru dua tahun semenjak kejadian itu. 

Sekarang remaja lelaki itu duduk di tempat yang sama. Di bawah semilir angin mendung senja ini. Seperti dulu, dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Perhatiannya fokus pada buku yang berada di tangannya. Ia tampaknya sedang membaca sebuah buku. 

Aku tersenyum tipis. Dua tahun berlalu dan dia masih saja sama seperti sebelumnya. 

“Efta!” sapaku pelan. Dia menoleh. Terkejut memperhatikanku. 

“Ah! Kamu ngapain di sini?” jawabnya terbata-bata. Menutup bukunya. 

 Aku menyeringai tipis. “Memangnya tidak boleh kah aku berada di sini?” 

Remaja lelaki itu terdiam. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 

“Apakah kamu masih menulis sebuah buku. Efta?” tanyaku dengan nada penasaran. 

Remaja yang kupanggil Efta itu kemudian mengatakan. “Aku masih menulis. Hanya saja waktu kuliah ini aku semakin jarang. Yah. Karena aktivitasku yang begitu padatnya juga.” 

Sesuatu yang ada di dalam dirinya sampai saat ini pun masih sama seperti dulu. Dia tidak bisa berbicara dengan seorang perempuan tanpa berbelit-belit ataupun kaku. Entah kekurangan atau kelebihan. Tapi itu adalah hal yang unik darinya. 

Lelaki di depanku itu tiba-tiba berdiri dari duduknya. “Kamu kelihatannya lelah. Silakan duduk.” 

Aku tertawa kecil. berjalan ke bangku taman tersebut. “Sebenarnya kamu nggak usah repot-repot seperti itu.” 

“Bagaimana bilangnya, ya.” Efta terdiam sebentar. “Semenjak pembicaraan kita waktu perpisahan dulu. Aku merasa jika kamu bagaikan sebuah ‘hantu’.” 

Aku menatapnya tidak mengerti. Lagi-lagi Efta mengatakan hal yang berbau kiasan atau semacamnya. “Aku tidak paham. Maksudmu?” 

“Yah. Bukan ingin menyinggung perasaanmu. Tapi keberadaanmu sungguh berada di posisiku yang tidak terduga. Terkadang muncul dan itu membuatku sedikit takut. jujur saja.” jelasnya sambil menatap ke bawah. Seperti menyesali ucapannya barusan. 

Aku tertawa kecil. “Maaf-maaf. Jadi menurutmu aku ini bagai seorang ‘hantu’? Ah. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Tenang saja.” 

Kami terdiam sejenak satu sama lain. Dia menatapku lamat-lamat dengan tatapan yang terasa hampa. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya, tapi itu sangatlah berbeda daripada Efta dulu. Seakan ada kesedihan yang menumpuk dibalik kedua mata itu. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh remaja ini. Aku bisa merasakannya.  

“Asniefta, apakah kamu baik-baik saja?”  ucapku dengan sedikit khawatir padanya. 

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak tahu…. Sebenarnya aku tidak pernah membicarakan ini kepada teman-temanku yang satu kampus denganku.” 

“Masalah itu Eira lagi?” 

Dia mengangguk kali ini. Anggukannya begitu pelan sehingga aku saja tidak sadar jika dia mengangguk. 

Aku tertawa kecil. “Sudah tiga tahun semenjak itu terjadi. Kamu memutuskan untuk menyimpannya rapat-rapat di hatimu. Memangnya apakah kamu tidak berkenalan dengan teman kuliahmu sekarang?”

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya. “Tentu saja aku berkenalan dengan mereka.” Menghela napas. “Tapi jujur saja, aku merasa tidak begitu nyaman berada di sekeliling mereka.” 

Yah. Banyak dari temanku merasa seperti itu juga. Menurutku itu fenomena umum mereka yang tidak bisa move on dengan kehidupan SMA-nya. Bahkan aku sebenarnya di waktu tertentu merindukan masa-masa itu. Kehidupan yang kita bisa tertawa di antaranya. Kehidupan di mana kesibukan bukanlah hal yang begitu mengikat seperti sekarang. Meski sekarang aku telah beradaptasi dengan perkuliahan ini, tapi tetap saja. Di waktu-waktu tertentu aku ingin kembali menjadi seorang siswa SMA. 

Angin berhembus. Menggoyangkan rambutku. Membuatku tersadar jika kami telah berdiam diri satu sama lain. Suasana ini terasa canggung. Aku harus segera mencairkannya-

“Sudah musim gugur saja, ya?” Asniefta melanjutkan perbincangan. Dia mendongak ke atas. Langit terlihat mendung tapi di beberapa titik aku melihat semburat warna jingga senja yang keluar dari awan gelap. Itu terlihat fantastis. 

Aku menjawab. “Sekarang baru masuk bulan Oktober, sih. seharusnya masih akhir musim panas.” 

Lelaki itu menggeleng. “Faktanya, karena iklim sekarang tidak menentu. Patokan musim sekarang juga sudah tidak berarti lagi.” Terdiam sejenak. Mengatur napas. “Bahkan beberapa tahun lalu., di saat kita karya wisata bersama. Hari ini masih termasuk pertengahan- akhir musim panas.” 

Terkejut. Aku langsung mengecek tanggal hari ini di ponselku. Hanya menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Asneifta memanglah benar. 

“Aku tidak berpikir kamu akan mengingatnya sebegitu detailnya, Efta.” timpalku terhadap pernyataan barusan. “Atau kamu mengingatnya karena hal lain?”

“Kupikir kamu bisa menebaknya.” Dia menyeringai tipis. “Aku tidak akan bisa melupakan hari itu. Suara ombak yang datang silih berganti. Desir angin yang selalu berbisik. Ledakan dari kembang api yang selalu bersahut-sahutan.” 

Aku terdiam. Entah kenapa tiba-tiba aku membayangkan saat itu juga. 


[Special October Post!!]

Sebenarnya aku sudah tidak ingin membahas ini dan melanjutkan proyek baru. Tapi karena masih saja banyak orang yang menanyakan plot hole yang ada di dalam novel ini, jadi aku ingin membagikannya secara terpisah dari novel fisiknya. Nantinya dicetakan 2.0 bagian ini akan ikut serta meramaikan After Story dari It’s All About You. Meski aku belum terencana kapan, tapi akan kuusahakan secepatnya!

Tinggalkan Komentar