Diary 08 : Lagi

Maaf untuk sebelumnya. Dikarenakan saya benar-benar tidak sempat menulis apapun dalam blog ini, maka dari itu saya sangat meminta maaf untuk sebelumnya.

Beberapa hari terakhir saya merasakan sendiri rasanya ‘lelah’ dalam artian sebenarnya. Tidak. Saya tidak ingin berbagi kelelahan saya dengan anda sekalian. Jadi lewati saja perihal ini.

Kali ini saya membahas sebuah kejadian yang klise dalam kehidupan. Bahkan sangking klisenya, anda bisa menebak akhir dari awal. Atau setidaknya anda sendiri berulang kali malah telah merasakan hal ini? Ah, semoga anda tidak tersindir.

Saya akan menceritakan seberapa klise hal ini berulang terus-menerus. Apakah anda pernah menyukai seseorang? Saya harap anda sekalian masih normal dan pernah merasakan yang namanya menyukai seseorang. Saya mengutip kata ini dari sebuah novel yang cukup terkenal.

Kamu tahu, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.

Novel ‘Hujan’, Tere Liye

Kalimat ini sebenarnya sudah berapa kali saya telaah dan sebenarnya tidak terlalu menarik untuk dibahas. Tapi, coba kita telaah kembali. Sebenarnya esensi cinta dan menyukai itu ada di dalam perasaan. Ketika anda merasa canggung dengan seseorang. Merasa gelisah sekaligus senang. Merasa gembira sekaligus sakit. Merasa berharap dan kecewa dalam waktu bersamaan. Mungkin itu adalah esensi dari lonjakan perasaan itu.

Untuk saat ini saya tidak akan menjelaskan seperti apa definisi cinta itu. Karena hal tersebut cukup subjektif jika hal itu benar-benar diartikan. Perasaan adalah hal yang subjektif, secara tidak langsung tiada unsur objektif di dalamnya. Membuat saya merasa bersalah ketika saya menerangkan sesuatu yang salah.

Kejadian klise yang berulang kali dialami oleh seseorang itu adalah ketika ia mulai mengungkapkan perasaannya kepada seseorang itu. Anda tahu bagaimana?

Ketika seseorang itu berakhir dengan berpacaran maka saya rasa itu sangat klise. Bahkan mungkin ada puluhan atau ratusan ribu novel, film, dan sebagainya menerangkan hal itu. Saya rasa hal itu bukanlah hal yang menarik dibahas. Jika saya bahas disini, tidak ada perbedaan antara tulisan ini dengan ratusan ribu karya diluar sana.

Akan tetapi ada suatu kondisi, dimana esensi dari cinta itu benar-benar terasa. Ketika ada sepasang insan sedang merasa canggung atas apa yang mereka perbuat. Pada dasarnya mereka tidak memahami apa yang mereka rasakan. Seperti halnya mereka membaca sebuah buku yang sama sekali tidak dapat mereka pahami dikarenakan bahasa yang berbeda. Mereka tidak paham apapun apa yang hati mereka mau. Hal inilah yang saya sebut kondisi unik di antara klise.

Saya pernah mendengar suatu kisah singkat yang mungkin tidak terlalu menarik, tapi mengandung banyak sekali prinsip.

Alkisah, ada seorang remaja laki-laki yang mencoba menyampaikan perasaannya kepada lawan jenisnya dengan berbagai cara. Hingga suatu saat, gadis itu mulai memahami apa yang dimaksud oleh si lelaki. Akhirnya gadis tersebut berterima kasih telah menyukainya. Setelah mengetahui usahanya berhasil, sang lelaki pun cukup senang karena usahanya telah berhasil. Akan tetapi ini bukanlah akhir.

Setelah mengatakan hal itu, sang gadis pada awalnya tidak pernah sekalipun menyukainya. Hanya saja dia berterima kasih untuk terlihat lebih sopan. Perlahan demi perlahan dia mulai menjauh. Dan akhirnya sama sekali tidak berhubungan lagi dengan lelaki tersebut.

Memang benar, menyatakan perasaan menurut saya tidak memerlukan jawaban. Asalkan lawan bicara memahami apa yang kita maksud itu sudah lebih dari cukup. Yang menjadi masalah adalah setelah ini. Ketika seseorang telah menyatakan perasaannya lalu diterima dengan ‘baik’. Maka sejatinya ia akan ‘berharap’.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata berharap disini. Hanya saja, berharap itu seperti anda menggantung harapan diantara rasa sakit atas kecewa dan rasa gembira atas ‘berhasil’. Kejadian klise disini adalah ketika anda berharap lalu kecewa. Berharap kembali, lalu kecewa lagi. Dan seterusnya, berharap lagi, dan kecewa kemudian.

Untuk beberapa poin ini saya tidak mau mengembangkan lebih jauh karena pada akhirnya poin tersebut menerangkan fakta yang sama sekali tidak bisa saya bantah. Jadi saya akhiri saja dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuat anda berpikir. Apakah perasaan memang layak diungkapkan?

Diary 07 : Harga

Untuk menutupi kemampuan dan bakat Diperlukan kemampuan dan bakat juga.

Untuk saat ini saya masih sibuk mengurusi berbagai hal yang merepotkan. Sangat-sangat merepotkan sekali. Walau berulang kali saya mengeluh, itu tidak mengubah apapun. Jadi saya akan meneruskan kesibukan yang merepotkan ini.

Disaat saya memikirkan hal ini, saya baru menyadari ada yang aneh dengan saya. Entah kenapa, saya merasakan diri saya sendiri adalah orang yang berbeda dibanding setahun yang lalu. Setahun yang lalu saya adalah orang yang tidak memiliki tujuan apapun selain mengembangkan kemampuan saya. Selain itu hanyalah opsional belaka.

Tapi semenjak saya disibukkan oleh hal ini, saya merasakan bahwasannya saya bukanlah saya. Saya tidak biasa terlalu banyak menyendiri. Saya bukanlah tipikal orang yang pekerja keras dan pendiam. Saya bukanlah seseorang dengan tatapan merendahkan orang lain. Saya bukanlah orang yang seperti itu. Namun saat ini sebaliknya.

Saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi dengan saya. Semua hal yang saya kerjakan akan saya anggap menjadi hal yang serius dan perlu saya tanggung jawabkan dengan segenap jiwa dan raga saya. Itu adalah hal yang sangat berkebalikan dengan saat ini. Saya rasa saya lebih banyak berbicara dalam pikiran saya dan menganalisis sebuah hal daripada mencari tahu apa yang terjadi. Saya lebih banyak mengandalkan saya sendiri daripada harus berinteraksi dengan orang lain.

Ketika saya memikirkan hal itu, saya teringat dengan ‘kehidupan’ saya sebelumnya. Disaat itu, saya hampir mirip dengan sekarang. Bahkan tatapan mata yang saya keluarkan tiada bedanya dengan yang dulu. Cara saya menyampaikan hal mengenai kepedulian saya juga sama seperti waktu itu. Bahkan saya lebih terkesan “Selesaikan masalahmu. Karena sampai engkau membawaku didalamnya, kau akan tidak bisa berdiri kembali.”

Sekarang, saya adalah saya. Semoga anda tidak memahaminya. Saya membuat ini untuk arsip saya sendiri. Permasalahan anda memahaminya atau tidak bukanlah urusan saya.

Yang perlu anda garis bawahi, anda telah membaca tulisan dari seorang yang sebenarnya telah mati. Sampai kapanpun orang yang telah merasakan kematian ini akan terus menguasai saya. Ada satu cara untuk menghilangkan hal ini. Tapi hal itu sama sekali tidak bisa anda usahakan ataupun anda lakukan.

Biarkan saya membunuh diri saya sendiri lagi. Itu harga yang pantas.

Sebelumnya, saya menyembuhkan diri saya sendiri dengan membunuh diri saya sendiri dalam artian kepirbadian yang sangat tidak ingin saya gunakan. Saya tidak menyangka jika hal tersebut bisa kembali lagi. Orang mati tidak sepantasnya hidup kembali, apalagi menggantikan hidup orang lain. Oleh karena itu saya pribadi membenci hal yang berbau dengan ambisius. Itu hanya akan membuang hal yang telah saya sembuhkan menjadi datang kembali.

Tapi apakah hal ini berhasil untuk kedua kali? Saya takut jika saya membuangnya kesibukan saya bahkan beserta isinya akan hilang seketika. Tapi tentu saja saya lebih takut jika hal itu beanr-benar tidak bisa hilang dari saya.

Akibat dari fenomena ini membuat saya diliputi berbagai perasaan yang annoying. Bahkan saya memikirkan lebih dalam hal yang biasanya tidak saya pikirkan dengan matang. Saya membenci hal itu, tapi saya memang perlu membahasnya disini.

Sudah lama saya tidak menyatakan pernyataan kepada seseorang. Bukan karena saya memendamnya atau seperti apa, saya cenderung untuk tidak merasakan apa-apa. Ketika anda menyatakan sesuatu, anda harus bersiap dengan resiko dibaliknya. Oleh karena itu saya sangat berhati-hati dalam menyatakan sesuatu.

Selain itu, saya sama sekali tidak menemukan hal yang hilang dari hati saya. Benar-benar tidak ada hal yang hilang dari hati saya. Kurang lebih saya ingin mendapat kasih sayang dan pengertian atas kelelahan daya menjalani hidup, tapi sampai saat ini saya tidak mau berharap pada hidup yang akan memberi saya sebuah pasangan untuk hidup. Saya tidak mau hal itu menjadi beban pikiran saya dalam menjalani hidup saya yang berat ini.

Tapi terkadang saya merasa banyak bunga yang indah yag seharusnya saya simpan dan bawa kemana pun. Sesekali saya hanya ingin menghirup aromanya dan menadikannya sebagai koleksi yang indah. Tapi saya sadar, ketika saya melakukan hal tersebut itu akan merusaknya. Akan merusak seluruh hamparan bunga itu.

Jadi saya berharap kepada bunga-bunga tersebut untuk berkembanglah semampu yang dirimu bisa. Saya akan mengamati keindahan kalian dari kejauhan. Hanya sebatas itu saja sudah membuatku senang. Setidaknya setelah melayukan setangkai bunga yang sama sekali tidak bisa saya lupakan.

???? ?? : Cukup (?)

Bunga yang layu tidak akan berharap dia akan mekar kembali.

Alter

Tahun ajaran baru, Semester baru, Kelas baru, Lingkungan baru, Suasana baru, Lembaran baru, Kisah baru, dan tentu saja perasaan baru. Saya tidak paham lagi ‘keajaiban’ seperti ini akan selalu terjadi di tiap tahun kehidupan saya.

Sekarang lingkungan saya mencuci otak saya untuk belajar lebih keras daripada sebelumnya. Meninggikan ambisi serta ego masing-masing. Padahal saya sendiri tahu itu adalah langkah pertama menuju sebuah kehancuran. Tapi tidak apa, saya lebih suka seperti ini. Melihat satu per satu lubang kehancuran yang terbuka lebar di depan hadapan saya.

Jangan berharap pada apapun yang ada disini. Jika itu terlihat, anda pantas untuk tidak berharap pada hal tersebut. Ketika anda dibuat untuk percaya pada sebuah angka, disitu juga angka tersebut akan menghancurkan anda secara perlahan. Ketika hal itu terjadi, saya akan berpura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan.

Sejatinya perjalanan ini cukup melelahkan. Dimana anda dipaksa terus-terusan untuk berlari dan menyelamatkan diri anda sendiri. Padahal sejatinya anda sudah tahu, bahwa sebenarnya anda dikejar oleh sebuah hal yang mustahil sekali anda hindari. Terus-terusan berlari mungkin jawaban, tapi bermain secara efektif juga suatu jawaban. Anda bisa memilih bagaimana anda menikmati perjalanan ini.

Tapi anda seharusnya sadar. Ketika anda berlari, anda tidak akan menginjakkan kaki di tempat yang sama sebanyak dua kali. Maka dari itu terkadang berjalan sesekali juga perlu.

Apakah anda memahaminya? Saya rasa tidak mungkin. Semoga kalian selamat atas lubang yang berada di depan kalian.

Diary 06 : Hal Semu

“Jika anda menghormati saya, saya akan menghormati anda. Jika anda tidak bisa menghormati saya, saya lebih bisa lagi tidak menghormati anda.”

~Jasmerah

Hah. Untuk pertama-tama, saya mengucapkan minal aidzin wal faidzin bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Semoga kalian bisa memaafkan saya dari segala kesalahan yang saya perbuat.

Oke, jadi saya akan mengambil contoh dari paragraf diatas. Anda pasti merasakannya, dari kata-kata tersebut. Sang penulis menyesal dan meminta maaf. Mungkin kalian benar menebaknya, tapi menurut saya nilai tersebut ttidak sepenuhnya benar.

Penyesalan seperti itu akan hilang dalam sekejap, atau bahasa kerennya dia tidak akan memikirkannya lagi. Alih-alih dia memiliki penyesalan khusus. Dalam hal ini, saya tidak bisa memastikan bahwa dia adalah wujud dari penyesalan itu sendiri.

Saya akan membahas hal itu. Mungkin sebagian dari kalian masih mengingat bahwasannya saya telah membahas hal ini beberapa bulan lalu. Yakni mengenai perasaan. Disitu saya menulis : “Perasaan adalah kata hati anda terhadap apa yang anda pikirkan, rasakan, dan dengarkan. Seperti anda merasakan bahagia terhadap sesuatu yang menyenangkan ataupun anda merasa kecewa terhadap sesutu yang anda harapkan. Pemikiran inilah yang membuat hal yang sebenarnya irrasional menjadi sebuah hal yang rasional.”

Tapi apakah kalian mengetahuinya? Perasaan itu adalah hal yang semu. Anda mungkin bisa mengatakannya, tapi anda akan menghilangkannya. Anda mungkin bisa mencerminkannya, tapi anda tidak mengetahui alasan dibaliknya. Anda mungkin bisa menuliskannya, tapi tidak bisa anda pertanggung jawabkan.

Ini berlaku untuk hampir seluruh perasaan yang ada di dalam dunia ini. Antara kalian percaya atau tidak. Ibarat jika saya mati saat ini juga, saya lebih baik tidak menerima tangisan dari siapapun daripada ada yang berpura-pura menangis di pemakaman saya. Toh, lagian tidak ada siapapun yang ingin peduli dengan saya.

Mungkin jika saya ingin melebih-lebihkan hal ini, saya akan menjelaskan mengapa seseorang lebih baik sendirian daripada dia tidak sendirian tapi jiwanya merasakan kesepian. Tentu saja, mental perasaan kedua orang itu akan berbeda. Karena tentu saja, orang yang berada di keramaian akan lebih mengetahui tentang seluk beluk kebusukan seseorang sehingga ia tidak ingin campur aduk dengan sekelompok orang tersebut. Saya juga merasa kasihan kepada orang-orang yang selalu mengikatkan dirinya pada sebuah identitas yang ada. Karena pada dasarnya ia adalah orang terbusuk daripada orang yang mengangkat harga dari identitas itu.

Mungkin paragraf tersebut akan berat untuk kalian, tapi saya mengatakan ini khusus kalian yang terlalu mengikatkan diri pada sebuah identitas. Tapi anda mungkin akan menyadarinya, bahwa ini semua adalah hal semu lainnya.

Intinya apa yang kalian rasakan dengan hati kalian itu semua sebagian besar addalah hal semu. Walau anda bersikeras menentang hal ini, tapi saya memiliki hal yang lebih objektif untuk menjawab hal ini.

Dan satu lagi yang ingin kusampaikan pada kalian. Tidak butuh orang pintar untuk memahami hal diatas, selagi anda bukanlah sosok yang benar-benar orang yang terburuk dari yang terburuk yang pernah membaca tulisan saya ini. Berlebihan? Sepertinya anda harus menelusuri hidup anda sendiri untuk mencari jawabannya.

Perasaan akan menjadi hal yang semu. Setiap hal yang semu tidak akan berarti apapun. Lebih baik 0 dibandingkan 6 dikurangi 7.

???? ?? : Avidity

Minggu, 26 Maret 2023

           Laptop di depanku berpendar dengan lembutnya. Menampilkan sebuah halaman yang penuh dengan tulisan. Suara jariku yang mengetik mulai menghiasi pikiranku saat itu juga. Tapi masa bodoh, aku tidak memerdulikan hal itu semua. Asalkan pekerjaanku ini selesai, aku sudah bisa menghembuskan nafas dengan lega.

            Kalimat demi kalimat kuselesaikan dengan cepat. Aku tidak mau menghabiskan banyak waktuku di depan laptop seperti ini. Dengan kondisi ruangan kamar yang gelap, aku mungkin bias dibilang sedikit lebih fokus daripada sebelumnya.

Karena aku adalah orang yang berusaha untuk teliti, setelah selesai bagianku ini aku langsung meneruskan kegiatanku dengan membaca bagian yang sebelumnya. Cara seperti ini menurutku efektif untuk menghilangkan kesalahan yang serupa di bagian yang akan datang.

            Akan tetapi, aku berhenti membaca ketika membaca kata itu. Sepersekian detik kemudian aku tidak bisa berkata-kata  untuk membahas apa yang baru saja aku baca. Hatiku terlalu perih untuk dapat menceritakannya. Walau sebenarnya aku adalah termasuk orang tidak terlalu peduli, tapi menurutku hati seseorang memang tidak bisa ditebak.

            Disaat aku masih membeku menatap kata itu, aku merasa sudah sepantasnya aku menyadari kesalahan dan kebodohanku itu. Seharusnya aku menyerah dan sadar, bukan berharap dan mengejar. Untuk saat ini kuakui akulah yang bermasalah disini. Aku terlalu memaksa sehingga tidak ada yang tersisa. Semoga aku diampuni atas hal ini.


Rabu, 10 Agustus 2022

Aku terbangun disaat bel berbunyi nyaring. Tapi, aku sama sekali tidak memahami mengapa ada bunyi bel di kamarku? Apa aku masih bermimpi?

            Ketika aku mulai membuka mata, aku mengetahui ini adalah kelasku. Tidak mungkin salah lagi. Dari semua raut wajah yang kulihat, aku mengenali semua mereka. Cara mereka berbicara, suara mereka, serta perilaku mereka. Tapi tunggu dulu. Mengapa aku bisa sampai kesini?

            “Perhatian, semua!” teriak seorang gadis yang tak asing bagiku. Kalau tidak salah dia adalah seorang kakak kelasku. “Ekstrakurikuler sudah dibuka mulai hari ini, jadi sebisa mungkin ikuti kegiatan yang telah kalian pilih, ya!”

            Wah, bersemangat sekali.

            Tunggu dulu. Itu bermakna satu hal.

            Aku langsung reflek membuka ponselku yang ada di kantong celanaku. Memastikan suatu hal yang dimana aku berharap bisa mengulanginya lagi. Ya, aku ingin mengubah alur ceritaku sebelumnya.

            Aku mencoba menyakiti diriku sendiri setelah keluar dari kelas. Aku merasa semua ini hanyalah mimpi, tapi ternyata ini sungguh nyata. Satu hal yang bisa kusimpulkan saat ini adalah : aku terlempar pada tujuh bulan sebelum alur cerita utama terjadi tadi. Sekarang adalah MOS SMA ku, dimana hari ini adalah hari pengefektifan klub-klub ekstrakurikuler yang ada. Aku memang mendaftar di salah satu klub tersebut, sih. Yaitu Klub Cerita dan Sastra.

            Dengan praktis, aku menuju ruangan Klub Cerita dan Sastra itu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka pintu ruangan klub. Dihadapanku ada seorang gadis berkacamata yang tengah membaca buku. Hanya saja karena mungkin terkejut atas tingkahku, dia menatapku dengan penasaran.

            “Maaf membuatmu terkejut…”


            Namanya adalah Viattara. Dia adalah gadis yang baik, ramah dan memiliki kesukaan yang sama denganku. Gadis itu jugalah yang menemani proyekku beberapa bulan terakhir (sebelum aku terjebak di masa kini). Viattara juga banyak menghabiskan waktu denganku, walau hanya sekedar berbicara mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

            Aku sebenarnya juga tidak menyadarinya. Aku menganggapnya sebagai seorang teman yang memiliki kesamaan denganku. Jadi aku bisa berbicara nyaman dengannya mengenai hobi menulis kami. Akan tetapi bagaimana ya, aku menjelaskannya? Aku tidak tahu bahwa faktanya, “Banyak perasaan dimulai dari pertemanan. Akan tetapi, banyak juga pertemanan harus berakhir karena perasaan.”

            Jadi selama tujuh bulan terakhir, aku meminta tolong untuk membantuku dalam proyekku. Tapi karena aku tidak ingin terasa egois, aku membiarkan proyek ini menjadi proyek kami berdua. Oleh karena itu aku terkadang meminta kritik dan saran darinya. Setidaknya agar dia juga ikut berpengaruh dalam pengembangan alur dan pembuatan cerita.

            Dalam rentang waktu itu juga, ku akui aku mulai menyukainya. Aku suka saat dia berpikir untuk mendapatkan kata-kata selanjutnya. Aku suka susunan kalimatnya yang unik itu. Aku suka sikapnya yang ramah dan teliti itu. Aku suka matanya yang begitu meneduhkan menurutku.

            Tapi aku pada akhirnya tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan hal tersebut. Bahkan aku sama sekali tidak mau mengatakan hal itu. Lebih baik mengaguminya dari jauh, daripada dia tahu lalu pergi menjauh.

            Begitulah hubungan kami selama tujuh bulan terakhir. Aku tak tahu apakah itu sudah benar atau salah, tapi menurutku lebih baik seperti itu dan menjalaankan alur yang sudah ada. Aku adalah seorang penulis, jadi aku tahu karakter di dalam cerita akan ada alur ceritanya tersendiri. Dia bisa melawan alur itu dan merubahnya atau dia bisa merusak alur tersebut. Maka dari itu keyakinanku, jika garis cerita kami memang terhubung di masa yang akan mendatang. Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Tapi, apakah itu akan berjalan dengan semestinya?


Rabu, 22 Maret 2023

           Itulah pemikiranku sepagian ini. Aku tahu itu pikiran yang sangat mendalami. Bahkan aku sendiri tidak yakin aku akan berpikir sebegitu jauhnya. Atau aku memang sekhawatir itu? Ah, masa bodohlah.

            Hari ini adalah hari dimana aku dan Viattara membahas tentang kemajuan proyek kami. Ini jugalah hari dimana gadis itu akan melebarkan jaraknya kepadaku. Tapi karena aku telah ‘mengulangi’ waktu dari kita bertemu, semoga saja kali ini hubungan kami baik-baik saja. Aku takut kehilangannya, maka dari itu aku harus menjaganya. Bukan, begitu?

            Aku pun satu persatu menyelesaikan kegiatan hari ini. Satu per satu mengusir rasa gugupku. Tapi semakin dekat dengan waktu itu, aku malah semakin cemas bahwasannya semua akan sama saja. Dia akan pergi menjauh dan aku hanya bisa menatap sisi yang membelakangiku saja.

            Sampailah disaat dimana kita mulai membahas kemajuan proyek kami di perpustakaan. Aku menerangkan bahwasannya beberapa orang mulai tertarik atas proyek kami, sebagai gantinya mereka juga mula menginteraksi akun media sosial kami. Walau tidak terlalu banyak, tapi menurutku ini adalah awal yang bagus. Karena hampir beberapa bulan kemarin, hampir tidak ada yang tertarik membaca proyek cerita kami.

            “Wah, jadi aku harus berusaha lagi, ya.” Komentarnya di akhir penjelasanku. Sembari tertawa kecil tentunya.

            “Tentu saja.” Balasku dengan cepat. “Mungkin mereka terpukau atas mahakarya dari mu, Via.”

            “Kau bisa aja.” Jawabnya sambil tertawa. Tawa kami pada sore itupun terus berlanjut sampai ketika.

            “Via. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan.” Ucapku. Aku benar-benar memberankan diriku untuk hal ini. Menurutku, kalian paham aku akan melakukan apa. Jadi tak perlu kujabarkan lebih lagi.

            “Jika boleh jujur. Aku menyukaimu.” Diam sejenak. Menatap gadis tersebut. “Aku tidak berharap kita berpacaran atau seperti hal-hal itu. Aku ingin kau masih ada di sampingku. Setidaknya kita masih membutuhkan satu sama lain.”

            Aku menutup mataku setelah mengucapkan kalimat terakhir itu. Menundukkan kepalaku. Aku tahu dia mungkin saat ini bingung mau menjawabnya seperti apa.Tapi aku mohon untuk setidaknya jawabanmu tidak menjauh dariku.

            “Maaf.” Jawabnya. “Maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu itu. Aku senang kau bisa bahagia dan nyaman bersamaku, tapi maaf aku tidak bisa menerima itu semua. Aku sungguh minta maaf. Bukan berarti aku tidak menyukaimu, tapi aku benar-benar tidak bisa.”

            Ternyata benar. Kami berdua bagai sebuah senja dan dataran. Saling melihat tapi tak saling terikat. Saling menatap tapi tak saling menetap. Saling memberi harapan tapi tidak dengan kepastian.

            “Maaf, ya. Aku mau pamit dulu.”

Minggu, 26 Maret 2023 (2)

            Aku tidak mau membahasnya lagi. Mungkin kami masih bisa disebut dekat, tapi aku hampir membuang seluruh rasa sukaku kepadanya. Kami memang masih bertukar pesan, tapi tidak lebih jauh daripada hal sepele itu.

            Aku akan berharap bahwasannya kami telah ditakdirkan dengan sedemikian rupanya. Mungkin belum saat ini kami seharusnya bersama, adakalanya nanti kami berdua akan bersama dan mulai bertukar kata-kata sepele seperti “Selaamt pagi”,”Sampai jumpa”,”Selamat datang”, dan sebagainya. Disitulah kami akan mulai mengukir kenangan-kenangan yang indah.

            Semoga saja, takdir seperti itu akan muncul di alur ceritaku. Aku sangat menantikannya. Dan semoga saja untuk kali aku tidak akan merasa kecewa lagi.


“Selamat pagi” “Sampai jumpa” “Selamat datang di rumah”

Saya ingin terus bertukar kata-kata yang tidak bersalah dan sepele ini dengan Anda.

Semua saat berada tepat di sisi Anda.

“Karena aku mencintai kamu.”

Hatiku platonis

Dan ingatanku perasaan meluap

Ya, ini hanya perasaan cintaku padamu.

Jika aku bisa mengakui ini padamu,

Apakah saya bisa berubah besok?

Aku berdoa semoga aku bisa terus menambah kenangan bersamamu.

(Sukinanode – Amamiya Sora ~ Plastic Memories Ost)

[ANNOUCEMENT] Sementara

Aku terlalu percaya, untukmu yang menganggapku bercanda.

~ReeShiragami

Untuk kelanjutan proyek Aozenith kedepannya akan ada hiatus sementara dikarenakan beberapa alasan. Akan tetapi yang paling mendasari keputusan ini adalah karena datangnya Bulan Suci Ramadhan. Jadi kami memutuskan untuk menghentikan proyek ini pada tanggal 20 Maret 2023 nantinya.

Akan tetapi tenang. Sebagai kompensasi, saya akan membuat Special Chapter untuk seri kali ini. Jadi tunggu saja informasi berikutnya dari saya.

Diary 05 : “Saya Ingin Mati”

“Saya ingin mati”

“Apakah kau yakin menginginkannya?”

“Saya pikir, menghilang dari dunia dengan arti benar-benar menghilang adalah mati. Oleh karena itu saya menginginkannya.”

“Mungkin kau hanya ingin lebih diperhatikan?”

“Saya sudah muak dengan dunia ini. Perhatian dunia adalah hal terbodoh yang pernah saya rasakan.”

“Tapi kau terlihat senang saat itu…”

“Saya berharap saya dapat mati sekarang.”

“Baik. Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Jika pada akhirnya seseorang akan mati dalam kesendiriannya. Saya harap saya dapat melakukannya. Walaupun saya sebenarnya tidak siap melakukannya.”

“Jika tidak siap, mengapa kau ingin mati?”

“Kau tidak paham.. Kau tidak akan memahaminya…”

“Walau aku hanyalah seorang yang kau ajak bicara. Tapi aku tahu kau sedang menangis saat ini.”

“Kau….”

“Karena yang kau ajak bicara saat ini adalah dirimu yang lain.”

“Jika kau diriku yang lain, kau seharusnya memahamiku!”

“Maaf. Kita adalah pemikiran objektif dan subjektif dari tubuh kita. Oleh karena itulah aku tidak bisa menyetujuimu begitu saja.”

“Saya ingin mati. Mungkin kau tahu mengapa?”

“Aku tahu kau sedang merasa terpuruk untuk saat ini. Dimana kau selalu melawan hal yang tidak bisa kau kuasai dan kau lihat. Oleh karena itu kau menginginkan kematian. Bukan begitu?”

“Jika kau tahu. lantas mengaoa tidak menyetujui saya?Kau tidak tahu seberapa ketakutan yang kurasakan. Jika kau mengetahuinya seharusnya kau bisa memahaminya. Di waktu yang akan datang. Kita entah akan menjadi apa dan akan bagaimana!”

(Diam)

“Lalu kau masih berharap pada masa depan? Saya sendiri tidak akan berharap akan melihat masa depan yang dipenuhi oleh hal-hal seperti itu.”

(Diam)

“Dan masa lalu. Walau kau telah banyak membuatku tabah hingga saat ini. kau telah mengajariku juga hingga titik ini. Kau tidak hanya sebatas sebuah pengalaman yang merepotkanku di setiap waktunya!”

“Sekarang pertanyaannya.”

“Apa kita akan mati?”

“Menurutmu?”

“Tentu saja, saya akan membunuh diri saya kembali.”

Project 02 : Aozenith (ft. Xelyn Ivalery)

Resiko. Kata itu tidak bisa lepas dengan ‘Pilihan’. Ketika aku memilih dan memutuskan sesuatu, kalimat itu selalu menghantui diriku. “…Ini adalah keputusan yang sulit. Bagaimanapun resiko tetap ada. Seharusnya tiada lagi penyesalan yang tersisa.” Aku pun mulai bertanya pada diriku sendiri. Resiko seperti apa lagi yang akan kuhadapi kali ini?

~Flatte

Yah. Jadi mungkin blog ini diupload sedikit agak telat dari kehadirannya Project : ‘Aozenith’ yang berada pada akun wattpad saya pribadi. Biasa saya harus mengurus beberapa hal sebelum menentukan langkah selanjutnya. Maksudku, agar tidak terjadinya hiatus berulang kali seperti Project : ‘Frasytter’.

Nah, jadi karena alasan telatnya sudah kusampaikan pada kalian,sekarang saya mau membahas sistem dunia yang ada di Project : ‘Aozenith’ ini. Dimulai dari mana dulu, ya enaknya? Ah, begini saja.

Aozenith merupakan karya pertama saya yang bisa jadi bentuk dari kolaborasi dari partner saya yang bernama Xelyn Ivalery. Sebenarnya poyek ini sendiri terinspirasi dari saya membaca sebuah nove yang sangat unik sekali. Dimana konsep novel tersebut berbeda dari novel pada umumnya. Jadi setiap bab memiliki tokoh utama masing-masing. Seperti contoh, Bab 1 Diperankan oleh A dan Bab 2 diperankan oleh B. Kurang lebih seperti itu konsepnya. Dikarenakan konsep seperti ini lebih cocok untuk novel ber-genre romance jadi kalian mungkin bisa menebak genre-nya seperti apa sekarang.

Berfokus pada masalah yang terjadi si Sebuah Distrik yang bernama Calais. Distrik ini merupakan distrik yang terbaik yang pernah ada. Bisa dibilang lebih maju daripada kebanyakan distrik lainnya. Karena mereka bisa mengatasi masalah terbesar manusia, yakni memperbaiki kualitas manusia tersebut. Sumber daya manusia di Distrik Calais sangatlah bermutu tinggi, karena pendidikannya yang tidak pernah mengecewakan hasil yang mereka peroleh.

Cerita pun dimulai ketika sebenarnya ada organisasi yang diam-diam dibentuk untuk menjalin hubungan antar sekolah. Organisasi tersebut diharapkan dapat menciptakan kedamaian dalam permasalahan antar sekolah. Di Distrik Calais sendiri ada beberapa sekolah yang didirikan oleh pemerintahnya. Yakni Sekolah Calais Pusat, Selatan, Utara, Barat, Timur, dan Tenggara. Lalu setelah itu, Sekolah Calais Selatan secara mendadak akhirnya ditutup.

Kisah berfokus pada Flatte, seorang remaja lelaki yang mengetahui alasan mengapa Sekolah Calais Selatan ditutup secara mendadak. Sebelumnya dia memang salah satu pelaku dari kejadian penutupan itu, hanya saja dia mungkin tidak ingin terlibat dalam masalah itu lagi. Flatte jugalah seorang Ketua Dewan Diplomasi Sekolah Calais Pusat dulunya, sebelum ia memutuskan untuk pindah dan melanjutkan sekolahnya di Sekolah Calais Barat.

Dibawah kepemimpinan Dewan Diplomasi Sekolah, ada bagian keamanan yang rela mengorbankannya hidupnya untuk mencegah sesuatu yang merusak dari luar. Mereka jugalah garis pertahanan pertama yang mengurusi kontak fisik dengan sekolah lain.Disisi lain, mereka adalah orang-orang yang menangani tugas-tugas kotor dari Anggota Dewan Diplomasi Sekolah. Salah satu pasukan terhormat itu adalah Iura. Seorang gadis biasa yang berambut hitam panjang. Akan tetapi karena beberapa alasan, gadis itupun berani untuk keluar dari Sekolah Calais Pusat dan menjadi seorang siswi di Sekolah Calais Barat. Mereka pun bertemu. Layaknya sebuah benang merah takdir yang kusut, kini telah ditemukan ujungnya lagi.

(Press ‘F’ for Respect) udah selesai malah ngga kesimpen:(

Aozenith ini berfokus untuk menceritakan perjuangan Flatte dan Iura dalam menghadapi musuh mereka. Samapai suatu waktu, mereka berdua menyadari bahwa mereka ternyata menghadapi musuh yang sama. Seiring berkembangnya waktu, mereka berdua pun mulai menjadi dekat layaknya seorang sahabat. Lembaran baru dibuka, dan cerita baru dimulai. Mungkin yang jadi pertanyaan disini adalah, seperti apakah akhir dari Flatte dan Iura ini?

Proyek ini sudah ada dari tanggal 1 Februari kemarin dan akan saya mulai serialnya mulai tanggal 6 Februari 2023 nanti. Saya usahakan enam hari sekali untuk mengupload bagian terbaru. Jadi tunggu saja untuk tanggal 6 nanti. Selain itu, saya meminta maaf untuk semua pihak dikarenakan ada sedikit kesalahan dalam peng-upload-an ini dikarenakan saya juga lelah jadi ngga kesimpen sebelum upload. Dan untuk segala pihak saya juga mengucapkan terima kasih karena menurut saya anda adalah seseorang yang spesial karena telah meluangkan waktunya untuk membaca blog saya kali ini. Juga teruntuk Xelyn Ivalery, terima kasih atas bantuan anda selama ini. Bisa jadi jika anda tidak ikut serta dalam proyek kali ini, mungkin cerita Aozenith ini tidak akan terbentuk dengan konsep yang agak mainstream.

Sekian terimakasih~

???? ?? : Saya benar-benar tidak memahaminya

Cerita dimulai pada kehidupan baru aku. Setelah lepas dari jeratan tali yang mengikat leher aku sedari lama, akhirnya aku merasakan sebuah kebebasan. Akan tetapi alih-alih menjadi seekor burung yang bebas terbang di atas sana, aku malah terjatuh kedalam sebuah lubang yang tidak tahu kapan akan berakhir.

Disaat aku memikirkan hal itu, aku mulai menyadari bahwa tangan saya berhenti menari diatas keyboard.

“Apakah masa depan masih ada?”

Aku tidak dapat menggambarkan ekspresiku saat itu. Sungguh, aku sama sekali tidak bisa membayangkan ekspresiku sendiri. Mengapa, mengapa hal ini terjadi padaku ‘lagi’?

Lupakanlah, cerita di atas. Mari kita memulai awal yang baru. Yah, ini bukanlah imajinasiku belaka. Tapi aku sangat berharap jika suatu saat nanti tujuan ini berhasil

Liburan semester membuatku hanya mengurung diri di kamarku. Alih-alih menikmati liburan dengan ‘sepantasnya’, aku malah menghabiskan liburan dengan menatap layar monitar terus-terusan. Tanpa mengagendakan apapun dalam kalender yang tergantung di pojok kamar sana.

Sembari melanjutkan ketikanku sebelumnya, aku mulai menata fantasiku untuk menulis hal itu lagi. Tanganku meraih seonggok ponsel yang berada di samping laptopku, membukanya lalu tersenyum melihatnya. Lalu kembali lagi melihat layar monitar yang terpampang banyak sekali kalimat yang abstrak.

Sungguh. Aku tidak menyadari apa yang terjadi padaku waktu itu. Aku merasa ada hal yang aneh padaku. Tidak bisa kupungkiri, hal itu lama-kelamaan mengganggu diriku secara pribadi. Tapi aku tahu, kutukan itu selalu mengikutiku dimana pun aku berkelana dalam kehidupan ini.

Sedikit demi sedikit aku mulai menyelasaikan bagianku, dan dia juga melaksanakan tugasnya dengan baik. Itu sangat jauh dari perkiraanku. Bukan bermaksud meremehkannya, aku bersyukur dia ada untuk membantuku. Jujur aku merasa agak senang karena salah satu impian kecilku yang tak mungkin tergapai kini telah terwujudkan dengan sangat bagus sekali.

Sampai suatu ketika aku berani menatap matanya, aku tidak tahu warna apa iris matanya itu. Tapi pola matanya jujur, itu terlihat menawan untuk sosoknya. Apalagi teruntuk kepribadian menulisnya. Itu jauh dari sosok yang kubayangkan sebelumnya. Aku pun tersenyum kecil untuk menghargainya.

Tapi mungkn benar, beberapa kejadian tidak bisa seperti yang aku harapkan. Jadi aku malah tidak bisa mengerti apa yang dia mau ataupun sebaliknya. Sungguh minta maaf untuk hal itu. Tapi tolong baca kata-kataku ini, anda mungkin terlalu berharga untuk orang seperti saya. Mohon untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dengan saya.

Akan tetapi, aku bukanlah tipikal orang yang terus-terang. Oleh karena itu aku tidak ingin menyakiti perasaannya dan mengikat komitmen yang telah kuberikan selanjutnya. Untuk saat ini dan seterusnya…

Akan tetapi apakah aku berharap lebih? Ah, tapi aku tidak berharap apa pun selain menyelesaikan proyek ini. Bukan begitu, Partner?


今、会えた空で、君が笑っていた。

Sekarang, di langit dimana kita bertemu, kau terlihat tersenyum

胸が叫び出したんだ。瞼からあふれた。

Hatiku mulai berteriak. Air mata meluap dari kelopak mata.

今、会えた空は、息が届く距離で。

Sekarang, di langit dimana kita bertemu, dalam jangkauan nafasku

言葉叫ばなかった。目と目見つめ返した。

Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya memandangmu dari mata ke mata.

LilaS – SawanoHiroyuki[nZk]:Honoka Takahashi

[ANNOUCEMENT] Penyesuaian

“Acapkali, yang disebut orang sebagai takdir. Biasanya merupakan kebodohannya sendiri.”

Buku Refleksi FIlosfis

Tiga bulan lamanya saya tidak mengurus blog ini. Yah, terkadang beberapa sesuatu memang tidak bisa saya kendalikan secara penuh dalam kehidupan.. Kadang didemin diem, Kadang didemin ngelunjak. Jadi suka bingung aja gitu mau berbuat seperti apa. Ujung-ujungnya malah jarang ngetik di blog pribadi sendiri.

Tapi karena saya pribadi tidak membuat konten blog selama 3 bulan ini, bisa dibilang saya menemukan hal-hal yang menarik yang kini bisa saya bagikan kepada kalian. Yah, hanya beberapa saja, sih. Tapi saya berani jamin orang-orang yang membaca blog kali ini akan mengetahui langkah saya selanjutnya (kalau paham sih).

Sebelum memulai beberapa pengumuman selama tiga bulan terakhir, saya ingin merenungkan sesuatu yang mungkin menjadi kegiatan yang pasaran di tiap awal tahunnya.

Ya, jadi pergantian tahun terjadi ‘lagi’,’lagi’, dan ‘lagi’. Saya tidak tahu seperti apa tepatnya apa yang menunggu saya di tahun 2023 ini. Akan tetapi saya sangat amat banyak belajar dari 2022 yang telah berlalu. Pada awalnya saya memang ‘sedikit menyerah’ mengenai awal tahun pada 2022 silam. Jadi waktu itu ketik saya benar-benar terpuruk, saya mencoba untuk melupakan semua hal itu. Tapi kalimat pada buku itu memang benar. Bahwa :

“Barangsiapa yang bisa menerima, maka ia akan bisa melupakan. Barangsiapa yang tidak bisa menerima, maka ia akan mengingat hal tersebut seumur hidupnya.”

Mungkin bisa dibilang rasa itu selalu emnghantui saya. Jadi saya mungin akan menerima hal tersebut sedikit demi sedikit. Dan semoga saja tidak ada hal-hal yang aneh akan terjadi lagi.

Langsung saja, karena mungkin saya akan sibuk beberapa bulan kedepan. Saya akan mengatakan untuk menidurkan Frasytter untuk kedua kalinya. Bukan karena hal pribadi, karena memang ada banyak proyek yang saat ini memang harus saya kerjakan dan fokuskan terlebih dahul. Santai saja. Frasytter mungkin akan berbeda dari versi awalnya. Mengapa? Karena sampai saat ini alur dan catatan mengenai proyek Frasytter masih saya kembangkan dan catat terus-menerus. Oleh karena itu, mungkin saya akan membuat Frasytter lagi yang baru dengan menghilangkan yang dulu saya kerjakan.

Nah, proyek yang saya kerjakan beberapa bulan kedepan adalah sebuah proyek bersama. Jadi saya lebih berfokus kepada pengembangan aur cerita dan penggambaran tokoh agar terkesan menjanjikan. Belum lagi saya masih berharap kepada satu proyek yang selama 2 minggu ini kami kerjakan bersama seorang rekan saya. Mungkin jika sudah selesai, saya baru akan memplubikasikannya. Karena kekhawatiran pertama saya adalah menambah proyek yang ujung-ujungnya tidak terselesaikan dan semacamnya. Maka dari itu nantikan saja,

Proyek ini belum ada tebakan kapan rilisnya atau selesai pengerjaannya. Jika nanti mungkin kami sudah menyelesaikannya, saya akan menulis beberapa sinopsisnya disini sama seperti Frasytter dulu. Intinya tenang saja, saya akan tidak jauh dari dunia menulis ini lagi. (Padahal niatnya diselingin belajar B. Jepang)

Itulah beberapa pengumuman saya untuk awal tahun kali ini. Yah, mungkin sebagian ada yang kecewa atau lebih tepatnya tidak peduli, intinya saya pribadi meminta maaf jika hal itu membuat kalian sebagai sang pembaca Frasytterkecewa. Mungkin jika proyek kali ini cepat selesainya, Frasytter akan saya lanjut setelah beberapa bulan kedepan. Mungkin bulan ke-4 atau 5. Kita lihat saja nanti