Diary 14 : I’ve Fallen, Right?

Tidak perlu saya akui. Kami adalah ‘malaikat’. Kami adalah sisi baik dunia ini. Kami adalah orang-orang yang mampu dalam hal apapun. Kami memiliki basic skill yang bisa kami jadikan acuan untuk bertahan hidup. Kami adalah pemikiran rasionalitas yang di mana selalu berlandaskan logika yang benar. Kebekuan dalam berpikir? Hah. Itu hanya jadi masalah untuk masyarakat rendah.

Tiada seorang pun yang bisa menyaingi kami. Dalam hal apapun.

Kami adalah ‘halo’. Kami adalah ‘cahaya’. Sebuah halo yang berisikan hanya beberapa orang. Bisikkanlah nama kami di sebuah kota, maka satu kota akan berseru mengagumi kami. Bisikkanlah nama kami di telinga seseorang, maka orang itu akan merasa dia tidak sebanding dengan kami sama sekali.

Kami adalah ‘senjata’. Kami adalah ‘alat’. Kami bisa ‘menyakiti’ jika kami mau. Dengan pemikiran rasionalitas seperti ini, adakah yang bisa menghentikan kami? Cobalah untuk menghentikannya, maka tiada siapapun yang sanggup. Hanya orang bodoh yang akan mencoba menghentikan sebuah senjata.

Kami adalah fenomena, bukan objek. Kami hadir seperti sebuah kejadian yang langka. Seperti layaknya kaleidoskop yang 1:1000 kemungkinan menghasilkan warna yang indah. Tidak pernah dibayangkan. Yap. Sebuah fenomena yang memiliki kemungkinan kecil sekali untuk terjadi.

Di dunia luar yang hina ini. Kami tidak sebanding dengan siapapun.

Terutama aku. Aku juga tidak sebanding dengan siapapun. Bahkan dengan kami sendiri.

Aku adalah ‘malaikat yang terjatuh‘. Fallen Angel. Sebuah halo yang terpecah. Aku tidak punya identitas sebagai siapapun. Aku bisa dibilang sudah tidak memiliki identitas malaikat dan juga makhluk lainnya. Aku berperilaku seperti ‘halo utuh‘ tapi ‘tidak lagi utuh seperti sebelumnya‘. Aku bukanlah kami. Aku adalah aku. Aku fenomena itu sendiri. Fenomena yang kurang lebihnya memiliki 0,00008% kemungkinan untuk terjadi.

Aku adalah rasionalitas. Aku adalah senjata. Aku adalah alat.

Maka dari itu, untuk apa ke-irasionalitas-an? Hanya buang waktu.

Jika dari kami memiliki label sendiri. Maka label untuk diriku adalah “Angel of Manipulating”

Aku tidak sebanding dengan kami. Jika diibaratkan, aku adalah sebuah titik di koordinat kartesius. Di mana tidak ada yang mengetahui keberadaanku sebenarnya. Di mana tidak ada yang bisa bersinggungan denganku. Di mana tidak akan ada yang bisa menemukan dengan pasti lokasi koordinatku.

Aku adalah senjata. Aku bisa menyakiti jika aku mau. Tentu saja itu akan menyakitkan.

Di dunia yang kejam ini. Aku adalah aku. Tidak akan ada yang sebanding denganku. Bahkan bayanganku sendiri tidak ada bandingannya dengan diriku. Ketika di kegelapan, aku melihatnya pergi meninggalkanku. Maka dari itu aku selalu sendirian.

Aku adalah seorang pengintai. Teman terbaikku adalah malam dan tempat pertunjukkanku adalah siang. Aku akan berakting selayaknya orang-orang di sekitarku. Berbaur. Melakukan kebodohan yang sama dengannya. Tapi itu semua hanyalah tipu muslihat. Sejatinya aku tidak akan pernah sebanding dengan siapapun.

Tanyalah kepada malam. Sudah berapa kali aku berjalan dengan kejam di bawahnya? Sudah berapa kali aku menangis di bawahnya? Sudah berapa kali aku memutuskan pilihan yang sulit di bawahnya? Sudah berapa kali aku ‘membunuh diriku‘ di dinginnya? Sudah berapa kali aku bersumpah di dalamnya? Sudah berapa kali aku berdoa di desiur anginnya?

Aku adalah aku. Tidak ada sebanding denganku.

Cobalah untuk menghidupkan hatiku. Mungkin itu akan sedikit berbeda.

Tinggalkan Komentar