Short Story : Suara Ombak Waktu Itu, Kamu Mengingatnya? (Bagian 1)

Kamu tahu firasat? Firasat adalah psikologis manusia di mana hasil dari beberapa kejadian yang lalu dan dirangkum dalam sebuah perasaan. Intinya, sebuah perasaan yang tidak akan bisa kalian tebak terhadap sebuah kejadian yang akan terjadi. Seperti contoh ketika kamu berangkat sekolah dan melihat gedung sekolah tersebut dalam keadaan sepi. Dari sana mungkin kamu akan merasakan firasat bahwa ada yang salah. Antara mungkin kamu yang terlalu pagi atau memang hari itu adalah hari libur.

Itulah yang sedang kupikirkan senja ini. Di saat aku lagi-lagi menatap matahari bersiap terbenam di ufuk barat yang berbatasan dengan horizon laut jauh sana. Aku merasakan firasat yang aneh. Seakan-akan aku baru pertama kali merasakan firasat yang seperti ini.

Senja masih indah seperti biasanya. Perpaduan warna jingga, biru, dan ungu yang sungguh mengesankan mata. Bahkan di sana mungkin masih banyak lagi warna yang tidak kuketahui namanya. Ditambah dengan suasana langit yang cerah. Tidak ada satupun awan yang menghalangi sang mentari untuk pergi.

Klise sekali, ya? Aku selalu menikmati senja seperti ini. Akan tetapi seperti anak kecil, aku tidak pernah sekalipun bosan untuk menikmatinya lagi lagi dan lagi. Bahkan aku melihat di tempat yang sama. Seperti dulu aku diajak untuk menikmatinya pertama kali dengan bundaku. Dengan senyuman yang penuh arti, aku tidak bisa melupakannya.

Itu adalah aku di usiaku yang berumur delapan tahun. Sudah sembilan tahun berlalu sejak itu. Aku masih kembali di tempat yang sama dan waktu yang sama. Rumahku memang dekat sini, jadi kedua orang tuaku tidak terlalu khawatir mengenai anaknya yang selalu melihat senja ini. Lagipula alasan terbaikku untuk ini adalah “Tidak setiap hari langit akan cerah seperti ini, kan?”

Firasat itu kembali lagi. Rasanya akan terjadi suatu hal yang buruk tapi juga beruntung kepada diriku. Aku tidak tahu ini bermakna apa. tapi ini adalah pertama kali aku merasakannya.

Desir rumput yang bergesek satu sama lain kembali terdengar. Suara ombak yang terpecah di kejauhan sana ikut meramaikan suasana. Seakan-akan ini adalah orkestra alam. Di mana semua pemainnya ‘bernyanyi’ dengan suara yang khas sekali.

Di saat aku mengalihkan pandanganku di bibir pantai, aku mendapati sosok gadis yang berjalan di depanku. Aku tidak pernah melihatnya. Lagipula ia tidak menuju ke arahku, dia hanya melewatiku. Jika aku boleh deskripsikan, gadis itu berjalan sepanjang garis tepi pantai. Di mana kakinya terkadang terendam air, terkadang tidak. Sepertinya ia tidak memiliki tujuan khusus selain menikmati hal itu.

Aku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas, karena dia menunduk terus-terusan. Akan tetapi, tak berselang lama dia mengangkat kepalanya. Mendongak dan memperhatikan ke arah matahari terbenam. Sejenak aku terpaku menyaksikannya. Di mana aku merasakan perasaan yang belum pernah sekali kurasakan dalam hidup ini. Seperti terkejut dan takjub dalam waktu yang bersamaan.

Aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi gadis berambut cokelat serta bermata biru tua itu telah benar-benar menghancurkan fokusku.

Serta mengembangkan tipis senyum milikku.

???? ?? : My ‘Reason for Existence’ is ‘Waiting for Rain’

“Aku tidak membutuhkan balasanmu!” ucapku yang berbohong.

Ambigu. Itu adalah satu kata yang bisa anda jelaskan sekaligus tidak bisa anda jelaskan dalam waktu bersamaan. Ambigu adalah suatu ketidakpastian atau ketidakjelasan suatu hal. Saya lambangkan bahwa turunnya hujan adalah sebuah hal yang ambigu. Mengapa demikian? karena…

Setiap kemungkinan memiliki ketidakpastian. Hujan yang turun adalah sebuah ketidakpastian. Bisa jadi dia akan pergi dan membuat langit cerah atau bisa jadi dia akan jatuh dan membuat luka terparah. Meski saya berulang kali berdiri di bawahnya untuk sekedar merenung, tapi arti hidup saya sama seperti menunggu hujan di sela-sela pergantian musim kemarau ke musim penghujan. Begitu juga sebaliknya.

Meski saya berulang kali mengecek bahwa besok sekian persen akan terjadinya hujan, keesokannya tidak ada awan satupun. Membuatnya cerah hingga saya berpikir bahwa hari hujan telah berhenti. Kenyataannya. Beberapa jam kemudian, mendung membungkus kota. Saya hanya menikmati hal itu dari bawah sini. Mengharapkan hujan turun, tapi saya juga tidak mengharapkan hujan untuk turun.

Ambigu. Ya, itu adalah perasaan saya terhadap hujan. Tidak ada kepastian, membuat saya tidak bisa membuatnya menjadi suatu kepastian yang bisa kuharapkan.

Begitu juga dengan hidup. Tidak adanya kepastian yang pasti. Benang merah takdir juga terasa ambigu sekali jika dilihat. Maka dari itu, seperti menunggu hujan. Saya merendahkan pandangan saya sembari menikmati suasana yang ada. Entah itu pada akhirnya hari akan berubah cerah. Atau hari akan berubah menjadi hari hujan nan dingin. Semua tergantung dengan ketidakpastian itu’ kan?

Maka dari itu, ambigu adalah inti dari post ini.

Untuk seterusnya, saya akan mereveal sekilas mengenai sekuel dari ‘Project For U’ kemarin dimana itu akan mengangkat mengenai seberapa ambigunya perasaan Asniefta terhadap Eira. Tidak dipungkiri bahwa dia hingga sampai terpecah kepribadiannya menjadi sepasang. Lalu konflik terjadilah disana. Asniefta yang ingin menyerah ingin menghapuskan Eira dari hidupnya. Dan mungkin itu akan berhasil untuk melenyapkannya… selamanya.

Tapi cerita tidak berakhir disitu semoga. Selain itu adalah delusi belaka, Asniefta akan mencari cara agar Eira bisa selamat dari dirinya sendiri.

Sungguh ambigu, ‘kan? Tunggu saja beberapa minggu nanti.

Archive 04 : Alasan Untuk Hidup (?)

Apa tujuan hidupku? Adakan sandaran hidup yang kumiliki? Bukankah dari dulu aku sudah menulis.

“Tapi aku mulai bertanya-tanya. Apakah aku diciptakan di dunia ini tanpa memiliki ‘tempat bersandar’?”

Disanalah aku mulai sadar dan mencari tahu apakah selama ini aku memiliki hal tersebut. Hingga suatu ketika, aku sadar tidak hanya aku saja yang mengalami hal ini. Ada sebuah lagu yang sangat menggambarkan hal ini terjadi kepada diriku. Dan mungkin aku akan bersedia membahasnya.

Nama lagunya adalah “生きるよすが” (dibaca Ikiru Yosuga) yang memiliki arti “Sandaran Hidup” atau “Alasan Hidup”. Untuk judul Inggrisnya adalah “Reason for Existence”. Lagu ini dinyanyikan oleh artist “Tsukuyomi” berasal dari Jepang. Untuk saat ini mereka memang menggarap banyak sekali proyek lagu dengan animasi yang hampir setara dengan “Minami”.

Untuk kali ini, aku akan membahas beberapa liriknya dalam bahasa Indonesia yang mungkin memang menarik untuk kubahas. Karena, ini memang benar-benar menggambarkan sesuatu yang sedang kumiliki.

Untuk yang pertama, ada lirik di awal-awal lagu yang bermakna :

“Luka, duka dan rasa sakit jadilah puisi. Apa yang bisa diselamatkan dengan menulis mimpi dan cinta? Jadilah cahaya yang mewarnai langit yang suram.”

Nah, pada lirik ini menggambarkan bahwasannya sang ‘aku’ berharap rasa sakit berubah menjadi puisi. Dimana mungkin jika diibaratkan bisa mengartikan ‘aku’ ingin menyimpannya baik-baik atau secara indah seluruh luka, duka, dan rasa sakit itu. Lalu ‘aku’ berharap juga jika tulisannya mengenai mimpi dan cinta akan menjadi cahaya yang mewarnai langit yang suram. Bermakna tulisan yang ia tulis akan menjadi penyemangatnya atau penenangnya dalam hidup ‘suram’ yang ia jalani.

“Bentuk kebahagiaan yang lazim di dunia ini. Tidak bisa mengisi lubang yang kosong.”

Untuk lirik ini saya setuju. Semua bentuk kebahagiaan yang ada di dunia ini hanyalah rasa yang fana. Sungguh fana. Dimana hanya terasa bahagia sesaat saja. Dan sang ‘aku’ menganggap bahwa rasa bahagia itu tidak bisa mengisi ‘lubang’ di hatinya. Karena jika memang kekosongan hati seperti itu, rasa bahagia menurutku juga bukanlah jawaban yang tepat. Anda tidak akan bisa mengisi hati anda yang kosong itu dengan rasa bahagia.

“Aku ini pembohong yang berkata ‘aku hidup’. Dengan hati yang seperti mesin ini”

Sang ‘aku’ disini menggambarkan seseorang yang benar-benar tidak memiliki sandaran hidup dimana ia bahkan menganggap hatinya adalah hati mesin. Hati mesin bisa dibilang kiasan kepada orang yang menjalani kesehariannya dengan tanpa berharap apapun. Seperti ia tidak ingin ada perubahan signifikan dalam hidupnya. Bekerja sesuai logika dan mengesampingkan perasaan. Beberapa kasus mungkin terlihat sebagai orang normal, akan tetapi dia memiliki kekosongan hati yang tentu saja dia sembunyikan. Di kasus yang lain, orang seperti ini cenderung untuk menyendiri. Maka dari itu dia berbohong bahwa dia masih hidup, padahal hatinya (perasaannya) telah mati.

“Sandaran hidup robeklah kesedihan malam dan ratakanlah.”

Lirik ini menggambarkan bahwa ‘aku’ meminta sandaran hidupnya untuk menghapus kesedihannya. Ini bermakna jika saja dia menemukan sandaran hidupnya yang dimana mungkin sesuatu atau seseorang, itu akan bisa membuat hidupnya yang suram menjadi bahagia. Atau setidaknya menghilangkan kesuramannya tersebut.

“Berikanlah hidup ini, alasan untuk hidup esok hari.”

Disini benar-benar menggambarkan ‘aku’ dimana dia sebenarnya telah menyerah dalam hidupnya yang suram. Ia tidak memiliki tujuan apapun yang akan diraih. Maka dari itu, dia sebenarnya tidak masalah untuk ‘mati’ di hari itu karena tidak ada apapun yang inigin dia tuju atau dia harapkan. Hal ini juga salah satu gejala umum orang yang memiliki kekosongan hati.

Tolong temukanlah bulan tengah hari yang pasti.”

Ini sebenarnya kiasan yang mungkin sedikit tricky. Ini menggambarkan bahwa ‘aku’ ingin mencari bulan yang benar-benar terlihat pada siang hari. Sedangkan kita tahu jika bulan terlihat pada siang hari, dia akan remang-remang atau tidak terlalu terlihat (kecuali gerhana matahari). Nah, ini mengartikan sebenarnya sang ‘aku’ sebenarnya sedang mencari sebuah kepastian.

“Ada hal yang tidak bisa diselamatkan karena benar.”

Ini adalah pernyataan dimana mungkin sesuatu yang benar itu belum tentu baik. Meski hal ini cukup jarang terjadi, tapi kemungkinannya tidak akan nol.

“Jika tidak menangis adalah sebuah kekuatan. Tetap lemah aku pun tidak masalah.”

Fakta. Orang yang memiliki kekosongan hati cenderung tidak bisa menangis sebagai simbol rasa sakit mereka. ‘Aku’ mengibaratkan kemampuannya tidak menangis itu sebagai ‘kekuatan’ yang jika dia tidak miliki, ia merasa tidak masalah. Bermakna sebenarnya ‘aku’ ingin menangis. Hanya saja tidak bisa.

“Meski penuh kebohongan. Namun demikian, aku mau tetap hidup.”

Lagi-lagi aku mengatakan bahwa dia sebenarnya ingin hidup. Tetapi dia tidak menemukan apa tujuannya hidup ataupun sandarannya untuk bisa menikmati hidup. Karena dia seakan-akan mencari arti dalam hidupnya itu sendiri. Selagi belum menemukan apa itu artinya hidup, dia terus berbohong bahwa dia adalah seorang manusia yang hidup. Meski hatinya lagi-lagi telah ‘mati’. Tapi meski begitu dia ingin ‘benar-benar’ hidup.

“Meski tidak ada cinta atau apapun, fajar tetap akan menyingsing.”

‘Aku’ mulai menerima kenyataan dimana baik dia akan menemukan cinta (yang sepertinya ia jadikan sebagai sandaran hidup) ataupun tidak, fajar pada esok hari akan tetap menyingsing. Menandakan meski dia tidak memiliki cinta, hari esok masih akan terus berlanjut. Ini menjadi dua sisi sebenarnya. Bisa diartikan positif, karena mungkin dia akan menemukan sandaran hidupnya di esok hari. Bisa juga diartikan negatif, karena mungkin seakan-akan dunia tidak akan peduli dan terus berlanjut meski dia memiliki cinta ataupun tidak.

“Alasanku lahir pun tidak mengapa disusulkan.”

Yah, untuk ini kembalinya positif. Jadi dia masih ingin mencari alasannya untuk hidup dan sandarannya mengapa dia diciptakan di dunia ini. Maka dari itu dia merasa tak masalah jika hari ini masih belum menemukan alasan yang ia cari, karena masih ada keyakinan bahwa suatu hari nanti pasti akan ada saat dimana alasan itu akan ditemukan.

“Jangan sebut keadaan sekarat sebagai sebuah keindahan.”

Sebenarnya ini menuju kepada ‘aku’ atau bisa dibilang menyindir diri sendiri. Karena sebenarnya dia menggambarkan seolah-olah dia ingin ‘mati’ dalam artian khusus dalam beberapa kata. Akan tetapi hal itu sangat tersirat di dalam kata yang indah. Seperti ‘Hati mesin’. Mungkin akan menjadi keindahan tersendiri baginya yang bangga memiliki hati seperti itu. Intinya dia bangga memiliki kiasan hati seperti itu dan mengaggapnya sebagai sebuah keindahan. Padahal arti dibaliknya sedikit, tragis.

“Tidak ada bunga yang mekar hanya untuk layu.”

Kalimat ini mungkin sedikit membantah kalimat yang sering kuucapkan dulu. Pada arsip “???? ?? : Cukup (?)“, aku mengatakan bahwasannya “Bunga yang layu tidak berharap dia akan mekar kembali.”. Dimana saat itu aku berpikir bahwa pada akhirnya bunga akan tumbuh dan berakhir dengan layu. Tidak ada makna yang konkret dalam kehidupan yang sesingkat itu. Karena waktu itu tidak akan ada arti dalam layunya sebuah bunga, atau dalam ini bisa diartikan bunga adalah hati atau perasaan seorang manusia. Jadi tidak akan ada artinya layunya sebuah bunga, sebelum kalimat ini ‘muncul’.

“Sesuatu yang indah hingga terlihat jelek. Isikanlah ke dalam hatiku yang hilang.”

Lirik ini ‘aku’ seakan-akan menjelaskan bahwasannya dia ingin secepat mungkin menemukan sandaran hidupnya. Menemukan apa yang mengisi kekosongan di hatinya. Kata kunci disini adalah ‘Sandaran hidup’, ‘Cinta’, ‘Alasan hidup’, dan ‘Tujuan hidup’ adalah hal yang sama.

“Lagu apa? Kata-kata seperti apa? Yang bisa menjadi sandaran malam yang gelap.”

Disini ‘aku’ atau ‘penyanyi’ dalam lagu ini seakan-akan bertanya apakah bisa ia menyandarkan hidupnya pada sesuatu yang bisa dia buat. Sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari gelapnya malam atau secara hafiah kehidupannya. Dia benar-benar ingin segera menemukan alasannya untuk hidup.

Overall lagu ini menceritakan sang pembuat lagu atau ‘aku’ ingin mencari sandaran hidupnya atau alasannya bisa hidup untuk esok hari. Akan tetapi sama sekali itu tidak mudah karena banyak sekali ia harus terganggu dengan dirinya sendiri. Penggambaran mengenai karakter ‘aku’ disini juga terkesan natural karena sama sekali tidak terlihat mencolok, melainkan seperti manusia yang intinya sudah putus asa dengan dunianya sendiri. Seperti lelah melakukan sesuatu dan tidak ingin melakukan perubahan yang signifikan. Hanya ingin menjalani hidup dengan biasanya dan berakhir secepatnya. Maka dari itu, dia tidak terkesan menikmati hidup. Karena apa alasannya untuk menikmati hidup jika hal tersebut tidak ada.

Hal ini adalah penggambaran realistis seseorang dan sama sekali tidak terpaku pada bodohnya fiksi yang dibuat. Sekian.

Diary 11 : Sang Pengembara dan Ladang Bunga

Untuk beberapa bulan atau minggu terakhir, maaf karena tidak se-aktif dulu dalam membuat postingan di blog ini. Bukan, aku tidak sesibuk itu. Malahan aku sibuk dalam hal menulis. Tentu saja itu adalah mengenai blog ini. Tidak ada niatan lain lagi.

Semua orang memiliki hak untuk hidup ‘kan? Bukan. Bukan berarti aku tidak ingin hak itu atau bagaimana. Hanya saja.

Semua orang itu berhak memiliki hidup. Tanpa terkecuali. Hanya saja apa arti kehidupan itu? Bukankah ini hanyalah loop? Apa itu kehidupan? Semua itu semakin membuatku bertanya-tanya mengenai masa depan, bagaimana aku akan melewatinya dan seterusnya. Hingga mencapai suatu pikiran bahwa sepertinya aku tidak akan sampai ke dalam masa yang kusebut masa depan itu. Aku akan mengembalikan hidupku sebelum masa depan itu terjadi.

Itu adalah apa yang kupikirkan sebelumnya. Tiada hal yang kuinginkan.

Tapi hari itu, aku menemukan sebuah bunga yang cukup membuatku suka dengannya. Entah atas apa. Padahal setiap hari aku melewati yang namanya padang bunga selama sekian tahun. Baru kali ini aku bisa menyukai sebuah bunga yang begitu indah nan sempurna di mata.

Aku tahu. Aku benar-benar tahu jika aku memetiknya, maka dia bisa saja mati di tanganku. Oleh karena itu aku memutuskan untuk melihatnya sembari menikmati keindahannya saja. Perlahan aku pun menyiapkan pot, tanah, dan berbagai peralatan lain agar bisa membawanya kemana saja.

Sungguh. Aku menyukainya. Hingga aku yakin bahwa aku tidak akan bisa ‘suka’ dengan bunga yang lain lagi.

Hari demi hari aku mengalami kemajuan dalam segalanya. Pot yang kubuat sangatlah spesial untuknya. Tanah yang kucari sungguhlah bagus baginya. Hanya menunggu soal waktu, aku akan bisa mendapatkannya. Tapi-

Aku lupa bahwa bukanlah aku satu-satunya pengembara disini.

Dengan perjuanganku selama ini dan harapanku selama ini juga, aku akan mempertaruhkan segalanya demi dirinya. Bahkan aku akan melakukan apapun demi dirinya. Karena aku tahu bahwa aku tidak aka bisa jatuh cinta lagi sedalam ini. Aku tidak akan bisa lagi berharap seperti ini lagi. Aku tidak akan bisa berubah seperti ini lagi. Aku tidak akan bisa menemukan arti hidupku jika tidak seperti ini lagi.

Pada akhirnya aku tetap berjuang sembari menulis beberapa hal. Termasuk mengenai bagaimana dirku dapat bertemu dengannya.

Sungguh terasa sakit dan manis secara bersamaan. Bahkan aku tidak bisa mencerna bagaimana rasa yang sesungguhnya. Aku akan menamai perasaan yang pertama kali kurasakan ini dengan dirimu. Sungguh aku tidak akan menyesalinya. Aku tidak akan pernah sekalipun berpaling dengannya. Meski rasa ini seperti madu dicampur dengan racun, aku tidak sekalipun akan memuntahkannya. Aku akan berjanji pada diriku sendiri untuk terus memperjuangkan hal ini. Aku tahu bahwa arti hidupku ada karena dirimu. Tolong untuk jangan menghilang. Tolong untuk jangan pergi.

Sungguh aku tidak akan pernah berpaling pada apapun lagi. Jika saja engkau pada akhirnya pergi, aku tidak akan sekalipun pernah membenci. Aku juga tidak akan mencari seorang pengganti. Meskipun kamu tidak pernah kembali, aku tidak akan pernah pergi. Tolong ingatlah hal ini. Karena aku masih percaya jika kita masih bisa berjumpa suatu saat nanti. Jika hal itu terjadi, tolong jangan benci apa yang telah kujalani. Karena diri ini tercipta untuk dirimu sang pemenang hati.

Tolong jangan benci diriku. Kumohon.

Apakah kau ingin mengetahuinya? Alasanku menangis demi cinta adalah karena dirimu masih ada disana. Alasanku terus maju demi cinta adalah karena memperjuangkanmu disampingku. Alasanku berharap pada cinta adalah agar aku bisa terus bersama denganmu.

Tiada yang lain. Hanya untuk dirimu.

[Bagian “Menyukaimu” telah berakhir]

[Bagian “Memperjuangkanmu” telah dimulai]

???? ?? : Tendency

Aku tersenyum simpul sembari mengatakan pada buku itu. “Jika aku menemukannya. Aku mungkin akan memiliki tujuan hidup lagi. Meski apapun telah terjadi. Hari itu akan selalu kunanti.” 

~Asniefta Eloise

Jam di dinding sana menunjukkan pukul empat sore. Aku segera berjalan lemas menuju gerbang sekolah. Hari ini aku ada jadwal pemeriksaan kesehatan di rumah sakit pusat distrik. Jadi aku memang sengaja untuk menunggu giliranku periksa sekalian pulang sekolah. Tidak. Untuk saat ini aku tidak sakit. Memang sudah jadwalnya saja untuk periksa kesehatan. 

Tapi sebelum aku menuruni tangga lantai dua, aku sekilas melihat gadis tadi dengan beberapa temannya sedang menikmati pemandangan sore. Kubilang sore karena matahari sebenarnya masih cukup tinggi untuk dibilang senja. Rasanya dia menikmati sekali hidup seperti ini. Jika boleh kuabadikan, mungkin akan kujadikan penyemangatku dalam menjalani hidup yang abu-abu ini. Sayang sekali kehidupan kita berbeda, ya?

“Jika sudah takdir, mungkin tak lama lagi gadis itu akan hadir.” gumamku beranjak pergi. Melihat orang lain bahagia adalah luka terdalamku sebenarnya. Tapi aku merasa bahwa hal itu sudah tabu hingga tidak perlu lagi kupedulikan. 

Sore itu ku akhiri dengan salam perpisahan kepada gerbang sekolah. 


Wah wah wah

Saya disini akan membagikan sebuah kisah mengenai cerita singkat saya selama beberapa periode terakhir. Semoga kalian menikmatinya. Saya tidak terlalu banyak menulis disini karena saya lelah saja untuk menulis yang lainnya. Intinya ini adalah serial setelah tahun kemarin dengan tema : Avidity (Keinginan Besar)

Disini saya akan mengambil tema Tendency yang bermakna kecenderungan dimana kecenderungan yang saya maksud adalah yang berada dalam diri saya sendiri. Saya sekarang lebih cenderung seperti ini dan seperti itu. Maka dari itulah jika kalian penasaran bisa kalian baca cerita berikut ini.


???? ?? : Selalu

“Sekarang sudah akhir musim dingin, ya?” basa-basiku untuk membuka pembicaraan dengan orang yang duduk di depanku. Dia terlihat seperti mencemaskan suatu hal dengan melihat ke arah luar jendela kaca besar yang berada di samping kami. Tapi dari perbuatannya, dia seakan-akan tidak ingin atau tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kecemasannya itu.

Dia menghembuskan nafas dan mencoba lebih rileks. “Kau benar. Musim dingin yang cukup merepotkan bukan?”

Aku tertawa pelan. Walaupun mungkin dia tidak berniat untuk memberikan lelucon, tapi kalimat itu perlu kusetujui bahwa musim dingin ini memang merepotkan. Banyak hal yang kami lewati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, kami masih tetap untuk mencoba menjalani tanpa ada rasa untuk saling menyakiti.

Salju di luar sana turun lagi. Walau tidak terlalu banyak, tapi cukup mengganggu ketika menempel di kaca-kaca seperti ini. Pejalan kaki terasa mempercepat kakinya untuk berjalan ke tujuannya. Seakan-akan mereka menghindari kejadian yang mungkin akan ‘terakhir kali terjadi’ untuk beberapa bulan selanjutnya.

“Maaf untuk beberapa bulan terakhir. Kurasa aku cukup sering memanggil namamu tanpa kamu ketahui..” ucapku untuk membuka pembicaraan lagi. Menunggu reaksinya.

Dia tersenyum simpul. “Jika hal itu dilakukan oleh orang sepertimu, aku tidak akan kaget. Bagaimana, ya? Aku seperti bisa melihat kepribadianmu itu.”

“Jujur saja, aku dulu tidak akan bisa berubah jika mungkin tidak bertemu dengan dirimu untuk beberapa bulan terakhir.” balasku dengan sedikit tertawa pada akhirnya. “Aku adalah orang yang berbeda dari bulan-bulan lalu. Aku lebih suka memendam masalah sendirian. Lebih suka menyamakan diriku dengan sebuah robot yang tidak memerlukan perasaan. Bahkan aku dulu tidak suka jika ada seseorang mencoba dekat dengan diriku.”

Orang itu sedikit tertarik atas pembicaraanku barusan. “Benarkah? Bukankah engkau selalu dikelilingi orang banyak setiap waktu?”

“Aku setuju soal hal itu.” menganggukkan kepala “Tapi jujur saja, aku membencinya. Aku menganggap semua hal itu harus diperhitungkan agar aku bisa terlihat seperti manusia. Jadi aku memeragakan sebuah robot yang ingin menjadi manusia. Terdengar keren, kan?”

Dia tertawa dengan lepas untuk pertama kalinya. “Berarti kamu sama sekali tidak menganggap bahwa hubungan dengan seseorang manusia itu penting? Jahat sekali, ya kedengarannya.”

“Tak bisa kupungkiri lagi itu memang benar.” Terdiam sebentar. “Bahkan sepertinya pertemuan pertama kita tidak kuanggap sebagai hal yang penting pada awalnya. Seperti sebuah episode dalam kartun yang tidak ada adegan komedinya.”

“Uih, jahat sekali!”

Aku tersenyum. “Tapi sekarang berbeda ‘kan? Sekarang aku menganggap diriku sebagai seorang manusia lagi. Sebuah makhluk yang memiliki logika dan perasaan. Semenjak hari itu aku merasakan bahwa hidupku mulai terasa berwarna. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa warna kehidupan itu ada. Kukira hanyalah karangan sang pujangga kepada para pembaca supaya mempercayai apa yang dibuatnya, tapi ternyata itu sungguhlah nyata. Hari-hariku yang kini telah dipenuhi warna terlah menyadarkanku dari kesalahanku di masa lalu.”

“Bahkan ‘robot’ pun memiliki kesalahan?” tanyanya tidak mengerti.

“Kehidupan ‘robot’ seperti itu tidak akan pernah salah. Kesalahan yang kumaksud adalah menjalani kehidupan ‘robot’ tersebut. Sejatinya kita adalah manusia bukan robot, ‘kan? Maka dari itu, jika kita menjalani kehidupan sebagai ‘robot’. Sama sekali tidak bersyukur atas peranan kita sebagai manusia.”

Anggukkannya mengakhiri penjelasanku. “Jadi kesimpulannya, hidupmu sekarang berwarna, ya? Dan berwarnanya karena aku? Eh? Bagaimana, sih?”

“Kamu sudah memahaminya, tuh.” seruku karena aku merasa terjahili olehnya. Membuatku sedikit tersipu malu telah mengatakan hal semacam itu.

“Haha. Aku tidak tahu mau bereaksi seperti apa untuk kali ini. Tapi sebelumnya, terima kasih…”

“Tidak masalah. Jangan terlalu formal kepadaku.”

“Itu tidak formal, lho…”

“Apakah kamu tahu kalimat tidak formal lainnya?”

“Seperti apa?”

“Seperti-” aku melihat keluar jendela. “Bulannya indah, ya?”

Diary 10 : Canon Event

“Karena salah air mata, kan? Selamat tinggal terasa sakit. Tersenyumlah seperti biasa dan katakan “sampai jumpa”. Mulai hari ini kita berpisah, namun di suatu tempat. Aku merasa bahwa kita dapat bertemu lagi.”

Shion – Saucy Dog

Tidak terasa 2023 telah berakhir. Sebenarnya terasa berat saja, hanya saja bagi orang-orang yang mengikuti arus seperti saya ini mungkin tidak merasakan apa itu 2023 dengan jelas. Bisa dibilang hitam putih dunia seseorang tersebut tergantung cara pikirnya. Yah, semoga anda mempunyai resolusi 2024 untuk berkembang lebih baik.

Rekap 2023, mungkin saya telah menyelesaikan beberapa proyek cerpen saya dengan cukup memuaskan walaupun terkesan kurang dalam beberapa bagian. Tapi setidaknya saya sudah bersyukur ‘pabila ada orang yang berpendidikan membaca tulisan saya. Orang normal akan selalu melihat sesuatu dari hasilnya, hanya sebagian orang yang mengetahui bahwa sesuatu itu tergantung dari niat dan prosesnya. Saya tidak akan membuat anda memandang saya sebagai manusia yang 100% benar. Tidak saya tidak ingin hal itu terjadi. Maka dari itu saya selalu santai ketika diberi beberapa hinaan dari orang-orang yang membaca beberapa tulisan saya. Soalnya terkadang saya bisa bersikap subjektif juga.

Lanjut, sebenarnya 2023 ini bisa dibilang tahun yang hampir semuanya adalah abu-abu. Hampir semuanya, bukan berarti seluruh 2023 milik saya adalah hal yang abu-abu. Tapi saya sadar, semenjak saya mulai menganggap hidup saya mulai sedikit berwarna, hal ini semakin membuat saya terang-terangan mengatakan bahwa hidup adalah sebuah permainan yang cukup adil dan tidak adil pada waktu bersamaan. Anda tidak bisa men-judge bahwa keadilan dari hidup akan langsung datang. Jika saya boleh berpendapat, keadilan itu akan selalu datang hanya saja terkadang tidak seperti yang anda duga.

Setelah menyadari bahwa 2023 telah berakhir, saya terus-terusan berpikir bagaimana saya berjalan kedepannya. Ketika menoleh ke belakang, tersisa kepingan-kepingan kenangan masa lalu yang begitu mendalam untuk diingat. Layaknya sebuah racun yang melapisi madu1. Anda bisa merasakan rasa manis dari madu sekaligus rasa menyakitkan dari racun yang memenuhi pikiran anda. Untuk beberapa orang yang membaca paragraf ini, mungkin anda mengingat musim panas 3 tahun2 yang lalu. Saya berterima kasih kepada kalian yang telah mencampuri hidup saya sebegitu merepotkannya. Saya masih tidak bisa menyangka jika membayangkan beberapa tahun lalu ketika saya mulai putus asa dan memberikan hidup saya pada sebuah folder. Tapi apa yang terjadi? Saya masih belum boleh mati hingga saat ini. Untuk beberapa orang saya bersyukur tapi untuk sebagian orang saya meminta maaf yang sebesar-besarnya.

Saya baru bisa mendefinisikan bahwa akhir 2023 saat ini adalah Canon Event tanpa ending. Seperti, banyak sekali hal-hal yang harus saya lakukan dan juga rasakan dalam waktu bersamaan. Meskipun saya tahu bahwa hal-hal ini yang selalu membangun saya untuk berdiri pada hari esok. Tapi hal-hal ini selalu terus-terusan mengusik saya. Benar-benar tidak bisa saya hindari. Beberapa nasihat menyindir saya bahwa :

Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

Hujan – Tere Liye

Seakan-akan penulis tahu bahwasannya orang yang sudah mulai menikmati hidup akan butuh yang namanya penerimaan. Penerimaan dibutuhkan untuk melupakan. Tidak bisa seseorang langsung melupakan apa yang terjadi padanya. Kecuali jika anda berminat mencoba alat yang bisa langsung mengobati depresi hanya dengan menghapus bersih semua ingatannya3.

Overall, untuk 2023 adalah tahun yang cukup bermakna. Walaupun tidak semua bagiannya memiliki makna tapi saya bisa menjamin bahwa 2023 ini tahun yang sudah berbeda dari tahun-tahun yang sebelumnya. Mulai dari aspek apapun dalam hidup saya. Untuk seterusnya sebenarnya saya lelah jika harus mengartikan hidup itu harus berwarna-warni. Saya hanya ingin beristirahat sebentar dalam mewarnai hidup. Membiarkannya terlihat hitam dan putih untuk beberapa saat. Tapi apakah saya bisa melakukannya? Semoga saya tidak terlalu memikirkan hal itu untuk saat ini, karena saya masih bisa berjalan. Walau harus kehilangan sebagian dari hidup saya untuk tahun ini. Baiklah, mungkin saya bisa mengakhiri 2023 ini dengan sebuah pertanyaan yang mungkin membuat anda sedikit berpikir.

“Secara objektif, apa itu arti kehidupan?”


1 : merujuk pada lagu Sweet Hurt yang dibuat oleh ReoNa sebagai ending dari anime Happy Sugar Life. Kurang lebih menceritakan perasaan cinta dan kasih sayang dalam pengertiannya.

2: merujuk pada kelompok kecil yang saya buat sewaktu pandemi dulu. Kami selalu melakukan aktifitas online yang cukup lama secara bersamaan.

3: merujuk pada Novel Hujan yang berlatar pada tahun 2040-2050 an. Dimana telah ada teknologi pengilang ingatan yang buruk, sebagai terapi penghilang depresi.

Diary 09 : Hujan Masih akan Turun

“Aku yang dibuatnya jatuh hati. Tapi mengapa mereka berdua malah terlihat serasi? Aku tak paham lagi. Mungkin memang lebih baik mati?.”

Baik. Anda sekalian apakah tidur dengan cukup? Semoga kalian tidur dengan cukup,ya. Karena mungkin untuk saat ini ada masalah daripada kalian, saya hanya bisa berharap ada solusi dibalik itu semua. Mengapa? Ya, masalah itu sebenarnya ketakutan yang harus ada di kehidupan anda. Hanya saja, bagaimana ya menjelaskannya? Mungkin aku akan membenci masalah yang datang kali ini.

Akhir-akhir ini saya merilis cerita sebanyak empat ribu kata. Sebenarnya cerita tersebut terinspirasi dari pengalaman saya bermain catur dan pengalaman saya lainnya. Tapi sungguh, itu sebenarnya saya harap menjadi cerita yang baik jika tidak saya speedrun dalam sehari. Itu berjudul, “Bunga yang indah di musim gugur”. Sebenarnya awal sekali saya mencatatkan bahwa proyek ini berjudul, “Sayonara Hatsukoi (Selamat tinggal Cinta pertama)”. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya ada perbedaan di endingnya. Mungkin dari yang bisa anda lihat dari judulnya, judul yang dari Bahasa Jepang itu terlalu berlebihan untuk orang yang membacanya.

Tapi tidak untuk saya. Saya harus mengatakan tiada yang namanya berlebihan. Itu semua adalah fakta.

Menceritakan seorang remaja lelaki yang bernama Mirai Tadori. Lelaki ini bisa dibilang hidup hanyalah untuk hidup. Tidak perlu terlalu bersosialisasi. To the point. Pemikiran Logika. Bahkan hampir bisa dibilang memiliki Nihilism.

(Jika anda membaca tulisan ini adalah manifestasi dari masalah yang saya hadapi)

Singkat cerita dia bertemu denga seorang gadis yang mengubah hidupnya. Ia bernama Aizu Kako. Gadis ini mengajaknya untuk bermain catur pada awalnya. Setelah melihat permainan yang dibawakan, Aizu merasa bahwa Mirai adalah orang yang bisa ia ajak untuk mengikuti turnamen catur tahunan.

Dalam dua minggu, mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Bermain catur, membicarakan hal-hal yang tidak penting, belajar catur, kembali melakukan hal lain, dan sebagainya. Tanpa Mirai sadari, ia telah berubah selama dua minggu ini. Dan tanpa ia sadari juga, dari pertama bertemu ia telah menaruh perasaan pada Aizu.

Setelah mendengar bahwa dia sedang menyukai seseorang. Perasaan yang selama ini dipendam oleh Mirai menjadi rasa sakit yang mulai menggerogoti hatinya. Cerita di akhiri ketika Mirai mengungkapkan perasaannya kepada Aizu. Apakah anda tahu bagaiaman jawaban dari Aizu?

“Terima kasih telah menyukaiku.”

Disini saya menjelaskan bahwa ini adalah ending yang menggantung. Saya akan membuat credits scene-nya yang kurang lebih merupakan judul saya yang diawal. “Selamat tinggal Cinta pertama.”

Pada akhirnya semua hanyalah tentang musim gugur yang tak perlu diingat. Hal ini adalah lumrah dalam kehidupan. Hanya saja, sakit itu masih akan selalu ada. Setelah itu, Hujan pun turun. Seperti penggalan dari novel yang saya baca, Hujan adalah cara terbaik untuk menyembunyikan air mata yang jatuh keluar.

Untuk terakhir kata ini saya ingin mengungkapkan perasaan saya.

Terima kasih, maaf, maaf, dan maaf. Saya tidak tahu apakah ini Ending atau tidak. Tapi saya tidak berpikir hal ini harus kuakhiri. Mungkin masih menyakitkan bagi saya, tapi semoga saya adalah orang yang kuat. Hal yang tidak bisa membunuhku akan membuatku jauh lebih kuat. Berulang kali saya tegaskan, ketika saya memiliki ambisi untuk sesuatu maka akan terjadilah hal itu. Orang membentuk saya sebagai senjata, maka saya akan menjadi senjata itu. Untuk saat ini saya tidak memiliki orang yang membentuk saya menjadi apapun. Oleh karena itu saya lebih bebas berekspresi. Namun, sepertinya saya harus menuju satu tujuan lagi, ya?

Maaf tidak konsisten. Saya hanya banyak pikiran.

Arvhive 03 : Lone Wolf

Sebuah serigala umumnya akan bekerja secara berkelompok. Berorientasi dengan apa ang dilakukan oleh teman-temannya. Tidak usah memakai contoh, karena hal ini bisa dapat anda bayangkan sendiri.

Tapi apakah kalian pernah mengetahui seorang serigala bekerja secara sendirian? Seperti ia melakukan perburuan dan lain sebagainya secara sendirian? Saya harap anda tidak mengatakan bahwa itu hal yang mustahil. Serigala terkadang ada yang ‘terusir’ dari kawanannya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan berbagai faktor. Tapi saya tidak membahas faktor-faktor tersebut disini. Karena jujur saja itu sangat membosankan untuk dibahas.

Serigala penyendiri adalah tipikal serigala yang sangat-sangat harus dihindari. Dikarenakan pola hidupnya telah berbeda dari serigala yang ada dalam kawanannya. Serigala penyendiri adalah makhluk yang lebih agresif dan lebih cekatan dalam mempertahankan hidupnya. Ia adalah makhluk yang lebih matang untuk berpikir apakah ia harus menyerang ataupun melarikan diri. Hidupnya adalah guru yang terbaik baginya.

Mereka akan bekerja tanpa mengandalkan serigala lain. Tidak bergantung sama sekali mengenai nasibnya kepada sesamanya. Karena ia jauh lebih mengerti mengenai seberapa bahayanya musuh dan teman. Membuatnya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan sangat efisien.

Hal itulah yang sebenarnya ingin saya jabarkan disini mengenai sikap ‘tidak bergantung’ pada orang lain. Ketika anda tidak memihak kepada perasaan anda terhadap orang lain, anda akan lebih cepat membuat keputusan yang beersifat objektif dan matang. Terutama apabila hal tersebut berkaitan dengan apa yang telah anda alami.

Sebenarnya kepribadian ‘Lone Wolf’ seperti ini juga terjadi atas beberapa faktor. Seperti trauma pada masa lalunya, trauma terhadap orang lain, dan sebagainya. Orang-orang yang ‘dewasa’ lebih cepat seperti ini dapat memahami hidupnya lebih baik dari siapapun. Ketika mereka dihadapkan oleh masalah, mereka akan langsung menyelesaikannya dengan cara yang paling teratur dan terorganisir. Tidak membiarkan adanya celah bahwa rencananya ‘gagal’. Karena kepribadian ini sangat mengutuk sekali yang namanya kegagalan. Bagai halnya dengan anda telah gagal bertahan hidup dalam alam liar.

Opini saya adalah ‘Lone Wolf’ adalah salah kepribadian yang memfokuskan kepada pendewasaan seseorang secara objektif tanpa ada kebergantungan pada orang lain. Semisal ia telah matang secara mentalnya dan pemikirannya yang rasional. Hanya saja kekurangan mereka adalah bagian berkomunikasi dengan ‘pihaknya’. Hal ini merupakan penghalan bagi seorang ‘Lone Wolf’ dalam berorganisasi. Namun, bukan berarti kepribadian ini tidak bisa loyal terhadap organisasinya sendiri.

Seperti yang saya katakan di awal. Jika ia sadar atas apa yang ia lakukan maka seharusnya ia juga bertanggung jawab atas apa yang seharusnya ia pertanggungjawabkan. Jadi jika ada seorang ‘Lone Wolf’ bersumpah setia kepada sebuah organisasi, maka ia akan mengemban apa yang telah menjadi tugasnya dalam menjadi organisasi tersebut. Ia akan bekerja sebagaimana mestinya, dengan efisien dan teratur.

“Akankah seorang ‘Lone Wolf’ merasa kesepian ketika ia berjalan sendiri?”

Diary 08 : Lagi

Maaf untuk sebelumnya. Dikarenakan saya benar-benar tidak sempat menulis apapun dalam blog ini, maka dari itu saya sangat meminta maaf untuk sebelumnya.

Beberapa hari terakhir saya merasakan sendiri rasanya ‘lelah’ dalam artian sebenarnya. Tidak. Saya tidak ingin berbagi kelelahan saya dengan anda sekalian. Jadi lewati saja perihal ini.

Kali ini saya membahas sebuah kejadian yang klise dalam kehidupan. Bahkan sangking klisenya, anda bisa menebak akhir dari awal. Atau setidaknya anda sendiri berulang kali malah telah merasakan hal ini? Ah, semoga anda tidak tersindir.

Saya akan menceritakan seberapa klise hal ini berulang terus-menerus. Apakah anda pernah menyukai seseorang? Saya harap anda sekalian masih normal dan pernah merasakan yang namanya menyukai seseorang. Saya mengutip kata ini dari sebuah novel yang cukup terkenal.

Kamu tahu, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.

Novel ‘Hujan’, Tere Liye

Kalimat ini sebenarnya sudah berapa kali saya telaah dan sebenarnya tidak terlalu menarik untuk dibahas. Tapi, coba kita telaah kembali. Sebenarnya esensi cinta dan menyukai itu ada di dalam perasaan. Ketika anda merasa canggung dengan seseorang. Merasa gelisah sekaligus senang. Merasa gembira sekaligus sakit. Merasa berharap dan kecewa dalam waktu bersamaan. Mungkin itu adalah esensi dari lonjakan perasaan itu.

Untuk saat ini saya tidak akan menjelaskan seperti apa definisi cinta itu. Karena hal tersebut cukup subjektif jika hal itu benar-benar diartikan. Perasaan adalah hal yang subjektif, secara tidak langsung tiada unsur objektif di dalamnya. Membuat saya merasa bersalah ketika saya menerangkan sesuatu yang salah.

Kejadian klise yang berulang kali dialami oleh seseorang itu adalah ketika ia mulai mengungkapkan perasaannya kepada seseorang itu. Anda tahu bagaimana?

Ketika seseorang itu berakhir dengan berpacaran maka saya rasa itu sangat klise. Bahkan mungkin ada puluhan atau ratusan ribu novel, film, dan sebagainya menerangkan hal itu. Saya rasa hal itu bukanlah hal yang menarik dibahas. Jika saya bahas disini, tidak ada perbedaan antara tulisan ini dengan ratusan ribu karya diluar sana.

Akan tetapi ada suatu kondisi, dimana esensi dari cinta itu benar-benar terasa. Ketika ada sepasang insan sedang merasa canggung atas apa yang mereka perbuat. Pada dasarnya mereka tidak memahami apa yang mereka rasakan. Seperti halnya mereka membaca sebuah buku yang sama sekali tidak dapat mereka pahami dikarenakan bahasa yang berbeda. Mereka tidak paham apapun apa yang hati mereka mau. Hal inilah yang saya sebut kondisi unik di antara klise.

Saya pernah mendengar suatu kisah singkat yang mungkin tidak terlalu menarik, tapi mengandung banyak sekali prinsip.

Alkisah, ada seorang remaja laki-laki yang mencoba menyampaikan perasaannya kepada lawan jenisnya dengan berbagai cara. Hingga suatu saat, gadis itu mulai memahami apa yang dimaksud oleh si lelaki. Akhirnya gadis tersebut berterima kasih telah menyukainya. Setelah mengetahui usahanya berhasil, sang lelaki pun cukup senang karena usahanya telah berhasil. Akan tetapi ini bukanlah akhir.

Setelah mengatakan hal itu, sang gadis pada awalnya tidak pernah sekalipun menyukainya. Hanya saja dia berterima kasih untuk terlihat lebih sopan. Perlahan demi perlahan dia mulai menjauh. Dan akhirnya sama sekali tidak berhubungan lagi dengan lelaki tersebut.

Memang benar, menyatakan perasaan menurut saya tidak memerlukan jawaban. Asalkan lawan bicara memahami apa yang kita maksud itu sudah lebih dari cukup. Yang menjadi masalah adalah setelah ini. Ketika seseorang telah menyatakan perasaannya lalu diterima dengan ‘baik’. Maka sejatinya ia akan ‘berharap’.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata berharap disini. Hanya saja, berharap itu seperti anda menggantung harapan diantara rasa sakit atas kecewa dan rasa gembira atas ‘berhasil’. Kejadian klise disini adalah ketika anda berharap lalu kecewa. Berharap kembali, lalu kecewa lagi. Dan seterusnya, berharap lagi, dan kecewa kemudian.

Untuk beberapa poin ini saya tidak mau mengembangkan lebih jauh karena pada akhirnya poin tersebut menerangkan fakta yang sama sekali tidak bisa saya bantah. Jadi saya akhiri saja dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuat anda berpikir. Apakah perasaan memang layak diungkapkan?