Apa tujuan hidupku? Adakan sandaran hidup yang kumiliki? Bukankah dari dulu aku sudah menulis.
“Tapi aku mulai bertanya-tanya. Apakah aku diciptakan di dunia ini tanpa memiliki ‘tempat bersandar’?”
Disanalah aku mulai sadar dan mencari tahu apakah selama ini aku memiliki hal tersebut. Hingga suatu ketika, aku sadar tidak hanya aku saja yang mengalami hal ini. Ada sebuah lagu yang sangat menggambarkan hal ini terjadi kepada diriku. Dan mungkin aku akan bersedia membahasnya.
Nama lagunya adalah “生きるよすが” (dibaca Ikiru Yosuga) yang memiliki arti “Sandaran Hidup” atau “Alasan Hidup”. Untuk judul Inggrisnya adalah “Reason for Existence”. Lagu ini dinyanyikan oleh artist “Tsukuyomi” berasal dari Jepang. Untuk saat ini mereka memang menggarap banyak sekali proyek lagu dengan animasi yang hampir setara dengan “Minami”.
Untuk kali ini, aku akan membahas beberapa liriknya dalam bahasa Indonesia yang mungkin memang menarik untuk kubahas. Karena, ini memang benar-benar menggambarkan sesuatu yang sedang kumiliki.
Untuk yang pertama, ada lirik di awal-awal lagu yang bermakna :
“Luka, duka dan rasa sakit jadilah puisi. Apa yang bisa diselamatkan dengan menulis mimpi dan cinta? Jadilah cahaya yang mewarnai langit yang suram.”
Nah, pada lirik ini menggambarkan bahwasannya sang ‘aku’ berharap rasa sakit berubah menjadi puisi. Dimana mungkin jika diibaratkan bisa mengartikan ‘aku’ ingin menyimpannya baik-baik atau secara indah seluruh luka, duka, dan rasa sakit itu. Lalu ‘aku’ berharap juga jika tulisannya mengenai mimpi dan cinta akan menjadi cahaya yang mewarnai langit yang suram. Bermakna tulisan yang ia tulis akan menjadi penyemangatnya atau penenangnya dalam hidup ‘suram’ yang ia jalani.
“Bentuk kebahagiaan yang lazim di dunia ini. Tidak bisa mengisi lubang yang kosong.”
Untuk lirik ini saya setuju. Semua bentuk kebahagiaan yang ada di dunia ini hanyalah rasa yang fana. Sungguh fana. Dimana hanya terasa bahagia sesaat saja. Dan sang ‘aku’ menganggap bahwa rasa bahagia itu tidak bisa mengisi ‘lubang’ di hatinya. Karena jika memang kekosongan hati seperti itu, rasa bahagia menurutku juga bukanlah jawaban yang tepat. Anda tidak akan bisa mengisi hati anda yang kosong itu dengan rasa bahagia.
“Aku ini pembohong yang berkata ‘aku hidup’. Dengan hati yang seperti mesin ini”
Sang ‘aku’ disini menggambarkan seseorang yang benar-benar tidak memiliki sandaran hidup dimana ia bahkan menganggap hatinya adalah hati mesin. Hati mesin bisa dibilang kiasan kepada orang yang menjalani kesehariannya dengan tanpa berharap apapun. Seperti ia tidak ingin ada perubahan signifikan dalam hidupnya. Bekerja sesuai logika dan mengesampingkan perasaan. Beberapa kasus mungkin terlihat sebagai orang normal, akan tetapi dia memiliki kekosongan hati yang tentu saja dia sembunyikan. Di kasus yang lain, orang seperti ini cenderung untuk menyendiri. Maka dari itu dia berbohong bahwa dia masih hidup, padahal hatinya (perasaannya) telah mati.
“Sandaran hidup robeklah kesedihan malam dan ratakanlah.”
Lirik ini menggambarkan bahwa ‘aku’ meminta sandaran hidupnya untuk menghapus kesedihannya. Ini bermakna jika saja dia menemukan sandaran hidupnya yang dimana mungkin sesuatu atau seseorang, itu akan bisa membuat hidupnya yang suram menjadi bahagia. Atau setidaknya menghilangkan kesuramannya tersebut.
“Berikanlah hidup ini, alasan untuk hidup esok hari.”
Disini benar-benar menggambarkan ‘aku’ dimana dia sebenarnya telah menyerah dalam hidupnya yang suram. Ia tidak memiliki tujuan apapun yang akan diraih. Maka dari itu, dia sebenarnya tidak masalah untuk ‘mati’ di hari itu karena tidak ada apapun yang inigin dia tuju atau dia harapkan. Hal ini juga salah satu gejala umum orang yang memiliki kekosongan hati.
“Tolong temukanlah bulan tengah hari yang pasti.”
Ini sebenarnya kiasan yang mungkin sedikit tricky. Ini menggambarkan bahwa ‘aku’ ingin mencari bulan yang benar-benar terlihat pada siang hari. Sedangkan kita tahu jika bulan terlihat pada siang hari, dia akan remang-remang atau tidak terlalu terlihat (kecuali gerhana matahari). Nah, ini mengartikan sebenarnya sang ‘aku’ sebenarnya sedang mencari sebuah kepastian.
“Ada hal yang tidak bisa diselamatkan karena benar.”
Ini adalah pernyataan dimana mungkin sesuatu yang benar itu belum tentu baik. Meski hal ini cukup jarang terjadi, tapi kemungkinannya tidak akan nol.
“Jika tidak menangis adalah sebuah kekuatan. Tetap lemah aku pun tidak masalah.”
Fakta. Orang yang memiliki kekosongan hati cenderung tidak bisa menangis sebagai simbol rasa sakit mereka. ‘Aku’ mengibaratkan kemampuannya tidak menangis itu sebagai ‘kekuatan’ yang jika dia tidak miliki, ia merasa tidak masalah. Bermakna sebenarnya ‘aku’ ingin menangis. Hanya saja tidak bisa.
“Meski penuh kebohongan. Namun demikian, aku mau tetap hidup.”
Lagi-lagi aku mengatakan bahwa dia sebenarnya ingin hidup. Tetapi dia tidak menemukan apa tujuannya hidup ataupun sandarannya untuk bisa menikmati hidup. Karena dia seakan-akan mencari arti dalam hidupnya itu sendiri. Selagi belum menemukan apa itu artinya hidup, dia terus berbohong bahwa dia adalah seorang manusia yang hidup. Meski hatinya lagi-lagi telah ‘mati’. Tapi meski begitu dia ingin ‘benar-benar’ hidup.
“Meski tidak ada cinta atau apapun, fajar tetap akan menyingsing.”
‘Aku’ mulai menerima kenyataan dimana baik dia akan menemukan cinta (yang sepertinya ia jadikan sebagai sandaran hidup) ataupun tidak, fajar pada esok hari akan tetap menyingsing. Menandakan meski dia tidak memiliki cinta, hari esok masih akan terus berlanjut. Ini menjadi dua sisi sebenarnya. Bisa diartikan positif, karena mungkin dia akan menemukan sandaran hidupnya di esok hari. Bisa juga diartikan negatif, karena mungkin seakan-akan dunia tidak akan peduli dan terus berlanjut meski dia memiliki cinta ataupun tidak.
“Alasanku lahir pun tidak mengapa disusulkan.”
Yah, untuk ini kembalinya positif. Jadi dia masih ingin mencari alasannya untuk hidup dan sandarannya mengapa dia diciptakan di dunia ini. Maka dari itu dia merasa tak masalah jika hari ini masih belum menemukan alasan yang ia cari, karena masih ada keyakinan bahwa suatu hari nanti pasti akan ada saat dimana alasan itu akan ditemukan.
“Jangan sebut keadaan sekarat sebagai sebuah keindahan.”
Sebenarnya ini menuju kepada ‘aku’ atau bisa dibilang menyindir diri sendiri. Karena sebenarnya dia menggambarkan seolah-olah dia ingin ‘mati’ dalam artian khusus dalam beberapa kata. Akan tetapi hal itu sangat tersirat di dalam kata yang indah. Seperti ‘Hati mesin’. Mungkin akan menjadi keindahan tersendiri baginya yang bangga memiliki hati seperti itu. Intinya dia bangga memiliki kiasan hati seperti itu dan mengaggapnya sebagai sebuah keindahan. Padahal arti dibaliknya sedikit, tragis.
“Tidak ada bunga yang mekar hanya untuk layu.”
Kalimat ini mungkin sedikit membantah kalimat yang sering kuucapkan dulu. Pada arsip “???? ?? : Cukup (?)“, aku mengatakan bahwasannya “Bunga yang layu tidak berharap dia akan mekar kembali.”. Dimana saat itu aku berpikir bahwa pada akhirnya bunga akan tumbuh dan berakhir dengan layu. Tidak ada makna yang konkret dalam kehidupan yang sesingkat itu. Karena waktu itu tidak akan ada arti dalam layunya sebuah bunga, atau dalam ini bisa diartikan bunga adalah hati atau perasaan seorang manusia. Jadi tidak akan ada artinya layunya sebuah bunga, sebelum kalimat ini ‘muncul’.
“Sesuatu yang indah hingga terlihat jelek. Isikanlah ke dalam hatiku yang hilang.”
Lirik ini ‘aku’ seakan-akan menjelaskan bahwasannya dia ingin secepat mungkin menemukan sandaran hidupnya. Menemukan apa yang mengisi kekosongan di hatinya. Kata kunci disini adalah ‘Sandaran hidup’, ‘Cinta’, ‘Alasan hidup’, dan ‘Tujuan hidup’ adalah hal yang sama.
“Lagu apa? Kata-kata seperti apa? Yang bisa menjadi sandaran malam yang gelap.”
Disini ‘aku’ atau ‘penyanyi’ dalam lagu ini seakan-akan bertanya apakah bisa ia menyandarkan hidupnya pada sesuatu yang bisa dia buat. Sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari gelapnya malam atau secara hafiah kehidupannya. Dia benar-benar ingin segera menemukan alasannya untuk hidup.
Overall lagu ini menceritakan sang pembuat lagu atau ‘aku’ ingin mencari sandaran hidupnya atau alasannya bisa hidup untuk esok hari. Akan tetapi sama sekali itu tidak mudah karena banyak sekali ia harus terganggu dengan dirinya sendiri. Penggambaran mengenai karakter ‘aku’ disini juga terkesan natural karena sama sekali tidak terlihat mencolok, melainkan seperti manusia yang intinya sudah putus asa dengan dunianya sendiri. Seperti lelah melakukan sesuatu dan tidak ingin melakukan perubahan yang signifikan. Hanya ingin menjalani hidup dengan biasanya dan berakhir secepatnya. Maka dari itu, dia tidak terkesan menikmati hidup. Karena apa alasannya untuk menikmati hidup jika hal tersebut tidak ada.
Hal ini adalah penggambaran realistis seseorang dan sama sekali tidak terpaku pada bodohnya fiksi yang dibuat. Sekian.