Diary 04 : A Little Mail from Another Myself

“Manusia dikutuk untuk bebas.”

~Jean Paul Startre

Kepada yang ditujukan untuk otousan atau okaasan yang berada di belahan bumi yang jauh sana. Ah, mungkin teruntuk juga oneesan yang selalu mengawasiku disaat aku masih kecil.

Pertama-tama saya ingin berterima kasih atas perhatian anda dengan membuka link ini. Saya bukanlah orang yang terlalu mengatakan semua apa adanya. Maksud saya, saya bukanlah orang yang terlalu berterus terang kepada siapapun. Termasuk kepada anda-anda semua. Saya hanyalah orang yang menahan segalanya seorang diri. Jadi terimakasih sekali untuk kalian yang membuka link ini. Sungguh.

Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin berterus terang bahwasannya saya pernah megatakan bahwasannya, “Perasaan ketika diucapkan atau dituliskan kedalam kata-kata akan kehilangan subjektivismenya.” Yah, mungkin saya terlalu bodoh waktu itu sehingga membuat kata-kata yang sok keren itu. Saya hanya bermaksud,untuk “Perasaan adalah hal yang sebaiknya disimpan saja, dikarenakan perasaan sesungguhnya tidak akan bisa diubah menjadi kata-kata”

Tapi kali ini, saya membuang hal itu dari benak saya untuk sementara.

Intinya, saya selama ini hidup dengan topeng yang bernama kepribadian. Saya bukanlah seorang yang periang. Saya bukanlah seorang yang aktif. Saya bukanlah orang yang sangat teramat optimis dengan saya sendiri. Intinya saya bukanlah orang yang seperti ini. Tapi… jika aku tidak begini aku tidak bisa hidup. Maka dari itu, saya suka memakai topeng ini. Tapi, tolong pahami… saya diri saya bukanlah seperti ini. Saya bahkan tidak mengenal diri saya sendiri… Bukankah itu cukup menyedihkan?

Saya sudah lelah… Tidak ada kata-kata yang mungkin bisa menggantikan kalimat itu. Saya lelah. Saya lelah. Dan saya lelah. Apakah kalian mengerti? Saya lelah. Akan tetapi ketika saya beristirahat, tiba-tiba semua memalingkan muka dari saya. Itu… cukup menyakitkan.

Saya lelah tapi saya tidak memiliki pilihan. Maka dari itu saya menjadi sosok sempurna yang berpura-pura kuat. Apakah kalin tahu? Itu melelahkan…. Alhasil saya selalu mengatakan, “Ah, tidak apa-apa.”

Orang-orang disekitar saya menyukai pertunjukan topeng saya. Keluarga saya juga demikian. Saya… tidak tahu apalagi yang harus saya lakukan…

Saya ingin mendapat ucapan, “Kamu telah menjalani hidupmu dengan hebat. Lanjutkanlah! Kamu adalah sosok yang hebat. Pilihanmu selama ini tidak akan mengecewakanmu. Berjalanlah dan nikmatilah perjuanganmu itu!”

Bahkan jika itu keluar dari salah satu teman saya, rasa-rasanya tidak mungkin.

Saya hanya ingin mendapat pujian seperti itu… Sangat ingin… Pahamilah saya bukan orang kuat yang selalu menahan semua seorang diri… Saya hanyalah sebuah remaja biasa yang jatuh di lubang keputusasaan. Bahkan saya tidak mengetahui lubang itu sendiri.

Mungkin cukup sekian dari saya. Terima kasih untuk waktunya. Saya sisi lain ReeShiragami mengucapkan selamat tinggal. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi… Semoga.

~Another Side of ReeShiragami.

Diary 03 : Sometimes…

“Ketika anda perlahan melewati saya dengan angkuhnya, saya hanya terkekeh pelan sambil menepuk kedua telapak tangan saya. Saya lalu hanya mengatakan, “Saya selalu berada di depan kalian, bodoh!”.”

~ReeShiragami a.k.a A. Gusti

Yah, akhir-akhir ini saya dipenuhi oleh beberapa tugas yang datang bagai air bah. Tidak tahu kapan akan berakhir. Ya, saya berharap hal seperti ini tidak berakhir sih-

Akan tetapi selalu sibuk setiap hari bukanlah keinginanku, apalagi keinginan siswa-siswi yang tengah berjuang diluar sana. Pokoknya semangat untuk kalian yang berjuang dengan suasana yang baru sepertiku ini. Walaupun saya mati-matian agar bisa produktif seperti ini, akan tetapi masih sulit bagi saya untuk menyelaraskan waktu seperti yang saya inginkan. Maksud saya seperti waktunya belajar malah tertidur kelelahan. Ya, pokok intinya seperti itu.

Akan tetapi disaat produktif seperti ini saya mulai berpikir tentang sesuatu. Apakah saya selama ini adalah alat?

Jika saya melihat dari segi subjektif teman saya, saya memanglah alat bagi teman sekelas saya. Namun, saya hanya menolak kebenaran itu. Saya menolaknya karena… saya tidak merasa seperti itu. Walau secara objektifnya benar-benar seperti itu. Intinya saya bukanlah alat, saya juga manusia.

Akan tetapi setelah beberapa kejadian saya mulai menyadari beberapa keanehan dalam diri saya tentang makna ‘alat’ disini.

Saya memutuskan untuk membalaskan hal ini. Apakah kalian tahu? Alat adalah sesuatu yang dimanfaatkan. Akan tetapi bagaimana teori itu kita balik. Alat lah yang akan memanfaatkan penggunanya? Jika itu yang terjadi, saya dapat merekayasanya.dan memegang penuh atas seluruh permaian yang terjadi di atas.

Seseorang pernah berkata kepada saya, “Hidup itu seperti catur. Anda dapat menjadi pemainnya ataupun hanya akan menjadi bidaknya.”

Jika hal itu benar-benar saya terapkan, seorang pemain hanya akan fokus kepada ratu dan raja miliknya sendiri. Yang bsa kita artikan adalah keinginan kita atau keberadaan kita. Akan tetapi menariknya disini, kita akan mengorbankan seluruh bidak yang kita miliki hanya untuk melindungi raja atau ratu kita.

Jadi… akankah itu terjadi?

Jika itu benar-benar terjadi seharunya kalian yang membaca tulisan ini berwaspadalah. Hidup adalah tentang pemain ataupun bidak. Jika anda lengah, anda akan mendapat peran bidak dengan mudahnya. Akan tetapi, ada 1001 jalan untuk kita mendapatkan peran pemain. Jadi selamat mencoba~

Dua langkah kedepan adalah jawaban, jadi anda harus mempersiapkannya dari sekarang. Banyak kemungkinan dan pertanyaan untuk menemukan jawaban itu. Jadi, semangatlah, untuk menjadi seorang bidak.

???? ?? : 新し生活

Aku tahu ini sangat membosankan.

Jika kehidupanku dirunut dari awal kisah ini bermula, aku hayalah seorang anak yang berusia 14 tahun yang mengalami apendisitis di semester ke 5 sekolah menengah pertama. Yah, teman-temanku tidak peduli tentang ku saat ini. Bahkan mereka menganggapnya hanyalah sebuah kejadian biasa. Tidak ada keseriusan dalam pembahasan ini. Alih-alih kasian, mereka malah menganggapku sebagai lelucon.

Setidaknya itulah yang terjadi setahun yang lalu. Pada waktu itu aku hanya berharap untuk mati saja. Tiada lagi tempat untukku di dunia ini. Percayalah, kamarku selalu terdengar isak tangis setiap malamnya.

Tapi waktu itu sebuah notifikasi terdengar dari ponselku. Walau aku acuh tak acuh dengan notif itu, tapi aku tetap membukanya dengan berharap kehidupanku berubah.

Kalian bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Itulah kalimat pertama yang mengkhawatirkanku.

Aku sebenarnya menganggap bodoh semua kalimat itu. Tapi, dia adalah seorang yang tulus yang mengatakan itu kepadaku. Aku… aku tak mengerti…. Mengapa dia berbicara kepadaku? Mengapa dia mengasihaniku? Bukankah semua orang membenciku? Menganggapku sebuah Lelucon?

Hubungan diantara kami seiring berjalannya waktu semakin mendekat. Tidak terpikirkan olehku untuk dapat bertemu dengannya selama ini.

Pukul 14.30, Tepatnya Sepulang Sekolah

Aku mengamati lapangan itu. Banyak orang yang berlalu-lalang disana. Aku bertanya-tanya, mengapa dia masih belum menampakkan tubuhnya yang mungil itu? Akan tetapi ternyata aku sudah menemukan jawabannya sebelum aku mencoba bertanya padanya.

Dia bergandengan tangan dengan seorang lelaki yang sangat asing bagiku.

Itulah akhir dari kisah singkat ini.

Diary 02 : Another Diary Again

Sebenarnya ini hanyalah beberapa pendapat saya saja, jadi yang merasa tersindir mohon maafkan saya pribadi.

Sebenarnya saya tidak terlalu pintar dalam hal akademik. Jika ilmu itu dapat diukur dengan cara yang lain selain ujian, mungkin peringkat saya akan stagnam menempati nomer 15 di 30 siswa.

Akan tetapi bukan berarti saya adalah orang yang membosanakan yang tidak pernah mencetak prestasi apapun. Walau sebagian dari perkataan sebelumnya sebagian besar ada benarnya, Dengan hidup saya ‘membosankan’ seperti ini sebenarnya saya mencetak beberapa prestasi di bidang akademik. Bahkan rasa-rasanya orang lain pasti akan menganggap “Ah, orang itu akan selalu mengejar akademiknya.”

Namun, bukan itulah yang terjadi. Beberapa tahun lalu saya mulai berpikir. Jika saya berusaha keras untuk menjadi pintar, akankah saya merasa bahagia?

Ah, rasa-rasanya itu tidak mungkin terjadi di kalian. Orang pintar akan selalu bahagia karena dia sering dipuji maupun dipuja. Bahkan jika orang lain sudah tidak memujinya lagi, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan pujian itu.

Namun, apakah pujian-pujian itu akan membuat kenyang hatinya yang tamak itu?

Saya tidak iri. Jika saya terbiasa berkata dengan lantang, saya akan mengucapkan kalimat yang menyedihkan kepada seseorang yang menganggap dirinya adalah siswa teladan. Akan tetapi bersyukurlah karena saya tidak mungkin melakukan hal yang menjijikkan itu.

Kembali lagi di awal, saya tidak bermaksud menyinggung para siswa teladan yang tengah berjuang dengan pamornya diluar sana. Bekerjalah kalian seperti bagaimana semestinya kalian bekerja. Akan tetapi jika kalian tidak semestinya bekerja disana, maka berhentilah dan bekerjalah di mana kalian semestinya bekerja.

….

Mungkin perkataan saya terdengar agak rumit untuk dipahami, jadi saya jelaskan sedikit saja.

Misalnya jika ada seseorang yang berbakat dalam bidang musik, maka seharusnya orang itu bekerja di bidang musik tersebut. Bukan malah di bidang akuntan atau sejenisnya.

Tapi saya tidak berhak mengomentari hidup anda itu, jadi terserah kalian mau berbuat apapun. Saya hanya memperingatkan ketika anda mulai melakukan suatu hal yang menyimpang dengan bakat anda. Dengan kata lain saya tidak ingin anda terjerembap dengan lubang yang saya lalui dulu.

Jika boleh jujur, saya sebenarnya orang yang lebih suka membiarkan anda mencoba sendiri dengan dalih ‘berani mencoba’. Akan tetapi jika anda terjerembap di dalam lubang tersebut, jangan membawa apapun dari saya. Saya sudah mengatakan kepada anda dan anda tidak memperhatikan apa yang saya ucapkan ini.

Kedengarannya seperti seorang villain yang baru saja memulai debut pertamanya.

Yah, intinya kalian harus pertimbangkan beberapa hal sebelum memilih suatu hal. jangan menyimpang dari jalan yang telah dibuat untuk anda. Jadi saya tidak melarang anda menjadi siswa teladan, akan tetapi jika anda tidak pantas dengan peran itu saya rasa hentikanlah saja akting anda yang sia-sia itu.

Hanya Sekian, Terima Kasih.

Project 00 : Running From the Past

“Anda tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan waktu itu. Jadi diamlah dan lupakan semua itu.”

~ Elyva sang Penulis

Saya mungkin pernah mengatakan bahwasannya saya menyukai hal-hal yang berbau menulis. Yah, sebagai lankah awal. Saya akan menulis beberapa ‘Proyek Menulis’ saya di blog ini. Selain untuk arsip saya, mungkin beberapa cerita ada yang saya upload eksklusif di blog saya ini.

Untuk proyek pertama ini saya upload di Platform Wattpad milik saya sendiri. Yah, setidaknya saya akan menyelesaikan cerita saya tersebut dengan tujuh bagian cerita. Untuk melihat lebih lengkapnya, klik disini. Selain itu, saya juga akan membagikannya secara dokumen dalam blog yang saya tulis ini ketika sudah tamat nanti. Untuk saat ini hanya kurang dua bagian terakhir yang akan saya selesaikan sebelum awal Juli 2022 nanti.

Sedikit gambaran tentang bagaimana cerita ini adalah tentang seorang gadis yang mencoba lari dari masa lalu. Gadis tersebut bernama Elyva. Siapa sangka bintang kelas satu ini mempunyai masa lalu yang sangat amat tragis.

Di awal bagian saya akan menuliskan beberapa hal tentang Elyva. Dia adalah seorang gadis yang selalu menyembunyikan sesuatu dan bersandiwara. Layaknya seorang aktor dalam sebuah pementasan seni. Dia melakukan ini dengan dalih agar dia tidak menjadi seorang yang menyedihkan seperti dirinya di masa lalu. Dengan pemikiran rasionalnya, dia mengikat seluruh perasaan yang tersisa pada lubuk hati terdalamnya agar tidak dapat merasakan lagi suatu hal yang bernama ‘kekecewaan’.

Sejauh ini tidak ada yang berhasil membuka tirai masa lalunya, bahkan ‘sahabatnya’ sendiri. Penyamarannya sebagai sosok Elyva yang kini pun telah menutupi apa yang terjadi pada dirinya dulu. Perlahan, dia mulai nyaman dengan kehidupan seperti ini.

Namun, pada suatu hari. Seorang murid pindahan yang entah darimana asalnya, kini menjadi teman dari Elyva. Murid pindahan itu bernama Cey. Disinilah cerita dimulai.

Cerita ini terinspirasi dari beberapa konsep yang saya tulis. Yah, setidaknya untuk saat ini pemikiran Elyva adalah murni dari pemikiran saya pribadi jadi saya tidak terlalu sulit dalam mengerjakan naskahnya. Yang membutuhkan waktu lama itu pada bagian alur, sih.

Yang saya buat untuk menjadi daya tarik cerita saya satu ini adalah penekanan terhadap karakter utamanya. Terutama antagonisnya tidak hanya satu, membuat sang karakter harus lebih ‘memegang pedangnya’ lebih erat lagi.

Saya tidak tahu apakah anda ingin membacanya atau tidak, yang terpenting bagi saya adalah berusaha semaksimal mungkin. Jika anda berminat membacanya, silakan mampir di wattpad saya atau bisa menunggu sampai versi pdf-nya saya bagikan di blog ini.

Dengan ini ‘Periode : Awal dari Akhir’ dimulai.

???? ?? : Berakhir

Sudah berakhir, ya?

Aku membuka mataku perlahan Di hadapanku sana terdapat beberapa kursi yang berjejer sedemikian rupa. Tapi yang menempati kursi plastik itu baru setengahnya. Tiada lagi yang kuketahui tentang bagaimana nasib ‘kursi yang disediakan tapi tidak digunakan’ tersebut. Yah, walaupun aku lebih suka untuk tidak menghiraukan rasa penasaranku itu, sih.

Riuh, hiruk, pikuk mulai terdengar bersahut-sahutan. Entah mengapa, panggung di depan sana menuai banyak tepuk tangan. Bahkan seolah-olah suara gemuruh itu semua tidak akan bisa surut dalam jangka waktu yang panjang. Intinya, aku tidak tertarik dengan hal itu juga.

Aku menghela nafas. Baru pertama kali ini, aku merasakan nafasku sangat berat sekali. Aku tidak mengeluh ataupun ingin berkeluh kesah. Tapi bagaiana, ya? Terkadang rasanya perasaan dan hatiku itu, selalu dipenuhi sesuatu hal yang berat. Berbohong dan berandai-andai bukanlah sifatku, jadi yang kukatakan semua ini adalah keseriusanku selama ini.

Aku kembali menutup mataku. Layaknya seorang karakter pada film-film yang kutonton, mereka akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang akan menguatkan hati mereka. Jika itu sungguhan terjadi, mungkin aku akan selalu menutup mataku saat perasaanku sedang risau.

Tapi aku adalah aku. Aku terkadang tidak bisa membuat kalimat yang meyakinan diriku sendiri. Maka dari itu aku mulai menggerakkan bibirku.

“Hagureta kimi wo sagashiteta yo… Yobikaketa koe kakikesarete… Boku ga nigirishimeta sono te wa… Furueteita ne….”

(Kucari dirimu yang terpisah dariku… Namun suaraku tertelan oleh gemuruhnya suara keramaian…. Tangan yang selalu kugenggam erat… Kini mulai bergetar….)

Aku membuka mataku. Menarik nafas yang panjang untuk melanjutkan kalimatku sebelumnya.

“Futari no omoi ga… Modosenai jikan… Dakishime… takaku tondekuyo….”

(Perasaan yang kita miliki…. Tak akan terkekang oleh waktu… Jadi peluklah… Dan terbang ke langit….”

Aku menatap panggung itu lagi. Tiada lagi gemuruh tepuk tangan yang mengiringi penampilannya. Disana hanya ada seorang pria paruh baya yang sedang berbicara melalui microphone yang telah disediakan. Menatap sekilas, lalu menutup mataku kembali.

“Mangekyou sora ni kirameite…. Kimi ga gikochinaku hohoendete… Itoshisa afureteyuku…”

(Sebuah kaleidoskop bersinar di langit… Seperti senyumanmu yang kaku itu… Dipenuhi oleh rasa sayang…)

Kali ini aku tidak akan melakukan suatu hal lagi. Karena inilah bagian terakhir dari kalimat yang kuingat untuk penguat hatiku.

“Hikari ga toketeku sono mae ni… Kokoro kara negaunda… Kono shunkan wo… Towa ni wasurenai you ni to…”

(Sebelum cahaya tersebut memudar… Aku memohon dari hatiku… Agar momen indah ini…. Tidak akan terlupakan dalam hidupku…)

Selesai.

Tetesan air mata yang keluar, kuusap dengan jas berwarna hitamku.

Song? Asami Imai – Asayake no Starmine (Ending Plastic Memories)

Adam Abdi Gusti, 1 Juni 2022. Ar Rahmat Bojonegoro.

Diary 01 : A Magic and Regret

Saya akan menceritakan sebuah kisah yang dimana itu cukup membuat saya memikirkannya beberapa hari. Ini bukanlah kisah yang penuh dengan petualangan ataupun drama romansa. Ini hanyalah cerita singkat yang sangat-sangat penuh makna. Maka dari itu, saya ingin anda mengetahuinya juga. Baik langsung saja saya mulai.

Di sebuah dunia sihir, hiduplah sepasang suami-istri. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan cocok satu sama lain. Seakan-akan mereka tidak dapat dipisahkan, sebelum ajal menjemput mereka berdua. Benar-benar sepasang suai-istri yang sangat harmonis.

Suatu ketika, sang istri jatuh sakit. Dia tak bisa beranjak terlalu jauh dari tempat tidurnya. Kondisinya sangat parah. Sedikit demi sedikit tubuhnya digerogoti oleh penyakit tersebut. Cerita pun dimulai.

Sang suami tidak tega melihat istrinya hanya berbaring lemah di kasur. Ia merasa iba dikarenakan sang istri sudah tidak bisa melihat keindahan dunia luar lagi.

Maka dari itu, sang suami pun pergi keluar. Berpetualang. Membuat sebuah replika dunia luar menggunakan sihirnya. Dia melakukan semua itu untuk ditunjukkan kepada sang istri yang terbaring lemah di kasurnya.

Mulai dari pegunungan hingga lautan. Mulai dari fajar hingga senja. Sang suami berjuang sangat keras demi membahagiakan istrinya.

Anda tahu? Ini seharusnya menjadi cerita yang normal saja. Akan tetapi….

Setelah berhari-hari sang suami mereplika seluruh pemandangan yang ia lihat. Akhirnya sang suami tersebut pulang untuk menunjukkan replika pemandangan dunia luar kepada sang istrinya.

Saat menunjukkan seluruh pemandangan yang berhasil ia jadikan replika. Sang suami juga menceritakan tentang keseruan-keseruan saat dia berpetualang di luar sana. Sang istri hanya tersenyum mendengarkannya.

Namun, tiada yang dapat menebak bahwasannya senyum tersebut adalah senyum terakhir dari sang istri. Setelah menerima semua kebahagiaan itu, sang istri membunuh dirinya sendiri. Alasannya yang tak lain adalah karena ia tahu, ia tak mampu merasakan kebahagiaan yang suaminya tunjukkan kepadanya.

Sang suami pun hanya memeluk tubuh istrinya yang dingin beserta darahnya yang menetes. Ceritapun berakhir disini.

“Sebuah kebaikan bisa menjadi suatu hal yang amat menyakitkan.” Hanya itulah yang bisa saya simpulkan dari cerita lama ini. Saran saya, jangan terlalu terpaku dengan pemikiran anda sendiri. Pahamilah perasaan orang lain yang akan anda bahagiakan. Itu adalah cerita yang penuh hikayat jika anda memahaminya dengan baik.

Sekian terima kasih.

Short Story : Secarik Kehidupan

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk seseorang membangun sebuah kepercayaan kepada orang lain.”

~Reeshiragami a.k.a A. Gusti

Ruangan putih ini telah menjadi tempat istirahatku selama beberapa hari terakhir. Bau infus yang selalu hadi di tiap detiknya membuatku merasa tidak kesepian. Ditambah sebuah jendela kaca yang menghadap arah barat, ruangan persegi ini tidaklah membosankan.

Saat ini, aku tengan menatap matahari yang terbenam di ufuk barat sana. Menikmati senja tanpa arti. Menghabiskan waktuku tanpa syarat. Namun, bagaimana, ya? Terkadang aku ingin berari di luar sana. Merasakan persahabatan yang hangat itu. Bukan hanya terkurung lemah disini.

Saat berpikir hal itu, mataku berkaca-kaca. Mengenang semua harapanku yang beralhir degan kekecewaan. Terasa sangat sakit, tapi sama sekali tak berdarah. Membekas pada senyuman dan tawaku saat itu. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada tuhan yang memperbolehkan umatnya berbohong. Jika tidak, aku tak tahu lagi bagaimana caraku menyembunyikan rasa kecewaku.

Tanpa kusadari, air mataku telah mengalir melalui pipiku. Saat kutanya apa alasannya, tangisanku semakin menderas. Aku terpaksa menutup mataku dengang= kedua tanganku. Mencoba menenangkan diriku sendiri. Ah, lemahnya diriku.

Suara pintu decitan pintu yang terbuka, mengejutkanku secara tiba-tiba. Dengan seggera, aku mengusap air mata yang membasahi pipiku menggunakan telapak tanganku. Tidak. Tidak boleh ada yang mengetahui bahwa aku sedang terpuruk.

Seorang remaja lelaki terlihat masuk dari balik pintu berwarna cokelat itu. Ia masih mengenakan seragam sekolah beserta tas pundaknya. Salah satu tangannya membawa sebuah tas plastik kecil.

“Yo! Asaya.” sapanya padaku. Menutup kembali pintu yang telah ia buka.

“Ah, Misaki. Selamat sore.” balasku.

“Bagaimana keadanmu? Sudah membaik?”

Aku mengalihkan pandangan. “Ya…. Begitulah.”

“Begtu, ya….” Diam sejenak. “Oiya, ini kubawakan roti melon kesukaanmu.”

Dia menyodorkan tas plaastik kecil itu kepadaku. Aroma khas roti tersebut membuatku lapar seketika. Akupun menerima plastik kecil tersebut.

“Terima kasih, Misaki. Kau selalu perhatian padaku.” godaku padanya. Menurutku dia wajar perhatian kepadaku, karena kami adalah teman masa kecil. Belum lagi rumah kami yang saling bertetangga. Intinya banyak faktor yang membuatku dekat dengannya. Jadi tidak heran kami selalu bercanda satu sama lain.

“Lalu, mengapa kau menangis?”

“Eh?” Suaraku tercekat. “Ba-Bagaimana kau tahu?”

“Di mataku. Kau adalah pembohong yang buruk, Asaya.” katanya dengan santai. Menarik sebuah kursi ke samping ranjangku. “Jadi bagaimana jawaban pertanyaanku tadi? atau haruskah kuulangi pertanyaanya?”

Aku menelan ludah. Misaki adalah counter-ku dalam melakukan suatu hal. Seakan-akan dia selalu mengawasi gerak-gerikku selama ini. Berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya adalah hal yang sia-sia.

“Aku tidak apa-apa, hanya saja…. Aku sedikit mengenang masa lalu…. Tidak ada yang perlu Misaki khawatirkan, kok….” jelasku sambil menunduk. Sungguh, aku tidak apa-apa… Tapi mengapa rasanya sakit?

Tiba-tiba air mataku berderai lagi. Mulai membasahi pipiku yang sebelumnya telah kering.. Misaki hanya duduk diam memperhatikan.

“Aku hanya ingin merasakan persahabatan yang hangat itu. Apa harapanku terlalu tinggi?” lirihku di sela-sela isak tangis.

Sejenak percakapan kami hilang. Hanya isak tangisku yang menghiasi seluruh tempat pada ruangan putih ini. Misaki hanya menatapku, sembari terkadang menghela nafas panjang.

Aku benci ini. Sangat benci. Bagian terpurukku diketahui oleh orang lain. Tapi aku lebih benci lagi, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tangisku menderas.

Di saat kesedihan masih melekat pada hatiku, remaja lelaki tersebut tiba-tiba merangkulku yang tengah terduduk putus asa. Mendekap mukaku pada pundaknya. Membuat ar mataku membasahi seragam miliknya.

“Jika kau kesepian, aku selalu ada.” bisiknya kepadaku. “Kekecewaan akan selalu datang dari sebuah harapan. Lazimnya seorang manusia akan selalu berharap. Itulah alasan mengapa kekecewaan tidak bisa hilang dari kehidupan ini. Bukankah kalimat itu yang selalu menguatkanmu selama ini, Asaya?”

“Tapi…. Ini tidak adil.” belaku. Berusaha menanhan air mataku agar tidak jatuh lebih banyak lagi.

Ia tidak menjawab sepatah katapun. Tapi dia mempereratkan rangkulan kami. Seakan-akan aku tidak boleh pergi atau bergerak sesentipun. Dia meranagkulku demikian hingga isak tangisku tidak terdengar lagi.

Setelah rangkulan kami terlepas, aku merasa agak lega. Tangisku tang mereka juga membuatku lebih dapat berpikir denganjernih. Sekaligus nafasku lebih teratur.

“Maaf sejujurnya aku tak bisa membantumu….” lirih pelan Misaki. Aku tertawa pahit. Tentunya aku tidak mengharapkan bantuan dari lelaki tersebut.

“Tapi aku benci jika kau menangis lagi. Jadi aku akan selalu menemanimu.” lanjutnya. Diam sejenak.

Saat aku akan melanjutkan pembicaraan. Toba-tiba Misaki tertawa pelan. TAnpa ada alasan apapun, membuatku bertanya-tanya apa yang ia tawakan.

“Benar-benar naifnya diriku ini. Tapi memang benar, tak bisa kuingkari lagi” ucapnay sambil terkekeh pelan. Sepersekian detik kemudian tawanya mereda. Disusul dengan munculnya mega merah senja di cakrawala barat sana..

Remaja lelaki itu tersenyum menatap diriku yang tengah kebingungan.

“Sebenarnya, Aku menyukaimu, Asaya.”

“Kakau menyukaiku?” ucapku terbata-bata.

Ya…. Aku ingin melindungimu sekaligus menemanimu. Aku tidak mau kau menangis lagu. Jadi maukah engkau menjadi kekasihku?” katanya dengan lepas. Benar-benar tanpa beban sedikitpun.

Ah, um, aduh. Akutak bisa berpikir jernih. Tapi apa, ya, namanya? Saatku mendengar kata-kata itu, perasan dari Misaki seutuhnya sampai kepada diriku. Seperti ada sebuah ikatan yang menghubungkan diriku dan remaja laki-laki itu. Membuatku tidak kesepian lagi. Dia benar-benar menemaniku. Jujur saja, aku tersentuh oleh perasaanya itu.

Aku tersenyum penuh arti. “Tentu saja aku ma-“

Tidak. Tidak rasa ini lagi. Aku benci rasa ini.

Sebelum menyelesaikan kalimatku, mataku terbelalak. Sepersekian detik kemudian menjalar rasa sakit di seluruh dadaku. Kedua tanganku langsung mencengkram keras are yang terasa sakit tersebut. Berharap rasa sakit tersebut menghilang. Tapi jangankan mereda, rasa nyeri ini malah bertambah sakit seiring berjalannya waktu. Misaki yang panik mencoba menekan tombol darurat berulang kali agar dokter segera datang.

Aku mulai mengerang kesakitan. Rasa sakit ini membuatku tidak merasakan nafasku sendiri. Kepalaku terasa sangat berat. Mataku mengerjap-ngerjap. Pandangaku mulai terasa blur.

“Asaya!! Bertahanlah!!”

Ah, suara Misaki, ya? Diluar sana juga ramai terdengar derapan kaki. Ah, tenaga medis, ya? Tapi….

“Maaf…. Misaki…” lirihku di tengah eranganku.

Gelap.


Ini adalah cerita lore character dari seri Natsuki-Elena. Klik untuk membacanya.

Terimakasih telah membacanya, semoga anda menantikan blog-blog saya selanjutnya 🙂

???? ?? : Awal dari Akhir

Saat itu…

Langit malam tidak seperti biasanya. Bulan dan bintang tidak terlihat bersinar dari bawah sini. Langit diatas sana hanyalah seperti hamparan karpet yang berwarna hitam. Hanya beberapa kali saja kilatan petir terlihat menyambar dari atas sana. Selain itu, tiada hal lain lagi yang menarik dibahas.

Aku masih ingat. Saat itu….

Angin berhembus kencang. Seakan-akan mereka berlomba lari untuk sebuah kebebasan. Air mata sang langit mulai menetes. Sedikit demi sedikit. Setetes demi setetes. Tiada yang mampu menghentikkan gerakannya jatuh ke tanah.

Pada waktu itu….

Aku baru menyadari jarum jam di pojok sana telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak terasa dua jam lebih aku menghabiskan waktuku di depan monitor laptop yang penuh dengan kosakata-kosakata yang rumit. Kini monitor tersebut telah mati. Tiada lagi cahaya yang keluar dari peranti itu. Laptop berwarna biru itu telah tergeletak membisu di atas meja pojok kelas. Membelakangi jendela kaca yang sedikit terbuka.

Setelah membereskan beberapa hal sebelum tidur, aku berjalan pelan menuju kamarku. Sebagian lampu di bawah sana telah dipadamkan, akan tetapi beberapa orang masih terlihat berhilir mudik dari ujung ke ujung yang lain. Namun, mereka terlihat membisu antara satu sama lain.

Aku menuruni tangga dengan melihat semua hal itu dengan mataku sendiri. Menghembuskan nafas pelan. Lalu mendongak ke langit malam yang penuh dengan awan mendung.

Sebutir air menetes di pipiku. Terasa dingin walau hanya sesaat. Disitulah aku mulai menyenandungkan sesuatu….

“Sayonara, no omoide wo…. Hitomi ni tataete mitsumeru yume…. Tooku kowareteshimau utakata no memory….. Samishisa no namida soutto fukou….”

(Selamat tingal, semua ingatanku…. Kulihat semua itu dalam jauh dalam mimpi…. Ingatan yang lama sangat rapuh dan mulai memudar…. Disaat ku hapuskan air mata kesendirian ini….)

Air yang turun dari atas sana mulai menderas. Namun masih kutatapi langit malam tanpa bulan itu. Melanjutkan senandunganku itu….

“Nobashita te wa kanransha yasashiku torarete…. Mezame souna…. Kioku no kakera…. Utsumuite kiete hoshii to inoru kedo?”

(Engkau ulurkan tanganmu dan memelukku lembut seperti kincir ria…. Kutadahkan kepalaku…. Sekaligus berpikir…. Apakah ingatan ini menghilang begitu saja?”

Sepersekian detik berikutnya langit mulai menangis dengan deras. Suara air yang jatuh di atap besi sana menjadi semakin lebih tak beraturan. Perlahan mulai membasahi pakaianku. Namun aku masih mendongak. Menatap hamparan karpet yang gelap itu….

“Kimi ga mitsukete kureta kono koe wo…. Ugokidashita tokei no hari…. Sekai wa yagate irozuite…. Plastic na kokoro ga kagayakidasu yo…. Wasurenaide…. Oboeteite…. Itsuka mata meguriaueru hi made….”

(Suara yang kamu temukan ini…. Berasal dari detikan sebuah jarum jam…. Yang mewarnai dunia dengan pucatnya…. Kareka itulah aku kilaukan hati plastik ini…. Jangan lupakan…. Ingatlah selalu…. Hingga kita bisa berjumpa kembali….)

Aku lagi-lagi menghembuskan nafas. Bedanya sekarang hujan telah turun. Bersamaan dengan air mataku yang mengawali perpisahan ini.

Dua Puluh Empat Mei itu…. akan selalu kuingat… semoga.

Song? Eri Sasaki – RIng of Fortune (Opening Plastic Memories)

Adam Abdi Gusti, 24 Mei 2022. Ar Rahmat Bojonegoro.

Diary 00 : Feelings and Logic (ft. SyvaLine)

“Kehidupan itu dipenuhi dengan berbagai ketakutan. Ketakutan itu berakhir ketika anda sudah tak bisa menikmati kehidupan itu lagi.”

~ReeShiragami a.k.a A. Gusti

Layaknya sebuah pelangi di atas sana. Kehidupan memiliki berbagai warna yang menghiasi bagi orang-orang yang merasakannya. ‘Warna kehidupan’ tidak lain adalah ’emosi’ atau yang lebih sering disebut dengan ‘perasaan’.

Namun, berbagai ‘warna kehidupan’ itu memiliki musuh sejati. Bak cahaya melawan kegelapan. Kedua hal ini sama sekali tidak dapat disatukan. Ia bernama ‘logika’.

Perasaan adalah kata hati anda terhadap apa yang anda pikirkan, rasakan, dan dengarkan. Seperti anda merasakan bahagia terhadap sesuatu yang menyenangkan ataupun anda merasa kecewa terhadap sesutu yang anda harpkan. Pemikiran inilah yang membuat hal yang sebenarnya irrasional menjadi sebuah hal yang rasional.

Sedangkan logika adalah sebuah pemikiran yang berdasarkan sebuah alasan yang masuk akal. Seperti anda memikirkan tentang menghitung luas dan keliling suatu bangun, atau seperti anda berpikir tentang bagaimana sebuah bangunan dapat berdiri dengan kokohnya. Semua itu adalah pemikiran yang benar-benar dihitung dengan alasan yang masuk akal dan berasal dari otak anda sendiri. Hal yang irrasional akan tetap menajdi hal yang irrasional di pemikiran ini.

“Two things that separated but almost the same thing”.

~SyvaLine

Tiada satupun manusia yang dapat hidup tanpa salah satu dari kedua pemkiran ini. Mungkin akan menimbulkan pertanyaan tentang, “Lebih baik mana seseorang memetingkan perasaannya ataukah seseorang mementingkan logikanya?”

Well, tiada seorang pun yang tidak condong terhadap salah satu dari kedua pemikiran ini. Namun yang pasti, seseorang dikatakan lebih baik jika selisih presentase antara kedua pemikiran ini sangat sedikit. Keadaan itu sangat langka dikarenakan antara logika dan perasaannya hampir seimbang. Lalu…

Bagaimanakah dengan kalian?

Created : ReeShiragami (Feelings Team) and SyvaLine (Logics Team)