“Butuh waktu bertahun-tahun untuk seseorang membangun sebuah kepercayaan kepada orang lain.”
~Reeshiragami a.k.a A. Gusti
Ruangan putih ini telah menjadi tempat istirahatku selama beberapa hari terakhir. Bau infus yang selalu hadi di tiap detiknya membuatku merasa tidak kesepian. Ditambah sebuah jendela kaca yang menghadap arah barat, ruangan persegi ini tidaklah membosankan.
Saat ini, aku tengan menatap matahari yang terbenam di ufuk barat sana. Menikmati senja tanpa arti. Menghabiskan waktuku tanpa syarat. Namun, bagaimana, ya? Terkadang aku ingin berari di luar sana. Merasakan persahabatan yang hangat itu. Bukan hanya terkurung lemah disini.
Saat berpikir hal itu, mataku berkaca-kaca. Mengenang semua harapanku yang beralhir degan kekecewaan. Terasa sangat sakit, tapi sama sekali tak berdarah. Membekas pada senyuman dan tawaku saat itu. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada tuhan yang memperbolehkan umatnya berbohong. Jika tidak, aku tak tahu lagi bagaimana caraku menyembunyikan rasa kecewaku.
Tanpa kusadari, air mataku telah mengalir melalui pipiku. Saat kutanya apa alasannya, tangisanku semakin menderas. Aku terpaksa menutup mataku dengang= kedua tanganku. Mencoba menenangkan diriku sendiri. Ah, lemahnya diriku.
Suara pintu decitan pintu yang terbuka, mengejutkanku secara tiba-tiba. Dengan seggera, aku mengusap air mata yang membasahi pipiku menggunakan telapak tanganku. Tidak. Tidak boleh ada yang mengetahui bahwa aku sedang terpuruk.
Seorang remaja lelaki terlihat masuk dari balik pintu berwarna cokelat itu. Ia masih mengenakan seragam sekolah beserta tas pundaknya. Salah satu tangannya membawa sebuah tas plastik kecil.
“Yo! Asaya.” sapanya padaku. Menutup kembali pintu yang telah ia buka.
“Ah, Misaki. Selamat sore.” balasku.
“Bagaimana keadanmu? Sudah membaik?”
Aku mengalihkan pandangan. “Ya…. Begitulah.”
“Begtu, ya….” Diam sejenak. “Oiya, ini kubawakan roti melon kesukaanmu.”
Dia menyodorkan tas plaastik kecil itu kepadaku. Aroma khas roti tersebut membuatku lapar seketika. Akupun menerima plastik kecil tersebut.
“Terima kasih, Misaki. Kau selalu perhatian padaku.” godaku padanya. Menurutku dia wajar perhatian kepadaku, karena kami adalah teman masa kecil. Belum lagi rumah kami yang saling bertetangga. Intinya banyak faktor yang membuatku dekat dengannya. Jadi tidak heran kami selalu bercanda satu sama lain.
“Lalu, mengapa kau menangis?”
“Eh?” Suaraku tercekat. “Ba-Bagaimana kau tahu?”
“Di mataku. Kau adalah pembohong yang buruk, Asaya.” katanya dengan santai. Menarik sebuah kursi ke samping ranjangku. “Jadi bagaimana jawaban pertanyaanku tadi? atau haruskah kuulangi pertanyaanya?”
Aku menelan ludah. Misaki adalah counter-ku dalam melakukan suatu hal. Seakan-akan dia selalu mengawasi gerak-gerikku selama ini. Berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya adalah hal yang sia-sia.
“Aku tidak apa-apa, hanya saja…. Aku sedikit mengenang masa lalu…. Tidak ada yang perlu Misaki khawatirkan, kok….” jelasku sambil menunduk. Sungguh, aku tidak apa-apa… Tapi mengapa rasanya sakit?
Tiba-tiba air mataku berderai lagi. Mulai membasahi pipiku yang sebelumnya telah kering.. Misaki hanya duduk diam memperhatikan.
“Aku hanya ingin merasakan persahabatan yang hangat itu. Apa harapanku terlalu tinggi?” lirihku di sela-sela isak tangis.
Sejenak percakapan kami hilang. Hanya isak tangisku yang menghiasi seluruh tempat pada ruangan putih ini. Misaki hanya menatapku, sembari terkadang menghela nafas panjang.
Aku benci ini. Sangat benci. Bagian terpurukku diketahui oleh orang lain. Tapi aku lebih benci lagi, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tangisku menderas.
Di saat kesedihan masih melekat pada hatiku, remaja lelaki tersebut tiba-tiba merangkulku yang tengah terduduk putus asa. Mendekap mukaku pada pundaknya. Membuat ar mataku membasahi seragam miliknya.
“Jika kau kesepian, aku selalu ada.” bisiknya kepadaku. “Kekecewaan akan selalu datang dari sebuah harapan. Lazimnya seorang manusia akan selalu berharap. Itulah alasan mengapa kekecewaan tidak bisa hilang dari kehidupan ini. Bukankah kalimat itu yang selalu menguatkanmu selama ini, Asaya?”
“Tapi…. Ini tidak adil.” belaku. Berusaha menanhan air mataku agar tidak jatuh lebih banyak lagi.
Ia tidak menjawab sepatah katapun. Tapi dia mempereratkan rangkulan kami. Seakan-akan aku tidak boleh pergi atau bergerak sesentipun. Dia meranagkulku demikian hingga isak tangisku tidak terdengar lagi.
Setelah rangkulan kami terlepas, aku merasa agak lega. Tangisku tang mereka juga membuatku lebih dapat berpikir denganjernih. Sekaligus nafasku lebih teratur.
“Maaf sejujurnya aku tak bisa membantumu….” lirih pelan Misaki. Aku tertawa pahit. Tentunya aku tidak mengharapkan bantuan dari lelaki tersebut.
“Tapi aku benci jika kau menangis lagi. Jadi aku akan selalu menemanimu.” lanjutnya. Diam sejenak.
Saat aku akan melanjutkan pembicaraan. Toba-tiba Misaki tertawa pelan. TAnpa ada alasan apapun, membuatku bertanya-tanya apa yang ia tawakan.
“Benar-benar naifnya diriku ini. Tapi memang benar, tak bisa kuingkari lagi” ucapnay sambil terkekeh pelan. Sepersekian detik kemudian tawanya mereda. Disusul dengan munculnya mega merah senja di cakrawala barat sana..
Remaja lelaki itu tersenyum menatap diriku yang tengah kebingungan.
“Sebenarnya, Aku menyukaimu, Asaya.”
“Kakau menyukaiku?” ucapku terbata-bata.
Ya…. Aku ingin melindungimu sekaligus menemanimu. Aku tidak mau kau menangis lagu. Jadi maukah engkau menjadi kekasihku?” katanya dengan lepas. Benar-benar tanpa beban sedikitpun.
Ah, um, aduh. Akutak bisa berpikir jernih. Tapi apa, ya, namanya? Saatku mendengar kata-kata itu, perasan dari Misaki seutuhnya sampai kepada diriku. Seperti ada sebuah ikatan yang menghubungkan diriku dan remaja laki-laki itu. Membuatku tidak kesepian lagi. Dia benar-benar menemaniku. Jujur saja, aku tersentuh oleh perasaanya itu.
Aku tersenyum penuh arti. “Tentu saja aku ma-“
Tidak. Tidak rasa ini lagi. Aku benci rasa ini.
Sebelum menyelesaikan kalimatku, mataku terbelalak. Sepersekian detik kemudian menjalar rasa sakit di seluruh dadaku. Kedua tanganku langsung mencengkram keras are yang terasa sakit tersebut. Berharap rasa sakit tersebut menghilang. Tapi jangankan mereda, rasa nyeri ini malah bertambah sakit seiring berjalannya waktu. Misaki yang panik mencoba menekan tombol darurat berulang kali agar dokter segera datang.
Aku mulai mengerang kesakitan. Rasa sakit ini membuatku tidak merasakan nafasku sendiri. Kepalaku terasa sangat berat. Mataku mengerjap-ngerjap. Pandangaku mulai terasa blur.
“Asaya!! Bertahanlah!!”
Ah, suara Misaki, ya? Diluar sana juga ramai terdengar derapan kaki. Ah, tenaga medis, ya? Tapi….
“Maaf…. Misaki…” lirihku di tengah eranganku.
Gelap.
Terimakasih telah membacanya, semoga anda menantikan blog-blog saya selanjutnya 🙂