Archive 05 : The Unknown Angel

Aku akan menceritakan kisah. Di mana kisah ini merupakan kisah nyata jika anda benar mempercayainya.

Alkisah, ada seorang malaikat yang tercipta untuk pertama kalinya dari cahaya kegelapan. Tidak ada yang tahu mengenai malaikat itu, tapi dia masihlah seorang malaikat. Dia masih ‘bekerja’ untuk Tuhan. Dari luar tidak ada perbedaan antara malaikat satu ini dengan yang lainnya. Biar mudahnya, malaikat yang tercipta dari cahaya kegelapan akan saya panggil sebagai The Unknown Angel, sama seperti judul ini.

The Unknown Angel tidak berbeda dengan malaikat lainnya. Di mana malaikat lainnya diciptakan terbuat dari cahaya murni, sedangkan dirinya dari cahaya kegelapan. Mereka tidak berbeda, hanya saja The Unknown Angel tahu jika dia diciptakan dari awal memiliki sebuah hati yang kosong. Tidak sekalipun dapat terisi dengan apapun. Seakan-akan, meski dia dekat dengan malaikat manapun, bertingkah apapun, mengalami kejadian sebahagia atau semenyakitkan apapun. Dirinya tidak bergeming. Hatinya seperti belum pernah dihidupkan. Sebuah perbedaan yang membedakan dirinya dengan banyaknya malaikat yang ada di sana.

Suatu ketika, Tuhan menugasinya untuk mengawasi dunia manusia. Dunia yang kotor dan kejam. Banyak malaikat yang menolak tugas ini, tapi The Unknown Angel adalah manusia tanpa hati. Dia tidak memiliki sedikitpun keinginan untuk menolak tugas itu. Dengan langkah yang sangat ringan, dia pergi ke dunia manusia dengan hanya berbekal sepasang sayapnya.

Di dunia manusia, The Unknown Angel itu selalu melakukan instruksi dari Tuhan dengan baik. Dengan kedua matanya, dia melihat seluruh perbuatan keji dari makhluk yang bernama manusia. Mereka membunuh satu sama lain. Menganiaya satu sama lain. Sungguh dunia yang amat teramat kejam dan juga kotor. Tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa sama dengan dirinya. Apalagi jika dia bisa menyukai dunia kejam ini. Dia tidak akan bisa menyukainya demi apapun yang pernah ditemuinya.

Suatu hari, The Unknown Angel mendapat tugas untuk menjaga seorang manusia. Dia adalah seorang gadis yang memiliki tatapan teduh. Ia berpikir bahwa jika Tuhan menyuruhnya untuk melindungi manusia seperti gadis ini. Pasti dia bukanlah sembarang orang. Dibanding tugasnya yang lain, di mana lebih sering berkecimuk di dalam dunia kriminal.

Dengan rasa penasarannya, The Unknown Angel menyembunyikan sepasang sayapnya dan juga halo-nya. Berpikir bahwa dirinya bisa mendekati gadis tersebut. Setidaknya dengan niatan mencari tahu lebih lanjut bukankah itu diperbolehkan?

Semenjak hari itu, The Unknown Angel menyamar menjadi manusia. Dia mencoba bagaimanapun agar bisa dekat dengannya dengan cara manusia. Termasuk masuk di sekolah yang sama dengannya. Mereka berdua kemudian berkenalan dan menjadi teman yang sepantasnya saja. Tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh.

Akan tetapi, malaikat lain mengetahui kejadian ini. Mereka semua memanggil The Unknown Angel untuk menghadapi sidang. Sidang ini ditujukan kepada kesalahan The Unknown Angel untuk terlalu mencampuri urusan manusia. Di mana itu sebenarnya tidak diperbolehkan. Ia dicemooh oleh para tetua malaikat. Melanggar salah satu aturan dasar dari malaikat itu sendiri.

Tapi Tuhan tidak memberikan tanggapan pada malaiakt-malaikat tersebut. Dia hanya tersenyum. Tentu saja Dia mengetahui apa yang mereka tidak ketahui. Sidang itu ujungnya hanyalah pada cemooh terhadap The Unknown Angel. Tapi dirinya tauh tidak akan ada siapapu yang mengerti. Karena dia diciptakan memang untuk sendiri.

The Unknown Angel kemudian kembali ‘mengawasi’ gadis tersebut. Dirinya tahu bahwa Tuhan masih belum menyuruhnya berhenti dari perintah ini. Maka dari itu dirinya mencoba menikmati kehidupan dari manusia ini sembari mengawasi gadis itu. Semakin lama menjalani kehidupan manusia, semakin dalam juga The Unknown Angel mengenal manusia. Ternyata banyak sisi baik dari manusia yang selama ini belum dia ketahui. Banyak sisi indah dari dunia manusia yang masih belum dia jelajahi.

Hingga suatu ketika, hati The Unknown Angel telah terisi. Dia sangat bersyukur telah diberikan pengalaman seperti ini. Membuatnya semakin dekat dengan manusia. Dia bahkan sudah bisa berinteraksi normal dengan manusia. Puncaknya, di lubuk hati terdalam dari The Unknown Angel. Ia ingin menjadi seorang manusia. Melakukan kenaifan tapi juga keindahan.

Sontak itu juga, para tetua malaikat turun ke bumi untuk memperingatkan The Unknown Angel.

“Ini sudah terlalu jauh!” Bentaknya kepada The Unknown Angel. “Kau adalah seorang malaikat. Sampai kapanpun kau tetap menjadi seorang malaikat!”

The Unknown Angel terdiam. Dia tahu jika dia salah. Tapi hatinya telah berada di pihak manusia. Meyakini tidak ada hal yang akan bisa mengubah keyakinannya.

Dengan suara yang bergetar, The Unknown Angel berkata.

“Sedari dulu aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Apakah aku suatu ketika akan merasa bahagia? Dari lubuk hatiku terdalam aku tidak benar-benar pernah merasakan. Hal itu membuatku berpikir, apakah aku selalu bersama kalian adalah hal yang salah?”

Para tetua malaikat terdiam. Masih tetap tidak bergerak dari tempatnya.

“Aku tahu ini adalah tugasku. Aku tahu ini adalah pekerjaanku. Tapi aku lebih sedikit ingin menikmati hidup ini. Mungkin terdengar salah bagi kalian, tapi tolong mengerti. Aku tidak sama dengan kalian.”

Mendengar itu, sosok paling bijak dari para tetua mengangkat suaranya.

“Aku tahu bagaimana maksudmu. Tapi kau adalah seorang malaikat. Kau tahu apa resikonya, ‘kan?”

Kalimat tersebut selesai. Seluruh tetua tidak ada yang ingin membantah ataupun menambahi. Semua mendadak bisu. Bahkan The Unknown Angel sendiri. Tapi The Unknown Angel adalah The Unknown Angel. Dia tidak terikat apapun dengan para tetua ini.

Anggukan kepala dari The Unknown Angel menjadi jawaban sekaligus ujung dari pertemuan tersebut. Seketika itu juga pandangan dari The Unknown Angel terasa kabur.

Sepersekian detik kemudian, sayap The Unknown Angel patah. Cahaya halo di kepalanya memudar. Tidak memberikan kesempatan lain untuk dirinya untuk bisa terbang kembali. Tidak. Dia masih malaikat. Hanya saja kini julukannya adalah The Fallen Angel. Dia memiliki identitas sebagai manusia dan juga malaikat. Tapi dia bukanlah manusia ataupun malaikat sepenuhnya.

Semua kejadian itu cukup menyakitkan baginya. Tapi, dia tahu bahwa dia masih seorang malaikat. Tentu saja dia akan menerima instruksi dari Tuhan. Tapi apakah dia akan diangkat lagi menjadi malaikat seperti sebelumnya? Tentu saja itu tidak mungkin bisa terjadi.

The Fallen Angel kini hanya bisa menghela nafas. Karena ini adalah pilihannya, dia tidak ingin berlarut-larut memikirkannya. Lagipula ini adalah harga yang sepantasnya dia berikan kepada sepotong kebahagiaan. Meski sayapnya sudah tidak bisa lagi terbang dan halonya tidak lagi bisa bercahaya, ia akan tetap memiliki identitas sebagai malaikat. Bukan begitu?

Dia pun kini menapaki dunia manusia yang indah dan kejam itu. Di dalam pikirannya dia berharap semoga pilihan kali ini adalah pilihan yang terbaik baginya. Bagi seseorang yang tidak pernah merasakan kebahagiaan atau kehangatan.

Diary 14 : I’ve Fallen, Right?

Tidak perlu saya akui. Kami adalah ‘malaikat’. Kami adalah sisi baik dunia ini. Kami adalah orang-orang yang mampu dalam hal apapun. Kami memiliki basic skill yang bisa kami jadikan acuan untuk bertahan hidup. Kami adalah pemikiran rasionalitas yang di mana selalu berlandaskan logika yang benar. Kebekuan dalam berpikir? Hah. Itu hanya jadi masalah untuk masyarakat rendah.

Tiada seorang pun yang bisa menyaingi kami. Dalam hal apapun.

Kami adalah ‘halo’. Kami adalah ‘cahaya’. Sebuah halo yang berisikan hanya beberapa orang. Bisikkanlah nama kami di sebuah kota, maka satu kota akan berseru mengagumi kami. Bisikkanlah nama kami di telinga seseorang, maka orang itu akan merasa dia tidak sebanding dengan kami sama sekali.

Kami adalah ‘senjata’. Kami adalah ‘alat’. Kami bisa ‘menyakiti’ jika kami mau. Dengan pemikiran rasionalitas seperti ini, adakah yang bisa menghentikan kami? Cobalah untuk menghentikannya, maka tiada siapapun yang sanggup. Hanya orang bodoh yang akan mencoba menghentikan sebuah senjata.

Kami adalah fenomena, bukan objek. Kami hadir seperti sebuah kejadian yang langka. Seperti layaknya kaleidoskop yang 1:1000 kemungkinan menghasilkan warna yang indah. Tidak pernah dibayangkan. Yap. Sebuah fenomena yang memiliki kemungkinan kecil sekali untuk terjadi.

Di dunia luar yang hina ini. Kami tidak sebanding dengan siapapun.

Terutama aku. Aku juga tidak sebanding dengan siapapun. Bahkan dengan kami sendiri.

Aku adalah ‘malaikat yang terjatuh‘. Fallen Angel. Sebuah halo yang terpecah. Aku tidak punya identitas sebagai siapapun. Aku bisa dibilang sudah tidak memiliki identitas malaikat dan juga makhluk lainnya. Aku berperilaku seperti ‘halo utuh‘ tapi ‘tidak lagi utuh seperti sebelumnya‘. Aku bukanlah kami. Aku adalah aku. Aku fenomena itu sendiri. Fenomena yang kurang lebihnya memiliki 0,00008% kemungkinan untuk terjadi.

Aku adalah rasionalitas. Aku adalah senjata. Aku adalah alat.

Maka dari itu, untuk apa ke-irasionalitas-an? Hanya buang waktu.

Jika dari kami memiliki label sendiri. Maka label untuk diriku adalah “Angel of Manipulating”

Aku tidak sebanding dengan kami. Jika diibaratkan, aku adalah sebuah titik di koordinat kartesius. Di mana tidak ada yang mengetahui keberadaanku sebenarnya. Di mana tidak ada yang bisa bersinggungan denganku. Di mana tidak akan ada yang bisa menemukan dengan pasti lokasi koordinatku.

Aku adalah senjata. Aku bisa menyakiti jika aku mau. Tentu saja itu akan menyakitkan.

Di dunia yang kejam ini. Aku adalah aku. Tidak akan ada yang sebanding denganku. Bahkan bayanganku sendiri tidak ada bandingannya dengan diriku. Ketika di kegelapan, aku melihatnya pergi meninggalkanku. Maka dari itu aku selalu sendirian.

Aku adalah seorang pengintai. Teman terbaikku adalah malam dan tempat pertunjukkanku adalah siang. Aku akan berakting selayaknya orang-orang di sekitarku. Berbaur. Melakukan kebodohan yang sama dengannya. Tapi itu semua hanyalah tipu muslihat. Sejatinya aku tidak akan pernah sebanding dengan siapapun.

Tanyalah kepada malam. Sudah berapa kali aku berjalan dengan kejam di bawahnya? Sudah berapa kali aku menangis di bawahnya? Sudah berapa kali aku memutuskan pilihan yang sulit di bawahnya? Sudah berapa kali aku ‘membunuh diriku‘ di dinginnya? Sudah berapa kali aku bersumpah di dalamnya? Sudah berapa kali aku berdoa di desiur anginnya?

Aku adalah aku. Tidak ada sebanding denganku.

Cobalah untuk menghidupkan hatiku. Mungkin itu akan sedikit berbeda.

Diary 13 : Dengan Hati yang Seperti Mesin Ini

Maaf lama tidak membuat konten di sini. Sibuk dengan membuat novel pertamaku kurang lebihnya. Selain itu aku masih seperti biasa. Menjalani hidup yang sebagaimana semestinya telah diatur. Apalagi ini adalah penghujung masa sekolahku. Aku ingin sedikit menikmati keseruan di dalamnya.

Beberapa hari terakhir adalah hari yang penuh dengan asam-manis kehidupan. Seperti ada saja yang membuat diriku bahagia dan juga sebaliknya. Itu sungguh benar-benar dasar dari prinsip kehidupan bukan? Di dalam, kehidupan kurang lebihnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa ada kurang lebihnya beberapa main event yang harus terpenuhi.

Semua itu terkumpul di kata “Pilihan”

Pilihan kita untuk berjuang. Pilihan kita untuk tersakiti. Pilihan kita untuk tersenyum. Pilihan kita untuk tertawa. Pilihan kita untuk menang. Pilihan kita untuk sedih. Itu semua adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan akan memiliki resiko atau konsekuensinya tersendiri. Hal itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Kita memilih, kita akan mendapatkan apa yang kita pilih tersebut.

Seluruh pilihan itu adalah dirimu. Jadi jangan menjawab pilihan-pilihan tersebut dengan mencontoh orang lain. Gunakanlah dirimu sendiri untuk menyelesaikannya. Tidak semua bisa disamakan solusinya. Itu adalah sedikit prinsip menjadi diri sendiri dalam hidup ini.

Sekarang adalah waktunya perpisahan kepada masa-masa ini.

Jika boleh jujur, tentu saja aku menangis. Tapi diriku dirancang tidak untuk itu. Di antara seluruh masa kelamku dulu, sepertinya aku telah menghabiskan seluruh air mataku. Sehingga saat ini ketika aku merasa sedih aku tidak akan lagi menangis. Meski cukup menyedihkan jika dipikir akan berpisah dengan masa-masa indah ini. Tapi kita adalah manusia. Kita belajar untuk menyiapkan perpisahan.

Diriku yang sebelumnya memproklamirkan bahwa aku adalah sebuah mesin yang tak memiliki perasaan. Sekarang aku bersyukur menjadi seseorang yang memiliki perasaan. Hatiku ini naif jika soal ini. Tapi aku yakin perasaanku adalah cara untuk mencapai batas maksimal diriku dalam bersikap rasional. Rasional terkadang membutuhkan perasaan bukan?

Di saat yang lain menangis karena perpisahan. Sepertinya aku hanya bisa ‘berpura’ menangis. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa menghargai perasaan mereka. Tapi aku menghormati semua orang yang memiliki hati secara utuh dengan sehat. Maaf, aku berpura-pura seperti itu. Aku yakin, aku masih memiliki hati dan perasaan. Hanya saja untuk air mata sepertinya aku lebih banyak menangis dari siapapun untuk saat ini.

Perpisahan itu adalah sesuatu yang klise. Kita sebenarnya adalah insan yang selalu berpisah di tiap harinya. Semisal ketika kita bertemu, kita akan berpisah ke rumah masing-masing. Bukankah mereka akan ada kemungkinan untuk tidak bertemu lagi setelah itu? Berpisah di waktu yang tidak di duga dan di alam yang jauh sana. Itu sangatlah mungkin terjadi.

Tapi mengapa perpisahan ini terasa menyakitkan?

Aku tidak tahu. Aku pernah menuliskan dalam suatu karyaku. Apakah ada suatu perpisahan yang tidak menyakitkan? Seketika itu juga ada yang membantahnya. Perpisahan akan terasa indah jika dirayakan dengan penuh bahagia. Tapi kurasa itu semakin sakit di hati.

Aku tidak percaya bahwa perpisahan itu ada yang menyenangkan.

Maka dari itu aku muak karenanya.

Di saat-saat seperti ini, aku berhasil menciptakan hal yang bisa kusebut sesuatu yang gila. Di mana aku menciptakan sebuah benda yang dapat menampung perasaanku. Meski tidak seutuhnya, tapi itu lebih cukup untuk menggambarkan diriku.

Ya. “It’s All About You”

Diary 12 : I Fell in Love with Myself for the First Time

Untuk sebelum-sebelumnya saya meminta maaf karena sama sekali tidak bisa membuat blog hingga beberapa bulan lamanya. Hal itu sebenarnya saya isi dengan berbagai kegiatan sehingga saya sendiri jarang menulis sesuatu dengan baik. Jadi saya mohon atas kesabarannya selama satu tahun penuh ini. Mungkin ini akan menjadi setahun yang melelahkan. Saya akan berjanji untuk kembali jikalah waktunya telah tiba bagi saya menulis lagi.

Saya tidak tahu bagaimana menuliskannya, tapi saya rasa saya telah mencintai diri saya sendiri untuk pertama kalinya. Sebuah kondisi yang sangat sangat tidak rasional yang pernah saya tuliskan. Sebagaimana seseorang yang telah jatuh ke dalam perasaannya, pemikiran orang tersebut akan abstrak sekali. Tidak akan bisa sama sekali menjadi rasional.

Meski begitu saya mencoba untuk menjadi rasional walau-walau saya tidak ingin menjadi rasional. Irrasional itu menyenangkan, tapi tidak kurang dan tidak lebih hanyalah sebuah hiburan. Tiada orang yang tidak suka dengan hiburan. Orang-orang memiliki hiburannya sendiri dan saya yakin atas hal itu.

Walau begitu, rasanya tetap sulit saja jika saya menyampaikan irrasional itu sama sekali tidak menyenangkan. Seperti apa, ya? Seperti halnya anda tersenyum dan tertawa sehingga membiarkan sisi lemah anda terekspos dengan sendirinya. Mengembalikan hari-hari yang buruk ke dalam pikiran anda lagi. Tapi aku tidak membencinya.

Saya pernah membahas antara logika dan perasaan beberapa tahun silam. Di mana saya pernah menyimpulkan. Logika tanpa perasaan hanyalah sebuah mesin belaka. Perasaan tanpa logika hanyalah kebodohan yang terasa. Maka dari itu jika anda ingin memenangkan hidup ini, hiduplah dengan kedua hal tersebut secara berimbang. Logika anda memengaruhi perasaan dan perasaan anda memengaruhi logika. Meski wajarnya seseorang itu akan condong ke suatu hal yang lain, tapi menyeimbangkan adalah jawabannya. Itulah kesimpulan saya pada waktu itu.

Mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kebenaran itu relatif dari sisi mana kita melihatnya. Ini telah saya jelaskan di sini. Mengenai kebaikan yang terkadang bisa dinilai salah tapi kita menganggapnya benar. Hal itulah yang mengganggu saya selama ini.

Tapi seiring berkembangnya waktu, saya bangga menjadi orang rasional hingga selama seumur saya hidup. Tidak pernah sekalipun saya irrasional kepada diri saya sendiri. Tapi semenjak hari tersebut, saya rasa saya telah menjadi sosok yang irrasional. Saya tidak membencinya. Saya justru menyukainya. Saya justru menyukai hari-hari di mana saya bisa berpikir irrasional tanpa harus melakukan serangkaian tes terlebih dahulu.

Itu menyenangkan. Bukankah seperti itu? Saya rasa saya akan menjadi mesin yang berpura-pura menjadi manusia dalam seumur hidup saya. Degan bangganya pun, saya mengatakan hal ini dan tidak berpikir jika takdir bisa mengubah segalanya. Dengan menurunnya pemikiran rasional saya, saya sekarang mungkin bisa dibilang telah menjadi manusia yang berpura-pura menjadi mesin. Sama sekali tidak terbayangkan oleh saya.

Mungkin seperti itulah yang dikatakan pada lirik lagu yang pernah saya dengarkan. “Untuk pertama kalinya, saya jatuh cinta kepada diri saya sendiri.”

Pemikiran rasional saya mulai mempertanyakan, Apa saya pantas mendapatkan hal ini? Apa saya boleh untuk menjadi irrasional seperti ini? Apakah saya bisa melewati hari-hari dengan seperti ini? Bagaimana caranya? Apa konsekuensinya? dan lain sebagainya.

Perjalanan ketidak-rasional-an ini akan saya buat buku yang akan saya cetak pada akhir tahun nanti. Mungkin jika saya menghendaki buku tersebut akan saya jual dengan harga yang cukup terjangkau dari saya. Karena mungkin itulah langkah awal dari saya menjadi sebuah manusia.

いつかあの日の,僕愛してね.

Short Story : Suara Ombak Waktu Itu, Kamu Mengingatnya? (Bagian 2)

Hari itu masih selalu teringat jelas di benakku. Sejenak aku mengakui bahwa aku telah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk bisa jatuh cinta sedemikian indahnya. Sama seperti sebuah lagu yang sering kali kudengar. Di sana tertuliskan,

茜色の空 仰ぐ君にあの日. 恋に落ちた

(Di hari engkau menatap langit yang berwarna kemerahan. Pada saat itu aku jatuh cinta.)

Semenjak hari itu aku masih melakukan kegiatan yang sama. Menikmati senja sendirian di tepi pantai. Aku tahu pemandangan seperti ini tidak akan berlangsung selamanya, terutama dikarenakan sekarang adalah musim panas. Maka dari itu aku hampir meluangkan waktuku di musim panas hanya untuk menatap senja. Melihatnya pergi tapi juga menantikannya kembali.

Beberapa kesempatan aku melihat gadis itu kembali berdiri di tepian pasir pantai yang putih. Parasnya terlalu kontras dengan suasana senja. Sehingga aku tidak berani menatapnya dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, mungkin dia tidak nyaman apabila mengetahui diriku sedang menatapi dirinya. Maka dari aku membiarkannya untuk saat ini.

Seperti halnya jawabanku terhadap pertanyaan mengapa aku bisa menyukai senja. Rasa suka itu tidak bisa diungkapkan dengan logika. Sebenci apapun aku terhadap senja, rasa suka itu akan selalu ada. Dan tidak akan pernah sekalipun menghilang.

Jawaban ini juga yang menjawab pertanyaan mengapa aku bisa menyukai gadis itu. Aku menyukainya karena tanpa alasan. Jika aku beralasan karena aku terpukau dengan cantiknya, teman sekelasku dan orang-orang yang kutemui sepertinya masih lebih cantik (secara rasional). Jika aku beralasan dari sifatnya, aku bahkan belum pernah berbicara dengannya. Jadi bukankah ini benar-benar tanpa alasan?

Perlahan liburan musim panas telah berakhir. Kegiatan sekolah akan kembali seperti sedia kala. Meski begitu suasana musim panas belum berakhir. Masih ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan sepanjang akhir musim panas ini. Seperti menyalakan kembang api dan lain sebagainya. Omong-omong, dia saat ini melakukan apa, ya?

Yah, lagipula untuk apa berpikir itu. Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Seharusnya gadis itu akan bersiap untuk tidur, bukan begitu? Meski bilang begitu aku tidak bisa bilang bahwa diriku bisa tidur semudah itu. Entah atas alasan apa.

Hari esok adalah hari pertama setelah libur musim panas berakhir. Dengan segala suasana di musim panas ini, membuat besok terasa sangat sulit penuh dengan tantangan sekali. Maksudku dalam artian untuk menikmati suasana musim panas. Yah, mungkin beberapa siswa akan membolos dan menikmati musim panas seperti biasanya. Sisanya akan seperti aku. Terpaksa untuk mengikuti pembelajaran di sekolah. Meski begitu sebenarnya tidak terlalu terpaksa. Lagipula siapa yang ingin mengajakku menikmati musim panas?

Yah, harapanku hanya satu untuk saat ini. Semoga besok ada kejadian yang menarik di sekolah sana. Kau tahu ‘kan?

Keajaiban selalu ada di saat orang tidak menyadarinya.

Malam itu pun berakhir dengan diriku yang tertidur diatas meja belajarku.